PASUTRI NEKAD BERMOTOR 13 RIBU KM DEMI IKUT MTQ DI PADANG (2)

JIC, — “Kalau malam ngantuk sih iya, kalau sudah tidak kuat istirahat dulu sebentar,” kata Hasan.

Ia pun sempat ragu akan sampai karena pada 9 November masih di Yogyakarta, sementara 14 November 2020 MTQ sudah dimulai. Sampai di Lampung ia memutuskan lewat jalur lintas tengah, namun akhirnya ia memutuskan lewat Pagar Alam menuju Bengkulu hingga ke Muko-Muko.

Akhirnya Pada 13 November 2020 pukul 09.00 WIB Hasan pun tiba di Bungus Teluk Kabung yang merupakan gerbang Kota Padang. Ia setengah tak percaya bisa sampai dan menanyakan kepada warga setempat hingga dua kali apakah benar sudah berada di Padang setelah melewati 15 provinsi.

Berkat semangat cinta Alquran dan tekad kuat mereka pun sampai di tujuan untuk berjuang bersama seluruh kafilah di Tanah Air.

Kejadian unik

Sejumlah kejadian unik di perjalanan pun ditemui Hasan dan Nining mulai dari kisah mistis hingga sempat dikejar orang tak dikenal di daerah Bengkulu. Tak hanya itu mereka pun sempat tersesat beberapa kali karena berpatokan kepada google maps.

Di daerah Pasar Tuban, Hasan malah masuk ke dalam pasar dan dimarahi pedagang karena motor tidak boleh lewat. “Sampai dilempar mentimun, karena kiri kanan orang jualan, mau balik tidak bisa,” katanya.

photo

Kafilah Kalimantan Utara Nining R Rusdin Wakiden (29 tahun) berjalan dari Kota Palu menuju Kota Padang dengan sepeda motor. Ia melakukan perjalanan bersama suaminya Hasan CL Bunyu (42). – (Dok Pribadi)

 

Usai keluar dari pasar, Google Maps kembali memandu menyebabkan ia kembali masuk ke pasar tersebut membuat mereka dicaci maki pedagang. “Saya hanya bisa minta maaf karena tidak mengerti, mereka pakai bahasa Jawa,” katanya.

Akhirnya ia memutuskan mematikan aplikasi tersebut dan langsung bertanya kepada warga yang dijumpai dan berpatokan pada marka jalan. Di Serpong hendak ke Merak ia pun berputar-putar hingga akhirnya menemukan jalan.

Saat berada di Bengkulu, pasangan suami istri yang sudah dikaruniai empat anak ini lima jam tersasar di kebun sawit yang nyaris tak ada orang sama sekali. Beruntung ada mobil lewat dan akhirnya diantar.

Sementara Nining saat melewati Kalianda, Lampung melihat sosok makhluk halus yang duduk di pundaknya sampai ke Bengkulu dan baru hilang sampai di Padang. Nining mengaku sebelumnya bisa melihat makhluk halus dan saat itu ia sudah menyampaikan kepada suami yang membawa motor ada yang mengikuti. Hasan pun merasakan tarikan motor terasa berat beberapa kali padahal jalan datar dan mengira ada kerusakan.

Di daerah perbatasan Lampung -Bengkulu pada malam hari ia sempat dikejar dua motor. Hasan pun mempercepat laju motor dan beruntung bertemu rombongan empat mobil tangki.

Ia meminta izin untuk ikut rombongan dan para sopir mempersilakan Hasan berada di depan mereka. Saat berhenti di rumah makan para sopir truk tangki bercerita dikejar dua motor dan Hasan pun menceritakan ia juga sempat dikejar.

Selama 16 hari dalam perjalanan Hasan dan istri benar-benar merasakan keramahtamahan Indonesia. Sebelum berangkat ia sempat mencari informasi soal jalur darat di Sumatra dan dari berita yang beredar di media daring banyak begal.

Namun, kekhawatiran itu sirna karena sebaliknya ia menemukan keramahan orang Indonesia serta keindahan alam selama perjalanan. Ia menghitung bekal hanya cukup sampai di Yogyakarta, namun di sepanjang perjalanan karena motornya menarik perhatian dengan adanya bendera membuat banyak orang yang menanyakan tujuan.

Begitu ia menyampaikan peserta MTQ Nasional mau ke Padang banyak masyarakat yang membantu memberikan bekal mulai dari uang, makanan hingga BBM. Saat mengisi BBM di SPBU pun tak jarang ia dibayari pengendara lain hingga petugas SPBU tak mau menerima uang.

Ia juga memposting perjalanannya di akun media sosial sehingga mendapatkan perhatian dari banyak pihak. “Bahkan ada saja yang minta nomor rekening untuk memberi uang bekal di jalan padahal tidak akrab dengan saya,” ujarnya.

Saat beristirahat di SPBU juga pernah diajak ke rumah warga setempat dijamu makan dan dibekali uang. Kebaikan-kebaikan yang ia temui membuat tekad semakin kuat melanjutkan perjalanan ke Padang.

Termasuk saat naik kapal menyeberangi Selat Sunda dari Pelabuhan Merak Banten di atas kapal para ABK menanyakan tujuan. Begitu tahu peserta MTQ yang hendak ke Padang mereka disediakan istirahat di kamar khusus.

“Sudah tidur istirahat dulu, tidak usah bayar,” kata Hasan.

Untuk makan di perjalanan di Sumatra, Hasan memilih makan di rumah makan Padang. Saat pemilik rumah makan tahu hendak ke Padang mengikuti MTQ banyak yang menggratiskan. “Karena mau ke Padang pemilik rumah makan mendukung, mau datang ke kampung mereka, jadi tidak mau terima uang kami,” ujar dia.

Sampai di Padang pun Hasan dan istri ditawari menginap di tempat kos yang dibiayai oleh warga. Di Padang pun ia bertemu dengan polisi yang mengira akan menanya surat kendaraan ternyata malah minta foto.

“Dengan kebaikan dan keramahan warga di sepanjang jalan hingga sampai di Padang terobati semua rasa capek di perjalanan,” katanya.

Nining pun mengakui kebaikan kebaikan masyarakat seperti obat membuat ia terus bersemangat mengikuti MTQ cabang kaligrafi. Untuk kembali pulang ke Sulawesi Tengah Hasan dan istri sudah menyusun jadwal.

Awalnya mereka berencana akan menuju titik nol di Sabang Aceh, namun karena butuh waktu enam hari pulang pergi, akhirnya dibatalkan. Namun, ia sudah menyusun jadwal dan sejumlah orang telah menunggunya di perjalanan mulai dari tawaran menginap hingga servis motor di bengkelnya. Alhamdulillah.

Sumber : ihram.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

PASUTRI NEKAD BERMOTOR 13 RIBU KM DEMI IKUT MTQ DI PADANG (1)

Read Next

3 TEORI MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA LENGKAP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − twelve =