NASIHAT PENULIS LA TAHZAN SOAL PENTINGNYA JADI DIRI SENDIRI

Umat muslim melaksanakan ibadah salat sunah di Masjid Raya Bandung, Jawa Barat, Rabu (23/5). Pada Bulan Ramadan umat muslim memanfaatkan waktu dengan memperbanyak ibadah dengan membaca Alquran dan melaksanakan salat-salat sunah di masjid. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/aww/18.

penulis La Tahzan Aidh al-Qarni menasihati agar Muslim menjadi diri sendiri.    Foto: Antara/M Agung Rajasa

Menjadi diri sendiri merupakan tuntunan Islam yang benar.

JIC, JAKARTA – Umumnya manusia kerap mengalami fase taklid, yaitu tindakan meniru orang lain. Namun begitu taklid  tersebut sudah pada level berlebihan, tentu hal tersebut sangat tidak dianjurkan.

Mengapa demikian? Sebab akan menimbulkan kecenderungan tanpa disadari akan menjadi pembunuhan secara paksa terhadap sikap dan karakter diri sendiri.

Syekh Aidh al-Qarni dalam kitabnya La Tahzan jilid 1 menjabarkan, sikap taklid yang berlebih memang tidak dianjurkan. Meskipun, kata beliau, di dalam kehidupan ini manusia akan melewati tiga fase antara lain taklid, menyeleksi, dan berinovasi.

Fase taklid yang merupakan fase meniru orang lain, mengadopsi kepribadian mereka, hingga berlaku meniru kelakuan mereka sejatinya muncul sebab rasa kagum. Sikap taklid biasa dikenali dengan meniru gerakan orang tersebut, suara, hingga sikap atau gestur-gestur lainnya.

Padahal, beliau menjabarkan, tanpa disadari sikap taklid berlebih tanpa disadari akan menimbulkan hal negatif kepada yang bersangkutan.

Namun begitu, alangkah baiknya sikap taklid atau meniru orang lain itu dilakukan pada hal-hal positif saja, ini pun tak boleh terlalu berlebihan karena akan menghilangkan karakter dirinya sendiri.

Adapun taklid-taklid positif adalah taklid ilmu pengetahuan dan kedermawanan. Namun akan sangat disayangkan apabila taklid itu justru terjadi dengan bertaklid atau meniru cara bicara atau pun cara berjalan orang lain.

Padahal sebagai fitrahnya, manusia diciptakan dengan bakat dan kemampuan tersendiri. Sejak Allah SWT menciptakan Nabi Adam hingga akhir perjalanan bumi ini, tidak akan ada dua orang yang sama persis dengan yang lain dalam bentuk fisik, sekali pun mereka kembar secara lahir.

Allah SWT berfirman dalam Alquran surah Ar-Rum ayat 22: “Wa min ayatihi khalqussamawati wal-ardhi wakhtilafu alsinatakum wa alwanikum inna fi dzalika laayatin lil ‘alamin,”.

Yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran-Nya) ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

 

sumber : Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

SARAN PBNU UNTUK MILENIAL SAAT TAHUN BARU

Read Next

MOHAMMED BIN SALMAN, PUTRA MAHKOTA SAUDI: SEORANG DEMOKRAT, PEMBAHARU ATAU DIKTATOR?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + 2 =