MUTIARA-MUTIARA AL-QUR`AN dalam KEMELUT KEKINIAN

Karena pentingnya umat Islam mengedepankan persatuan dengan memegang erat Al-Qur`an dan masih adanya kemungkinan terjadinya konflik antara umat Islam karena perbedaan paham, Jakarta Islamic Centre (JIC) bekerjasama dengan Majelis Dzikir Al-Fauz akan mengadakan seminar dengan tema Mutiara-Mutiara Al-Qur`an dalam Kemelut Kekinian pada hari Selasa, 31 Januari 2012 di Aula Serba Guna JIC dari jam 13.00 s/d 17.00 WIB. Peserta seminar ini adalah seluruh umat Islam, baik yang berpaham Sunni, Syiah, Salafi Wahabi atau lainnya dan tidak dipungut biaya. Bagi mereka yang berminat untuk mengikuti seminar ini dapat mendaftarkan diri ke JIC melalui telepon (021) 4413069 via Lala atau Lia atau di 081314165949.

Sufi dan guru tarekat terkemuka di Indonesia, Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya, KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin yang akrab disapa Abah Anom, beberapa waktu sebelumnya wafatnya pada 5 September 2011 memberikan maklumat terakhir kepada murid-muridnya dan tentunya juga untuk umat Islam dengan mengutip ayat 103 dari Al-Qur`an surat Ali Imran “wa`thasimuu bi hablillaah..”. Beliau kemudian memesankan agar kutipan ayat ini oleh murid-muridnya selain sebagai maklumat, juga dijadikan sebagai bacaan dalam do`a-do`a mereka, entah diawal do`a atau dipenutupan do`a. Arti dari kutipan ayat tersebut adalah “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah…”. Jika ayat tersebut dibaca secara lengkap, artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Bagi murid-muridnya yang menganggap Abah Anom sebagai sebagai salah seorang kekasih Allah, tentu ada maksud tertentu maklumat terakhir itu dikeluarkan yang memiliki mimiliki relevansi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang dan akan terjadi. Peristiwa-peristwa itu, sebagaimana isi lengkap dari ayat tersebut, terkait dengan perpecahan, bercerai-berai, permusuhan, konflik sesama umat Islam sendiri karena perbedaan paham, terlebih karena ditinggalkannya Al-Qur`an sebagai tali yang harusnya terus digenggam erat atau sebagai pemersatu.

Benar saja. Belum juga berhitung tahun, hanya semusim jagung sejak maklumat itu dikeluarkan, terjadilah aksi pembakaran pondok pesantren Syiah di Sampang, Madura di penghujung tahun 2011, tepatnya pada Kamis, 29 Desember 2011. Sebuah peristiwa yang tentu saja mengejutkan dan dikecam oleh banyak pihak. Salah satunya datang dari Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU) yang dalam konfrensi persnya pada hari Selasa, 3 Januari 2012 Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj selaku ketua umum menyatakan, “Mengecam konflik sampang yang mengatasnamakan agama. Islam itu mengajarkan toleransi, NU mengecam segala tindak kekerasan.” Tambahnya lagi, aksi kekerasan bukanlah ciri pendekatan konflik dalam agama Islam, dan tidak sesuai dengan semangat NU.

Memang setelah diusut, latar belakang pembakaran tersebut karena persoalan internal keluarga, tapi persoalan internal keluarga bukanlah yang menyulut emosi massa untuk membakar pesantren syiah tersebut, tetapi semangat perbedaan paham yang digembar-gemborkan yang menjadi alasan dilakukan pembakaran tersebut. Memang, sebelum Abah Anom memberikan maklumat pun, aksi-aksi seperti ini pernah terjadi. Namun yang perlu dicermati dari maklumat tersebut adalah pesan agar umat Islam betul-betul menjadikan Al-Qur`an sebagai tali yang digegam erat. Jika Anda berpaham Syiah, Anda berpaham Sunni, Anda berpaham Salafi Wahabi, Anda pengikut tarekat atau anti tarekat silahkan saja. Itu hak. Tapi, jangan paksakan paham Anda kepada orang lain atau menghujat paham orang lain apalagi dengan kekerasan. Mari kedepankan persatuan dan cari persamaan dari perbedaan paham Anda dengan menjadikan Al-Qur`an sebagai pemersatunya. Ambilah mutiara-mutiara cinta kasih, saling menolong, saling menghormati dari Al-Qur`an agar Islam dapat rahmat bagi para pengikutnya dan rahmat bagi semesta alam. Lihatlah, betapa peristiwa pembakaran tersebut makin membuat citra umat Islam semakin buruk di mata pengikut agama lain.

Karena pentingnya umat Islam mengedepankan persatuan dengan memegang erat Al-Qur`an dan masih adanya kemungkinan terjadinya konflik antara umat Islam karena perbedaan paham, Jakarta Islamic Centre (JIC) bekerjasama dengan Majelis Dzikir Al-Fauz akan mengadakan seminar dengan tema Mutiara-Mutiara Al-Qur`an dalam Kemelut Kekinian pada hari Selasa, 31 Januari 2012 di Aula Serba Guna JIC dari jam 13.00 s/d 17.00 WIB. Peserta seminar ini adalah seluruh umat Islam, baik yang berpaham Sunni, Syiah, Salafi Wahabi atau lainnya dan tidak dipungut biaya. Bagi mereka yang berminat untuk mengikuti seminar ini dapat mendaftarkan diri ke JIC melalui telepon (021) 4413069 via Lala atau Lia atau di 081314165949. Seminar tersebut selain bertujuan untuk menyadarkan umat Islam betapa pentingnya persatuan dengan berpegang teguh kepada Al-Qur`an sekaligus untuk membedah kitab Kitab Al-Qur`an `Ijaazan wa Khawwashan wa Falsafatan Al-Qur`an yang disusun oleh KH. Saifuddin Amsir merupakan kumpulan tulisan dari enam kitab ternama di dunia Islam yang menyangkut ulumul qur`an, yaitu Az-Zahab Al-Ibriz, Jawahir Al-Qur`an, Qonun At-Ta`wil (ketiga kitab ini karya Imam Al-Ghazali), Fadha`il Al-Qur`an karya Imam Ibnu Katsir, Ajaibul Qur`an karya Imam Ar-Razi dan Ad-Durrun Nadzim karya Imam Al-Yafi`i dengan tambahan berupa bacaan wirid dari Wirdul Lathif dan syarahnya serta Munajat Imam Ali Zainal Abidin.

***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Write a Reply or Comment

three − 2 =