MINIMALISASI SERANGAN SIMBOL KEAGAMAAN, INI UPAYA POLRI

JIC,  JAKARTA — Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto mengatakan, kepolisian berupaya meningkatkan peran Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas). Hal ini sebagai upaya dalam menyikapi serangan pada sejumlah simbol keagamaan belakangan ini. Sayangnya, jumlah Bhabinkamtibmas dinilainya masih kurang.

Sekarang ini, kata Setyo, dibutuhkan Babinkamtibmas sekitar 70 ribu untuk seluruh desa di Indonesia. Sementara, Polri sudah menempatkan sekitar 50 ribuan. “Jadi kurang 20 ribuan lah,” kata Setyo di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa (13/2).

Saat ini, kata Setyo, satu Bhabinkamtibmas bisa saja membawai dua hingga tiga desa. Padahal, seharusnya, satu desa dijaga oleh satu Bhabinkamtibmas. Kekurangan personel untuk penempatan menjadi alasan pemberlakuan tersebut, apalagi di luar Jawa. Untuk itu, Polri berupa melakukan penambahan tersebut.

“Tapi saya yakin bahwa ke depan kita akan menempatkan satu desa atau satu kelurahan satu,” kata Setyo.

Proses tersebut, kata Setyo sudah dalam proses. Bhabinkamtibmas, kata dia, harus dilatih juga dia dilatih kemampuannya terlebih dahulu. Bhabinkamtibmas harus tanggap terhadap perkembangan situasi, mampu menjadi negosiator, kemudian mampu menjadi pemecah di masyarakat.

“Kalau ada masalah masalah yang tidak perlu maju ke pengadilan selesaikan secara kekeluargaan selesai di tingkat desa, nah kalau semuanya masuk ke pengadilan pemberian dipenjara penjaranya penuh,” kata Setyo menambahkan.

Beberapa kasus yang terjadi sebelumnya, terjadi kepada Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong). Ia menjadi korban penganiayaan usai Shalat Subuh di masjid pada Sabtu (27/1). Kemudian muncul kasus baru yang bahkan menyebabkan meninggalnya Komando Brigade PP Persis, Ustaz Prawoto pada Kamis (2/1) pagi.

Lalu, di Jakarta Barat, pada Ahad (11/1) kemarin, seorang Ustaz bernama Abdul Basit juga dikeroyok sekelompok pemuda. Kelompok pemuda tersebut, diketahui mengeroyok Abdul Basit karena alasan emosi. Beruntung, Abdul Basit tidak tewas.

Kemudian peristiwa penyerangan seorang pastur di Sleman, Yogyakarta, Ahad (11/1) lalu. Penyerangan itu menyebabkan Pastur Romo Karl Edmund Prier terluka bersama lima orang lainnya. Bukan hanya tokoh agama, tempat ibadah pun mengalami teror. Sebuah klenteng di Karawang, pada Ahad (11/2) mengalami ancaman bom. Kemudian, sebuah masjid di Tuban, mengalami kerusakan kaca pada Selasa (13/2) dini hari.

Sumber: Republika.co.id

 

Write a Reply or Comment

thirteen − 11 =