MUHASABAH SHALAT KITA

sholat-tarawih-di-masjis-islamic-centre-jakarta-utara-_120809102957-828

JIC – Isra Mi’raj erat kaitannya dengan perintah shalat bagi umat Islam. Momen Isra Mi’raj menjadi saat yang penting untuk menghitung kembali kualitas dan kuantitas shalat kita.

Ketua Bidang Pendidikan dan Pembinaan Umat Pengurus Pusat (PP) Hidayatullah, Tasrif Amin, mengatakan shalat merupakan ibadah wajib yang harus dilakukan oleh setiap umat yang meyakini ajaran Islam.

Sejarah perjalanan Islam mencatat, shalat juga merupakan salah satu cara Allah SWT untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia.

“Sebelum Isra Mi’raj waktu itu meninggal dua orang dekat Nabi, yaitu istri Nabi dan paman Nabi di waktu yang hampir bersamaan. Ketika itu rasul kehilangan back up. Lalu dia memasrahkan kepada Allah. Cara Allah menyelesaikanya dengan perintah shalat itu,” kata Ustaz Tasrif ketika dihubungi Republika, Rabu (27/4).

Dalam konteks syariah, shalat merupakan rukun Islam yang kedua. Ibadah ini tak seharusnya sekadar dianggap sebagai kewajiban, namun harus dipandang sebagai kebutuhan setiap individu Muslim.

Shalat juga mengandung nilai-nilai sosial. Ini tergambar dari perintah shalat berjamaah yang banyak memberikan teladan tentang konsep kepemimpinan dalam Islam.

Shalat juga mengajarkan Muslim untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Sebab, selain menjadi solusi permasalahan, shalat idealnya juga mampu mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar.

“Jadi kalau banyak korupsi, penipuan, tindakan kriminal, kok banyak Muslim yang terlibat, itu shalatnya belum benar. Sebab shalat idealnya mampu menghindarkan dari keji dan munkar,” ujar Tasrif.

Di balik perintah shalat terdapat suatu pesan bahwa manusia hendaknya menyadari keberadaannya sebagai makhluk yang lemah.

Dalam hidup, banyak persoalan-persoalan yang terjadi di luar kemampuan manusia. Isra Mi’raj meneguhkan keyakinan manusia bahwa shalat dapat menjadi penyelesaian dari persoalan-persoalan tersebut.

Prinsip ini pada praktiknya sering kali tidak dijalankan. Ini terlihat dari banyaknya orang yang mengulur-ulur waktu shalat, baik dengan alasan pekerjaan maupun kepentingan dunia lainnya. Shalat lebih dipandang sebagai suatu beban, ketimbang solusi permasalahan.

Ilmu merupakan salah satu syarat untuk memperbaiki ibadah shalat. Oleh karena itu, umat Islam hendaknya terus meningkatkan ilmu guna menjadi landasan bagi setiap amal.

Untuk dapat khusyu dalam shalat, umat Islam perlu mengembalikan tujuan shalat sebagai langkah ibadah kepada Allah SWT. Dengan begitu, ia akan menghilangkan ingatan maupun fokus kepada hal-hal yang lain.

Pemahaman terhadap bacaan-bacaan shalat juga menjadi salah satu faktor yang mendukung kekhusyukan seseorang. Selanjutnya, seorang Muslim hendaknya tidak terburu-buru. Tumaninah menjadi salah satu bagian shalat yang tidak boleh ditinggalkan untuk mendapatkan kekhusyuan.

Menurut Rais Syuriah PBNU KH Zakky Mubarok, shalat merupakan dialog formal yang sangat intens antara hamba dengan Allah SWT. Oleh karena itu, kekhusyukan dan keikhlasan menjadi dua hal yang perlu terus ditingkatkan, seperti halnya riya harus terus dihilangkan.

Peristiwa Isra Mi’raj juga mengajarkan manusia pada dimensi kemanusiaan, dimensi malaikat (malakut), dan dimensi ketuhanan (lauhud). Dimensi kemanusiaan dapat dilihat dari perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.

Dari peristiwa ini, manusia diajak untuk melakukan hubungan sebaik-baiknya dengan makhluk Allah SWT dan menjalankan peran sebagai khalifah bagi alam semesta.

Menurut Kiai Zakky, peristiwa Mi’raj mengandung dimensi malakut dan lauhud yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT. “Salah satu aturan tersebut ditunjukkan dengan perintah shalat sebanyak 50 kali, yang kemudian diringankan oleh Allah SWT menjadi lima kali,” papar Kiai Zakky.

Keberhasilan seseorang dalam menjalankan shalat tak dapat dilihat hanya dari ibadah fisik semata. Misi shalat, papar Kiai Zakky, untuk menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan munkar hendaknya tergambar dalam kehidupan sehari-hari. Ini tergambar dari keinginan untuk berbuat baik, melakukan hal-hal yang terpuji, dan menjauhi hal yang terlarang.

Guru Besar bidang Akidah dan Filsafat Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Amal Fathullah Zarkasyi, mengatakan perintah shalat merupakan sesuatu yang mutlak. Ini merupakan hasil dialog antara Allah SWT dengan Nabi Muhammad SAW.

Shalat juga menjadi penanda adanya iman dalam diri seseorang. “Orang yang materialistik tidak akan paham bahwa Nabi SAW bertemu Allah tidak badani, tidak jasadi, tapi secara ruhi,” kata dia.

Lebih jauh lagi, shalat dipandang sebagai tiang agama. Orang-orang yang meninggalkan shalat diibaratkan bagai orang yang menghancurkan agama. Shalat memberikan pengaruh positif terhadap individu, sehingga pelakunya menjaga diri dari hal-hal yang akan mencemarkan agama.

Adanya interaksi manusia dengan Tuhan ketika shalat juga dipercaya dapat menimbulkan ketenangan jiwa. Ini menjadi awal tercapainya berbagai hal lain, misalnya keluasan pikiran yang menjadi dasar untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan.

“Yang pokok konteksnya dalam kehidupan kita, kita harus konsisten menjalankan perintah shalat. Karena shalat itu banyak hikmahnya. Bisa menenangkan hati, mengatur kehidupan dengan baik, dan mencegah kekejian dan kemunkaran. Beda dengan orang yang tidak shalat,” ujar dia.

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MENAG SEBUT FOUNDING FATHERS BIJAK SIKAPI KEBERAGAMAN UMAT

Read Next

MEMELIHARA KEINGINAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − 4 =