PEDOMAN FALAKIYAH DKI JAKARTA

Penulis: Cecep Nurwendaya, Mutoha Arkanudin, Rakhmad Z. Kiki

Ilmu falak adalah ilmu mempelajari gerak benda-benda langit, termasuk posisinya pada suatu saat dan prakiraan posisi pada waktu mendatang. Berdasarkan definisi modern, ilmu falak digolongkan sebagai astronomi observasional, khususnya terkait dengan posisi dan peredaran matahari – bulan. Ilmu ini mengembangkan teknik pengamatan (rukyat) dan teknik perhitungan (hisab) yang menjadi landasan awal sejarah perkembangan astronomi modern. Ilmu falak merupakan warisan Islam yang sangat penting bagi astronomi.

Dilandasi kepentingan umat Islam untuk menentukan waktu ibadah dan arah kiblat, ilmu falak berkembang pesat dalam awal peradaban Islam. Kebutuhan untuk mengetahui awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, serta bulan-bulan lainnya mendorong para ilmuwan Muslim mengembangkan ilmu hisab, yaitu ilmu tentang perhitungan peredaran bulan dan matahari dari pengalaman rukyat jangka panjang. Pengetahuan tentang gerak semu harian matahari juga diperlukan untuk menentukan awal waktu-waktu shalat. Perhitungan posisi benda-benda langit berkembang sejalan dengan perkembangan pengukuran arah kiblat dengan memanfaatkan trigonometri bola, yaitu perhitungan jarak sudut di bola untuk diaplikasikan di bola langit dan bola bumi. Perhitungan trigonometri bola sangat bermanfaat dalam penentuan arah kiblat.

Hasil pengamatan dan rumusan perhitungan posisi dan peredaran matahari dan bulan dibukukan, diterjemahkan, dan dijelaskan oleh para ulama ahli falak. Kitabnya dipelajari secara turun temurun. Dalam bentuknya yang awal, rumusannya dituliskan berbentuk tabel yang dalam perhitungannya menggunakan operasi matematika sederhana. Tabel tersebut memudahkan penggunanya, tetapi sulit menelusuri asal usul perhitungan rumit yang mendasarinya. Ini berbeda dengan rumusan modern yang menggunakan rumusan matematik rumit, tetapi setiap orang yang mempelajarinya bisa menelusuri asal-usul rumus tersebut dengan menurunkannya berdasarkan rumus-rumus dasar yang umumnya telah diketahui.

Para ulama ahli falak dahulu mewariskan cara penggunaan tabel tersebut, tetapi tidak banyak yang mengajarkan cara mendapatkan tabel-tabel tersebut. Banyak ulama di banyak daerah (termasuk di Betawi) yang menguasai ilmu falak seperti itu dan mengajarkan cara pemakaian kitab-kitab tersebut kepada para santrinya. Sayangnya, cara mengembangkan tabel-tabel seperti itu tampaknya tidak diturunkan ilmunya.  Ini menjadi sebab kemandegan pengembangan metodenya.

Pada zamannya, kitab ilmu falak yang dikembangkan para ulama tersebut merupakan metode perhitungan yang paling akurat. Namun, ilmu terus berkembang. Metode perhitungan pun mengalami banyak penyempurnaan untuk meningkatkan akurasinya.  Karena cara penyusunan tabel tidak diajarkan, penyempurnaan sulit dilakukan. Keadaan ini diperparah oleh anggapan tabu mengubah karya ulama dahulu. Satu sisi cara pelestarian karya seperti itu baik untuk menunjukkan aspek historis perkembangan ilmu falak di suatu daerah. Tetapi pada sisi lain hal itu bisa menyebabkan kemandegan perkembangan ilmu falak tradisional.

Hal seperti itu tidak terjadi pada astronomi modern. Rumusannya dituliskan dengan formulasi matematis yang sedikit rumit, tetapi masih bisa ditelusur asal-usul rumus dasarnya. Ketika hasil pengamatan dan metode perhitungan berkembang, penyesuaian rumus relatif mudah dilakukan. Penggunaan formulasi matematika yang rumit kini telah dibantu alat hitung yang semakin canggih, mulai dari kalkulator sampai komputer. Dengan fleksibilitas rumusan astronomi modern, tingkat akurasinya terus disempurnakan. Pembuktian ketepatan fenomena gerhana yang sampai detik demi detik sesuai dengan perhitungan, menunjukkan tingginya akurasi perhitungan astronomi modern.

Pada aspek akurasi perhitungan ini kesenjangan mulai terasa antara metode  ilmu falak tradisional (berbasis tabel-tabel pada kitab-kitab klasik) dan metode astronomi modern (berbasis rumusan matematis astronomi yang terus dikembangkan). Sebagai khazanah intelektual, kitab-kitab ilmu falak klasik perlu dihargai dan dilestarikan karena kontribusi ilmiahnya yang sangat berarti dalam sejarah perkembangan astronomi. Namun untuk aplikasi, kita harus terbuka terhadap perkembangan iptek.

Penerbitan buku ”<i>Pedoman Falakiyah di Jakarta</i>” dapat dianggap sebagai upaya untuk melestarikan semangat kajian ilmu falak yang ada di masyarakat Betawi yang diwariskan para ulama ahli falaknya, namun tetap terbuka dengan perkembangan iptek. Pemahaman astronomi modern tidak lagi dibatasi oleh sekadar posisi dan peredaran matahari dan bulan, tetapi lebih luas dari itu. Konsepsi geosentris (bumi sebagai pusat alam semesta) dalam metode lama harus diubah dengan konsep alam semesta yang tanpa pusat, namun terikat oleh interaksi gravitasi antar benda-benda langit.

Write a Reply or Comment