MENJAGA KESINAMBUNGAN DALAM BERAMAL

 

JIC – Memulai sebuah amal saleh adalah hal yang baik. Tetapi, menjaganya agar tetap menjadi bagian hidup kita, itu jauh lebih baik.Betapa banyak orang yang telah berusaha melakukan ibadah, baik ibadah wajib maupun sunah, tetapi setelah itu kembali ditinggalkan. Hal ini tak ubahnya seperti orang yang menanam benih, tapi kemudian ia mengabaikan begitu saja.

Tak pernah dirawat, tak pernah disiram, tak pernah dipupuk, dan tak pernah disiangi. Maka, tak usah heran jika kemudian benih itu hanya sempat berkecambah, lantas setelah itu mati. Padahal, si benih sangat potensial untuk tumbuh menjadi pohon yang besar dan memberikan hasil. Apalagi jika dijaga dan dirawat dengan baik.

Seperti itulah dengan amal kita. Merawat amal adalah mengerjakannya secara kontinu, terus-menerus, dan tak terputus-putus. Istiqamah, kita mengenalnya.Begitulah pentingnya menyinambungkan amal. Membuatnya tetap ajek hingga ia menjadi bagian tak terpisahkan dari pribadi kita. Suatu ketika Rasulullah SAW mengabarkan kepada para sahabat bahwa bunyi terompah Bilal RA sudah terdengar di surga. Padahal, orangnya masih hidup.

Ternyata amal’sederhana’yang dilanggengkan Bilal-lah penyebab nya. Dia senantiasa melaksanakan shalat sunah dua rakaat setiap selesai berwudhu.Kelihatannya ringan, sepele. Hanya shalat sunah dua rakaat. Apa istimewanya? Demikian pertanyaan kita.Bahkan, sepertinya kita pun mudah melakukannya. Memang. Tetapi faktor kesinambungannya itulah kuncinya.

Istiqamah-nya Bilal yang menyebabkan amal yang ‘sepele’ itu menjadi kunci baginya untuk masuk surga. Subhanallah.

Adakah kita telah memulai menanam benih amalan sunah? Alhamdulillah, jika sudah. Kita bersyukur kepada Allah SWT atas karunia-Nya. Tetapi, adakah kita kemudian merawatnya agar amal itu berkekalan, seperti halnya Bilal RA? Karena ternyata Allah SWT lebih mencintai amal yang berkesinambungan.

Satu amalan yang kita dawam-kan, sejatinya bukan hanya pahala dari amal itu saja yang ingin kita dapatkan. Tentu kita pun berharap bahwa amalan yang telah kita rintis itu menjadi ‘pemancing’ bagi amalan-amalan lain yang dicintai Allah SWT.

Dan yang terpenting, mudah-mudahan amalan-amalan tadi menjadi penyebab datangnya hidayah Allah SWT berupa turunnya keikhlasan ke dalam hati kita, agar kita tetap tawadhu dan tidak merasa bangga dengan amal-amal itu. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

three × 3 =