MUALAF DENNY, GEMETAR DAN PINGSAN MENDENGAR SUARA ADZAN (2)

Memasuki semester keempat, ia memiliki semakin banyak teman. Banyak di antaranya yang Muslimin. Sebagai pemuda yang kritis dan suka berpikir logis, ia sering mengajak beberapa kawannya untuk memperdebatkan iman atau agama. Ada seorang dari mereka yang kemudian mengusulkan, bagaimana kalau Denny sendiri bertemu dengan seorang ustadz.

Sebab, kata kawannya itu, pengetahuan tentang dasar-dasar agama dapat didengarnya melalui dai. Sederhana saja: tanyakanlah sesuatu kepada orang yang memang ahli dalam bidang itu. Maka, Denny pun menuruti anjuran temannya tersebut.

Sang kawan memperkenalkannya dengan ustadz yang dimaksud, sebut saja namanya Rahmat. Denny menangkap kesan, pendakwah ini suka dengan nuansa diskusi yang kritis. Baginya, ini suatu nilai tambah yang menyenangkan.

Denny pun mulai terbuka. Kepada Ustadz Rahmat, ia mengungkapkan, sebenarnya dirinya tidak berposisi menggugat eksistensi Tuhan. Ia meyakini bahwa Tuhan ada. Bahkan, m enurutnya, doa-doa yang dirapalkan pun sesungguhnya berguna untuk menguatkan hubungan vertikal, yakni antara makhluk dan Penciptanya.

Akan tetapi, lanjutnya, hingga saat itu ia merasa ragu untuk meyakini siapaTuhan itu. Agama ini menyatakan itu. Agama lainnya menyebutkan yang berbeda. Sebagai manusia, bagaimana mengetahui mana yang benar atau kebenaran sejati itu?

Ustadz Rahmat tampaknya senang dengan penjabaran itu. Denny lalu dimintanya untuk tidak putus berdoa.

“Ustadz itu menyarankan saya untuk berdoa kepada Tuhan dengan tidak perlu menyebut nama Tuhan berdasarkan agama. Cukup Tuhan saja. Lalu mintalah kepada Tuhan untuk ditunjukkan, agama mana yang dapat menyelamatkan diri ini di dunia dan akhirat,” katanya mengenang.

Maka setiap hari, terutama menjelang tidur, Denny selalu memanjatkan doa kepada Tuhan. Ia berharap, Yang Mahakuasa dapat memberikannya petunjuk. Dari hari ke hari, perilaku Denny pun mulai menunjukkan sisi religiusitas.  Kedua orang tua Denny memiliki sebuah perusahaan yang cukup sukses.

Banyak karyawan Muslim yang bekerja di sana. Sebagai sang pemilik, ayah dan ibunya tidak menunjukkan sikap berat sebelah, apalagi mengintimidasi, para pekerja yang berlainan iman. Profesionalisme dan prestasi, itulah yang tetap menjadi tolok ukur, bukan identitas suku, agama atau ras.

Denny sempat bekerja di perusahaan kedua orang tuanya tersebut. Waktu itu, ia sedang dalam proses mengenal Islam lebih dekat. Menurutnya, tidak cukup dengan hanya mengandalkan diskusi bersama Ustadz Rahmat. Perlu pula untuk mengetahui bagaimana orang-orang Islam mengamalkan agama ini.

Maka, Denny sering memperhatikan bagaimana para pegawainya yang Muslim menjalankan kepercayaannya. Misalnya, ketika suara dari musola berkumandang–yang belakangan diketahuinya sebagai adzan, apakah ada di antara mereka yang meninggalkan pekerjaan, untuk menunaikan ritual.

Bahkan, ketika Ramadhan tiba, Denny bertindak lebih jauh lagi. Dia merasa percaya diri untuk ikut-ikutan berpuasa. Para pegawai mungkin mengira, bos mereka hanya ikut acara-acara khas Ramadhan, semisal buka puasa bareng atau berbagi kepada anak-anak yatim di panti asuhan. Padahal, lelaki berdarah Tionghoa itu pun merasakan apa yang mereka rasakan, yakni menahan lapar dan dahaga sejak pagi hingga petang.

 

Memasuki hari kelima bulan Ramadhan, Denny merasakan pengalaman yang sukar dilupakannya, bahkan sampai hari ini. Malam itu, suara adzan terdengar dari menara-menara masjid di dekat rumahnya. Kumandang itu terasa syahdu. Tiba-tiba, dari radio yang disetelnya berkumandang pula panggilan adzan. Akan tetapi, bagi Denny sendiri, suara adzan di radio memberikan sensasi yang berbeda. Ia pun gemetar dan pingsan.

Kejadian itu membuatnya banyak merenung. Akhirnya, pada hari-hari terakhir Ramadhan ia mengungkapkan pengalamannya ke pada Ustaz Rahmat. Sang dai kemudian memintanya untuk tidak tidur pada malam itu. Tetaplah terjaga hingga subuh tiba. Selama waktu itu, fokuskan pikiran hanya untuk mengingat Tuhan.

Dia pun melakukan saran itu. Entah mengapa, di dalam kamar Denny merasakan keharuan yang besar dalam dadanya. Ada seperti kerinduan batin untuk menyapa-Nya. Malam itu juga, dia memutuskan untuk berwudhu dan bersujud. Tidak ada Tuhan selain Engkau, ya Allah, gumamnya dengan penuh yakin

Keesokan harinya, Denny melaporkan apa yang sudah dialami dan dilakukannya tadi malam kepada Ustadz Rahmat. Sang ustadz lalu mengucapkan hamdalah. Barulah kemudian Denny mengetahui, malam itu diduga kuat sebagai Lailatul Qadar, malam yang penuh kemuliaan. Sebabnya dugaan itu, momen tersebut bertepatan dengan malam 27 Ramadhan.

Dia ceritakan kisahnya kembali, tanpa meminta atau mengajaknya untuk memeluk Islam. Ustadz itu hanya memintanya untuk mencari tahu sendiri, bertanya kepada nuraninya yang terdalam. Sebelum Idul Fitri, tekad Denny pun sudah bulat untuk menjadi Muslim. Setelah Lebaran, dia segera pergi ke rumah sunat untuk berkhitan. Beberapa hari kemudian, secara resmi dia mengikuti proses syahadat, yang disaksikan jamaah dan dibimbing ustadz.

Sumber : Republika.co.id

 

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MUALAF DENNY, GEMETAR DAN PINGSAN MENDENGAR SUARA ADZAN (1)

Read Next

HAKIKAT MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 4 =