Pameran Seni Islam Rubah Suasana Jantung AS

Koleksi-koleksi  unik dan ribuan mahakarya seni berharga yang berakar dari semangat Islam mencuri perhatian di jantung ibukota AS, dalam sebuah perayaan spiritualitas dan keragaman seni dunia Islam dari Maroko hingga Iran. “Ini bukan koleksi yang sangat besar, tidak seperti yang ada di museum Inggris, tapi dari segi kualitas ini adalah salah satu yang terbaik di dunia,” ujar Massumeh Farhad, kepala bidang seni Islam di Galeri Freer and Sackler, Museum Seni Amerika Smithsonian, Washington.

 

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Koleksi-koleksi  unik dan ribuan mahakarya seni berharga yang berakar dari semangat Islam mencuri perhatian di jantung ibukota AS, dalam sebuah perayaan spiritualitas dan keragaman seni dunia Islam dari Maroko hingga Iran.


“Ini bukan koleksi yang sangat besar, tidak seperti yang ada di museum Inggris, tapi dari segi kualitas ini adalah salah satu yang terbaik di dunia,” ujar Massumeh Farhad, kepala bidang seni Islam di Galeri Freer and Sackler, Museum Seni Amerika Smithsonian, Washington.

Sekitar 5.000 karya seni Islam langka dipajang di eksibisi permanen Seni Islam di Galeri Freer, menarik perhatian banyak pengunjung  baik dari Amerika maupun para turis yang berkunjung ke kompleks museum terkenal itu.

Farhad mengatakan karya-karya seni itu dikumpulkan dari seluruh dunia selama berpuluh tahun.

“Karya seni Islam telah menjadi bagian dari Freer sejak tahun 1921.”

Karya-karya seni itu kini dipamerkan di salah satu eksibisi besar yang mencuri perhatian di kompleks prestisius dan merayakan keragaman peradaban yang berasal dari satu keyakinan, Islam.

Pihak penyelenggara pameran mengatakan bahwa koleksi-koleksi itu mewakili semua bentuk seni Islam yang pernah ada.

“Meliputi semuanya, keramik, benda dari logam, kaca, kayu, dan arsitektur.”

Para pengunjung dapat melihat berbagai bentuk karya seni, mulai dari mangkuk kuningan dan batangan lilin dari Irak dan Syria hingga folio kuno Al Quran dari Turki.

Terdapat juga tembikar dan keramik serta lukisan yang mewakili tradisi dari Iran, Mesir, Turki, Afghanistan, Uzbekistan, dan negara-negara lain.

Sebagai bagian dari perayaan terhadap koleksi prestisiusnya, museum ini setiap tahunnya memberikan penghormatan pada tempat kelahiran seni dan budaya Islam yang berbeda-beda.

Tahun ini adalah Iran.

“Apa yang berusaha kami lakukan adalah memfokuskan perhatian pada seni dan budaya Iran,” jelas Farhad.

Museum tersebut saat ini memamerkan “Falnama”, sebuah eksibisi koleksi langka dari manuskrip kaya hiasan berisi nasihat dan saran dari para shah, sultan, dan Muslim jelata Persia di abad 16.

Pameran yang dimulai tanggal 24 juni dan akan digelar hingga 24 Januari ini melibatkan 65 karya seni.

Benda-benda itu dipinjamkan oleh museum termasuk Istana Topkapi Istanbul, Louver, museum seni Islam Berlin dan museum sejarah Jenewa.

“Falnama berarti buku almanak, dan buku-buku ini dimaksudkan untuk membantu kita masuk ke dunia yang tidak diketahui,” ujar Farhad.

“Namun ketika kita melihat ilustrasi dan jenis subyek yang ada di dalamnya, kita menyadari bahwa makna dari karya-karya seni ini lebih mirip dengan karya seni dari dunia Islam,” tambahnya.

“Manuskrip ini benar-benar dimaksudkan untuk memberitahu kita bagaimana hidup di dunia. Ini adalah semacam buku panduan yang menceritakan kisah tentang para nabi dan raja jaman dulu.”

Farhad mengatakan bahwa periode Iran meliputi aktivitas-aktivitas lain yang diorganisir oleh Smithsonian untuk menggarisbawahi banyak aspek dalam kebudayaan Iran.

“Kami memiliki satu hari keluarga ketika merayakan Norooz, atau awal tahun Persia dan perayaannya dihadiri 8000 orang,” ujarnya.

“Di bulan Januari akan ada sebuah festival yang fokus pada film dan film sinema di Iran.”

Petugas Smithsonia membantah adanya hubungan antara fokus pada kebudayaan Iran dan perseteruan politik antar kedua negara.

Farhad meyakini bahwa memperlihatkan kebudayaan Islam yang unik seperti Irak kepada wakyat Amerika harus terpisah dari agenda politik apa pun.

“Apa yang dapat kami lakukan adalah menekankan aspek budayanya, terlepas dari apa yang terjadi di dunia politik.” (rin/io/ suaramedia)

Write a Reply or Comment

nine − 7 =