MENJAGA KONEKSI KITA DENGAN ALQURAN

JIC – Saat kita mencari sebaik-baik ruang untuk mendatangkan ilmu, Allah berikan hadiah terbaiknya dengan mendatangkan Al Qur’an sebagai obat dari segala macam obat untuk semua manusia di muka bumi. Segala aspek dalam kehidupan dapat kita temui dan telaah saat mendalami isi dari Al-Qur’an. Dalam mendalami isi dari Al Qur’an, tentunya tidak dapat kita lakukan seorang diri. Butuh sosok guru atau ulama untuk akhirnya dapat membimbing dengan sebaik-baiknya dalam proses pendalaman isi Al Qur’an.

Pada proses pemahaman makna dari Al Qur’an, tidak bisa kita sekadar mengerti tanpa kita menyerapi isi bahkan tidak sering untuk membaca kalam-Nya. Mukmin sejati adalah mereka yang senantiasa menciptakan dan menjaga keakraban mereka dengan Al Quran. Kalau kita harus “menjaga keakraban” dengan Al Qur’an, sudah pasti kita mesti menjaga interaksi Al Qur’an dengan membacanya setiap hari.

 Apakah ini berat?

Tentu berat bagi yang baru saja memulai. Ubahlah mindset kita untuk tidak menjadikan Al Qur’an itu sebagai penghalang aktivitas padat kita. Justru semakin banyak kita membaca ayat-ayatNya, maka semakin berkah kegiatan-kegiatan yang kita jalani pada hari itu.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk.”

(QS. Az-Zumar: 23)

Selain belajar merutinkan dalam membaca Al Qur’an, kita pun dianjurkan untuk dapat menghafal Al Qur’an. Begitu banyak ditemui dalam siaran stasiun televisi yang menghadirkan dai cilik yang ternyata seorang hafiz atau hafizah. Seharusnya pada umur kita yang sudah terlewat begitu banyak ini, malu melihat hal demikian dan lebih bersemangat untuk mengejar ridhoNya. Bersemangat untuk belajar dan menghafalkan Al Qur’an.

Luaskanlah hati kita untuk menerima Al Quran, yaitu senang ketika membacanya, bahkan baru membayangkan membaca Al Quran, kita sudah bisa merasa senang.

Al Quran adalah hidangan Allah ”

Menjaga interaksi dengan Al Qur’an butuh dibarengi dengan niat yang lurus. Niat untuk akhirnya memperbaiki diri, niat untuk menjaga hubungan baik dengan Allah. Sebab semakin baik hubungan kita dengan Allah maka Allah akan permudah hubungan baik kita dengan manusia. Maka mulailah bertekad untuk membersihkan hati kita yang masih jauh dari Al Qur’an. Mulailah meski pada awalnya keterpaksaan itu masih terus saja muncul dalam benak batin kita.

Karena butuh waktu untuk melawan penolakan dari nafsu kita yang mengajak untuk tetap berada di zona nyaman namun jauh dari Allah. Butuh membiasakan hal-hal yang baik agar itu bisa menjadi good habbits untuk diri kita sendiri.

Berinteraksi dengan Al Quran yang benar adalah meyakininya bahwa dengan membacanya mendatangkan keutamaan. Waktu-waktu untuk membaca Al Quran itu harus definitif, jika kita menunggu waktu kosong untuk membaca Al Quran, maka kita tidak akan mendapatkannya. Kitalah yang harus pintar-pintar menyelipkan setiap kekosongan hati kita dengan mencari Al Qur’an sebagai obat terbaik dalam menghilangkan segala resah dan gelisah.

Berinteraksi dengan Al Quran itu harus berulang ulang, tidak cukup dengan khatam sampai surat An-Nas lantas kita berhenti untuk membacanya. Justru dengan mengulang-ulang proses khatam tersebut yang memudahkan kita untuk menghafalkan isi dari Al Qur’an.

Orang yang membaca surat dalam Al Qur’an hingga seratus kali, dan ia masih belum hafal-hafal, ia tetap mulia disisiNya. Dibandingkan orang yang hanya membaca tiga kali lalu langsung hafal , karena tujuannya adalah berulang ulang bersama Al Quran bukan hanya sekadar mendemostrasikan kekuatan hafalannya.

Dengan menjaga interaksi kita dengan Al Qur’an, Allah akan ikut memudahkan segala rizki kita. Maka tidaklah ada kerugian disaat kita terus menerus menambah ayat setiap harinya untuk dibaca bahkan dihafalkan.

Tidaklah kita jauh dengan Al Quran kecuali ketika itu kita jauh dengan Allah.

Siapapun yang lelah untuk Allah di dunia ini maka Allah akan mencukupkan lelahnya di akhirat

Siapa yang tidak mau lelah di dunia untuk taat kepada Allah, maka ia akan merasakan lelah di akhirat.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kemudahan dan keridhoan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Semangat meraih ridhoNya.

Sumber : gomuslim.co.id

Write a Reply or Comment

twenty − 7 =