PANDANGAN ISLAM TERHADAP BULLYING

JIC – Bercanda atau bergurau adalah suatu hal yang lumrah dilakukan manusia. Hal ini dilakukan agar nuansa pergaulan kita tidak terkesan monoton dan garing. Perlu adanya gurauan agar kita tersenyum dan tertawa untuk melepaskan berbagai macam kepenatan. Namun terkadang candaan kita melebihi batas wajar sehingga menimbulkan preseden yang buruk bagi sekelilingnya.

Islam sebagai agama yang damai, menolak segala upaya “perusakan” baik itu dalam bentuk fisik atau pun non-fisik. Upaya perusakan fisik seperti memukul, meninju, atau merusak barang orang lain. Sedangkan upaya perusakan non-fisik seperti merusak mental, psikologis, dan lain sebagainya.

“Suatu ketika Rasulullah Saw. mendatangi seseorang yang bernama Zahir bin Hizam atau Haram yang saat itu tengah menjual barang dagangannya. Zahir adalah sahabat yang bertubuh mungil namun Rasul Saw. menyukainya. Tiba-tiba Rasulullah Saw. mendekapnya dari belakang dan Zahir tidak mengetahuinya. “Lepaskan! Siapa ini?” tanya Zahir. Lalu ia menoleh ke belakang dan mengetahui bahwa yang mendekapnya adalah Rasul Saw. Seketika itu ia tidak lagi melawan dan membiarkan punggungnya menempel dengan dada Rasul.

Ketika sadar bahwa Zahir telah mengetahuinya, Rasul pun berseloroh, “Siapa yang mau membeli hamba ini?” “Kalau engkau menjualku wahai Rasul, demi Allah aku tidak akan laku,” Sahut Zahir. Kemudian Rasul mengatakan, “Namun tidak di hadapan Allah, kamu adalah barang mahal yang pasti laku.” Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik dalam Sahih ibn Hibban, Sunan al-Bayhaqi, dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

Seperti itulah gaya bercanda Rasulullah Saw kepada sahabatnya. Bercanda bukan suatu hal yang dilarang, namun kadar dan takarannya harus benar-benar diukur dan sesuaikan. Terkait hadis di atas, al-Harawi dalam Jam’ul Syamail fi Syarhil Syamail memberikan penjelasan berkenaan dengan kalimat “Siapa yang mau membeli hamba ini?” hamba yang dimaksudkan adalah hamba Allah karena semua manusia pada kenyataannya adalah hamba Allah.

Sedangkan bagaimana hamba tersebut dijual bukan bermaksud merendahkan Zahir bin Hizam, justru dalam candaan tersebut Nabi bermaksud memuliakannya. Jika dibahasakan, “Siapakah yang mau menukar hamba ini dengan yang hamba yang sepadan dengannya?” Di samping itu, candaan beliau dalam konteks di atas tidak memiliki dampak buruk bagi Zahir bin Hizam dan keduanya tampak harmonis dalam canda yang menyenangkan.

Jika bercanda melampaui batas itu bisa jadi masuk dalam kategori bullying, terlebih jika dalam candaan tersebut melibatkan orang lain sebagai obyek candaan. Fenomena yang terjadi di sekeliling kita pada kenyataannya mengonfirmasi hal itu. Banyak sekali korban bullying yang hanya sedikit dari mereka yang berani melapor.

Oleh sebab itu, kita sebagai sesama muslim dan sesama manusia haruslah menjaga dan menebar kasih sayang pada semua, bukan justru berbuat zalim sesama manusia.

Seperti hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang muslim dari lisan dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah”. (HR. Bukhari no. 10)

Sesama Muslim juga dianjurkan untuk saling menyerukan kebaikan, sebagaimana firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ١٠٤

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.(Qs. Ali-Imran [4]: 104)

Selain itu, bullying juga disebabkan kurang terbangunnya rasa persaudaraan di antara sesama. Dan hal tersebut tidak sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wata ‘Ala:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠

Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”(Qs. Al-Hujurat [49]: 10)

Begitulah Islam memandang bullying, dalam Islam bullying adalah perbuatan yang sangat tercela. Lalu bagaimana cara mengatasi korban bullying tersebut?

Berikut adalah beberapa cara untuk mengatasinya:

Pertama, apabila anak mengalami bullying dan bullying yang dilakukan pelaku berupa intimidasi verbal, salah satu caranya orangtua dan guru bisa melatih anaknya untuk bela diri verbal. Contoh dari bela diri verbal.

Misalnya dalam sebuah kasus, A sebagai Pelaku, B sebagai Korban, terjadi percakapan sebagai berikut:

A: Hai gendut

B: Hai juga

A: Badanmu kayak gajah, gede…haha…

B: Iya alhamdulillah, itu tandanya aku tidak kekurangan makan, berkecukupan. Haha

A: Dasar jelek

B: Menurut orangtua ku, aku cakep.

A: Menurut kami kamu jelek.

B: Setiap orang boleh berbeda pendapat.

Dan kosa kata lainnya. Sesuatu yang ditanggapi berulang-ulang dengan tenang dapat membuat pelaku bullying akan bosan dengan sendirinya dan malah bukan korban bullying yang kesal, tapi si pelakunya sendiri.

Tapi ini sekadar contoh, para orangtua bisa mengkreasikannya dalam bentuk kosakata lain. Wah jadi orangtua harus kreatif dong? Lah kata siapa jadi orangtua tidak harus kreatif? Itu ujiannya punya anak kan, yaitu mau tidak kita menyediakan waktu, bersusah-susah berfikir untuk berkreasi menghadapi perilaku-perilaku atau kejadian-kejadian pada anak yang terus berubah?

Tapi tenang, kabar gembiranya, semua orangtua sudah diberikan potensi kreatifitas kok. Insya Allah, para orangtua akan menemukannya sendiri kalau giat berlatih.

Kedua, kita juga harus menanamkan pada diri anak agar anak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun, apabila terus-terusan di bullying, sebagai orangtua juga harus mengajarkan anak untuk melawan. Melawan di sini maksudnya adalah, semisal adik akan memukul kakaknya, lalu kakaknya menangkap dan menahan tangan adik agar tidak mengenai kakaknya.

Ketiga, Islam mengajarkan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, maka peran orangtua di sini mengajak anak yang sering membullying untuk main ke rumah lalu diberi suguhan dan diajak ngobrol santai, buat dia nyaman, sehingga dia sungkan untuk membullying anaknya lagi, bahkan bisa jadi dia yang akan menjadi penjaga anaknya di sekolah saat anaknya dijahili.

Keempat, tanamkan ilmu agama pada anak sejak kecil.

Kelima, pancing anak untuk terbiasa bercerita tentang kesehariannya, karena bisa jadi sang anak takut untuk bercerita. Akhirnya dia diam dan berdampak pada kejiwaannya, itu bisa berdampak bahaya bagi kepribadiaan sang anak.

Itulah beberapa cara untuk mengatasi bullying terhadap anak yang dilakukakan oleh teman sebayanya atau kakak tingkatnya.

Sumber : bincangsyariah.com dan mirajnews.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

IMIGRASI: PASPOR HAJI TERKENDALA KELENGKAPAN DOKUMENTASI

Read Next

KULIAH UMUM EVOLUSI KEBUDAYAAN MANUSIA BETAWI BERSAMA RIDWAN SAIDI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 1 =