NIAT DAN MEMBACA BISMILLAH SAAT WUDHU

JIC – Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Ketika memulai berwudhu hendaklah berniat untuk menghilangkan hadats atau berniat berwudhu untuk shalat atau semisal itu.

Niat adalah syarat diterimanya amalan, termasuk syarat diterimanya thaharah dan selainnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Lalu mengucapkan bismillah.”

APA ITU WUDHU? KENAPA MESTI BERWUDHU?

Wudhu adalah membasuh dan mengusap anggota tertentu disertai niat. Wudhu dilakukan untuk menghilangkan hadats atau untuk shalat atau sebab lainnya seperti menyentuh mushaf Al-Qur’an dan ingin melakukan thawaf.

BERNIAT SAAT WUDHU

Niat secara bahasa berarti al-qashdu (keinginan). Sedangkan niat secara istilah syar’i, yang dimaksud adalah berazam (bertekad) mengerjakan suatu ibadah ikhlas karena Allah.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262)

Niat ada dua macam: (1) niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut (al-ma’mul lahu), (2) niat amalan.

Niat jenis pertama adalah niat yang ditujukan untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat. Inilah yang dimaksud dengan niat yang ikhlas.

Sedangkan niat amalan itu ada dua fungsi: (1) untuk membedakan manakah adat (kebiasaan), manakah ibadah, (2) untuk membedakan satu ibadah dan ibadah lainnya.

MEMBACA BISMILLAH SAAT WUDHU

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ

Tidak ada shalat bagi yang tidak ada wudhu. Tidak ada wudhu bagi yang tidak membaca bismillah di dalamnya.” (HR. Abu Daud no. 101 dan Ibnu Majah no. 399. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kalau dilihat dari hadits-hadits yang ada yang semisal dengan hadits di atas, dapat dikatakan bahwa haditsnya saling menguatkan satu dan lainnya. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Nampak bahwa dilihat dari berbagai macam jalur, hadits yang membicarakan anjuran bismillah saat wudhu saling menguatkan, yang menunjukkan adanya ajaran akan hal itu.” (Talkhisul Habir, 1: 128).

Sebagian ulama mendhaifkan hadits di atas, namun dari berbagai jalur, hadits menjadi kuat. Sedangkan penafian (peniadaan) yang disebutkan dalam hadits adalah kesempurnaan. Jadi maksudnya adalah tidak sempurna wudhunya. Karena ada hadits-hadits yang membicarakan tentang wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti hadits ‘Abdullah bin Zaid, ‘Utsman bin ‘Affan dan juga Ibnu ‘Abbas, tidak menyebutkan bismilah di dalamnya. Sehingga penafian yang ada dimaknakan, tidak sempurna. Jadi tetap ada anjuran membaca bismillah di awal wudhu, namun tidak menunjukkan wajib.

Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan, “Pendapat yang menyatakan hokum membaca bismillah saat wudhu adalah sunnah, itulah yang lebih kuat – insya Allah – namun, sunnahnya itu begitu ditekankan jangan sampai ditinggalkan dengan sengaja.” (Minhah Al-‘Allam, 1 : 224)

Semoga meraih ilmu yang bermanfaat.

Sumber : rumaysho.com

Write a Reply or Comment