NYAWA DAN HARAPAN MASJID JIC DI AKHIR BULAN RAMADHAN

JIC – Khusus di bulan suci  Ramadhan  pada 1439 H. Tahun 2018 ini, JIC melaksanakan berbagai amaliah, baik amaliah berupa ibadah mahdlah,  seperti  Sholat Tarawih berjamaah, tadarrus alquran, kajian-kajian keislaman, dan lain-lain maupun amaliah sosial seperti pengelolaan zakat infak, shadaqah, buka puasa bersama, santunan anak yatim, pelatihan dan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat miskin, pelatihan kepemimpinan pemuda dan remaja, pesantren kilat bagi pelajar dan mahasiswa, pendalaman al-qur’an, hadits dan literasi keislaman, pelatihan teknologi informasi, dan lain-lain. Semua program tersebut dikemas sedemikian rupa, sehingga program-program tersebut menarik diikuti masyarakat secara luas sehingga hasilnya dirasakan bermanfaat.

HARAPAN KEDEPAN

Mampukah JIC mengemban amanat dan tantangan sejarah peradaban Islam ke depan? Berbekal pengalaman dalam perjalanan JIC selama ini, yang penuh dengan berbagai keterbatasan dan tantangan kiranya eksistensi JIC dan peranannya dalam mencerahkan masyarakat khususnya umat Islam akan tetap relevan. Mungkin hasilnya tidak akan segera terlihat, tapi secara perlahan tapi pasti, kita bisa tetap berkata selama JIC berdiri tegak  maka NKRI pun akan tetap eksis di bumi nusantara ini. Dan tidak salah kalau JIC mempunuyai tagline “minna dzulumati ila nuur”. Atau meminjam istilah Buku Harian R.A. Kartini, “habis gelap akan terbitlah  terang”.

Demikian RA. Kartini, seorang muslimah, pahlawan nasional, bertutur dalam surat-surat cintanya pada tanah air, sembari terus mengucurkan air mata derita di bawah kungkungan penjajahan Belanda dan keangkuhan budaya feodalisme, yang hingga kini mungkin belum akan berakhir.

Soekarno-Hatta bersama para pemuda Indonesia lainnya pada 17 Agustus 1945 memang telah memproklamirkan Indonesia sebagai bangsa  merdeka, dari kaum penjajah  (Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang),  namun perjalanan perjuangan kemerdekaan itu masih panjang dan seakarang terus berlangsung  teruss tiada henti.
Sebab keserakahan kaum penjajah dengan berbagai bentuk dan modusnya, tentu mereka tidak akan rela melepas Indonesia begitu saja. Indonesia yang subur dengan letak geografis persis berada di garis khatulistiwa, dikelilingi  samudera terpanjang di dunia, begitu indah sehingga dikenal sebagai zamrud khatulistiwa. Maka jangan heran kalau mereka yang dulu pernah menjajah Nusantara akan tetap memburunya dan akan menenjadikannya surga idaman untuk mereka kuasai kembali, bahkan bangsa-bangsa lain pun saat ini mungkin banyak mengincar Indonesia.

Namun bangsa Indonesia telah bertekad,  NKRI harus terus dirawat dan disyukuri oleh setiap generasi. Di sinilah kiranya JIC bersama generasi umat muslimin di Indonesia diharapkan mampu memberikan kontribusinaya untuk tak kenal lelah membangun Indonesia menjaga NKRI.  Selamat berbuka puasa. Selamat menikmati kolak pisang atau kurma. Setidaknya  sambil memandang pohon kurma yang berjejer di taman JIC.

(Penulis adalah Kepala Divisi Infokom JIC)

Jakarta, 17 Ramadhan 1439 H

Write a Reply or Comment

2 × three =