Pengelola Hotel di AS Tekan Pegawai Muslimnya untuk Ganti Nama

Seorang pelayan Muslim sebuah Hotel di New York, Amerika Serikat mengatakan bahwa pihak hotel menyuruhnya untuk memalsukan namanya yang berbau Islam. Hal itu dilakukan agar para tamu tidak merasa takut saat berkunjung atau bermalam di hotel. Pelayan Muslim tersebut bernama Mohamed Kotbi. Pria merupakan kelahiran Maroko ini, bekerja di Hotel Waldorf-Astoria. Ia mengungkapkan bahwa pihak hotel menekannya untuk menggunakan nama palsu yakni ‘Edgar’, seperti dilaporkan Daily Mail, Senin (2/5).

REPUBLIKA.CO.ID, Seorang pelayan Muslim sebuah Hotel di New York, Amerika Serikat mengatakan bahwa pihak hotel menyuruhnya untuk memalsukan namanya yang berbau Islam. Hal itu dilakukan agar para tamu tidak merasa takut saat berkunjung atau bermalam di hotel.

Hotel Waldorf-Astoria

Pelayan Muslim tersebut bernama Mohamed Kotbi. Pria merupakan kelahiran Maroko ini, bekerja di Hotel Waldorf-Astoria. Ia mengungkapkan bahwa pihak hotel menekannya untuk menggunakan nama palsu yakni ‘Edgar’, seperti dilaporkan Daily Mail, Senin (2/5).

Kotbi, yang telah bekerja di hotel tersebut sejak Desember 1984 tersebut, saat ini mengajukan gugatan ke pengadilan karena mengalami dikriminasi. Namun pihak hotel enggan menanggapi gugatan tersebut.

Kotbi melanjutkan, setelah serangan terhadap gedung kembar World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 lalu, untuk pertama kalinya ia disuruh mengubah namanya dengan menggunakan nama palsu ‘John’.

“Saya menaruhnya. Saya begitu Shock,” ujarnya kepada The New York Post. Ketika Kotbi mempermasalahkan hal tersebut kepada manajemen hotel, pihak hotel hanya mengatakan, “kami tidak ingin menakuti tamu kami.”

“Lebih baik menjadi Edgar ketimbang Mohamed hari ini,” tuturnya. Kotbi menuduh pihak hotel telah menciptakan sebuah “lingkungan kerja yang bermusuhan”. Ia juga diduga di pengadilan dokumen yang ia berulang kali disebut “teroris” dan “anak laki-laki Al Qaeda.”

 

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: deccanherald.com/abna.ir/Republika

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Mengaitkan Terorisme dengan Terjemahan Al Quran Tidak Tepat

Read Next

Maher Zain: Musisi “Clean Art” yang Peduli Palestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + six =