ORANG MESIR DI BETAWI

Krisis sosial dan politik yang terjadi di Mesir juga dirasakan efeknya dan menjadi perhatian bangsa Indonesia. bukan semata persoalan sekitar 4.100 pelajar atau mahasiwa dan ribuan lagi para pekerja yang sedang terjebak kerusuhan di sana. Bukan pula persoalan bahwa Mesir berjasa kepada Indonesia karena menjadi negara pertama yang mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka. Krisis sosial dan politik yang terjadi di Mesir juga dirasakan efeknya dan menjadi perhatian bangsa Indonesia. bukan semata persoalan sekitar 4.100 pelajar atau mahasiwa dan ribuan lagi para pekerja yang sedang terjebak kerusuhan di sana. Bukan pula persoalan bahwa Mesir berjasa kepada Indonesia karena menjadi negara pertama yang mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka. Bukan hanya dua itu, jika kita menanyakannya kepada sejarawan dan budayawan Betawi terkemuka, Ridwan Saidi. Bang Ridwan mungkin akan menjawabnya bahwa karena ada persoalan emosional, persoalan persaudaraan yang telah terbangun antara bangsa Indonesia dan bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu.

Di dalam bukunya yang baru diluncurkan di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, Rabu, 26 Januari 2010 yang berjudul Potret Budaya Manusia Betawi Ridwan Saidi ingin mengatakan bahwa orang Mesir telah berjasa dalam membangun peradaban manusia di Nusantara sejak ratusan tahun yang lalu. Menurut Tuanku Rao, seperti yang dikutip oleh Ridwan Saidi di dalam bukunya, mereka datang ke Nusantara sejak abad IX SM Jejak mereka dapat ditemukan di Sumatera, Betawi dan Bali. Bukti-bukti yang dipaparkan oleh Ridwan Saidi sangat kuat dan sulit terbantahkan. Ia mengambil contoh tentang temuan 37 sarcophagus di Gianyar, Bali hasil ekskavasi sejak 1984. Sarcophagus adalah peti jenazah keluarga Istana Pharao, Mesir yang berasal dari abad IV SM. Di dalam sarcophagus itu terdapat kerangka dan bekal kubur. Yang menarik, menurut Ridwan Saidi, temuan sarcophagus juga menyebar di Sumatera: Nias dan Pulau Samosir. Di Kalimantan, sarcophagus ditemukan di daerah aliran sungai Long Danum dan Long Kajanan. Di Sumbawa Barat, ditemukan empat buah sarcophagus dengan ukiran-ukiran. Jejak peradaban Mesir di Nusantara , tidak hanya dari peninggalan fisik saja tetapi juga dari bahasa. Ada beberapa kata di dalam bahasa Indonesia yang berasal dari Mesir yang bisa ditemukan sekarang ini. Seperti kata matahari yang berasal dari kata matayari dan mati.

Masih menurut Ridwan Saidi, sebutan untuk orang Mesir adalah Padak, berasal dari Fad dan imbuhan ak. Fad artinya orang Mesir. Kemungkinan imbuhan ak tidak ada artinya melainkan sebagai penyedap bunyi saja. Sama halnya dengan per-ak atau perak. Kaum Padak mestinya bertempat tingal di pesisir. Di Betawi, Ridwan Saidi mempelajari toponim Rawa Badak, yang kini menjadi dua nama kelurahan (Rawa Badak Utara dan Rawa Badak Selatan) yang berada dalam satu kecamatan dengan Jakarta Islamic Centre (JIC), yaitu Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Kalau badak dari bahasa Kawi badag, artinya kasar. Sifat kasar tidak dinisbatkan kepada rawa tapi pada tanah, misalnya ceger atau bulak. Jika badak dinisbatkan pada nama hewan badak, lebih sulit diterima akal karena Tanjung Priok bukan hutan. Yang mendekati kebenaran adalah terjadinya metatesis b dan p. Bukan Rawa Badak, tapi seharusnya Rawa Padak. Rawa-rawa di sekitar hunian kaum padak atau kaum Mesir. Selain di Rawa Badak, Tanjung Priok, orang Padak ada juga di Cibinong. Pengaruh bahasa orang Padak atau Mesir ini juga terdapat pada penamaan orang-orang Betawi. Seperti Su`eb, maknanya saudara, atau Asiah, yang berarti gaya. Nama-nama Betawi dengan suku kata awal Ra, tidak diragukan lagi merupakan pola penamaan Mesir. Seperti Ra`usin, Ra`menih, Ra`in, Ra`ih. Pola penamaan Mesir seperti Ramoses, yang dalam ejaan Greek menjadi Rameses, berarti anak Ra.

Bukan saja pada masa pra-Islam saja, tetapi pada masa orang-orang Betawi telah memeluk Islam sebagai agamanya, orang Mesir juga memberikan andil dalam mengembangkan ajaran Islam khususnya di Betawi. Seperti Syaikh Abdurrahman bin Ahmad Al-Misri, seorang ulama Mesir yang bermukim di Pekojan.

Dari sejarah yang dijelaskan oleh Ridwan Saidi di atas dan peran orang Mesir dalam mengembangkan ajaran Islam di tanah Betawi, maka terjawablah sebagian alasan mengapa banyak orang Betawi, disadari atau tidak, yang menyekolahkan anaknya ke Mesir dan pulang menjadi ulama dan intelektual muslim terkemuka, seperti Syaikh Dr. Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi, KH. Amien Noer, Lc. MA, Dr. KH. Mukhlis Hanafi, MA, Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi, MA, dan lain-lain. Saking banyaknya orang Betawi lulusan Mesir, kampung ”kaum Padak muslim berdarah Betawi” terbentuk dan dapat kita temui di Ujung Harapan, Bekasi yang sebagian mereka kini tengah cemas memikirkan nasib anak-anaknya yang sedang menuntut ilmu di Mesir. negeri yang mungkin saja merupakan kampung halaman leluhur mereka di ribuan tahun yang lalu. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Write a Reply or Comment

1 × two =