PENJELASAN KETUA MUI JAGAKARSA USAI DIPERIKSA POLISI

JIC, JAKARTA — Ketua MUI Jagakarsa, KH Sulaiman Rohimin, mengaku hanya memberikan keterangan kepada petugas saat memenuhi panggilan Polres Jakarta Selatan, Rabu (24/1). Kiai Sulaiman dipanggil sebagai saksi dalam kasus dugaan penghinaan.

Kiai Sulaiman pun memenuhi panggilan kepolisian didampingi sejumlah ormas. “Keterangan saja selesai. Klarifikasi saja dengan cara yang ada itu kita jelaskan bahwa tujuan itu sebagai amanah terbaik dari bagian dakwah,” kata KH Sulaiman saat dihubungi Republika.co.id setelah pemeriksaan selesai, Rabu (24/1).

Kiai Sulaiman mengaku hanya menyebar meme dalam pesan berbagi WhatsApp internal MUI Jakarta Selatan. Ia juga mengaku hanya menyebar dan tidak mendesain meme tersebut. Meme itu dinilai polisi menghina ormas tertentu.

“Hanya sebar saja, itu umum saja sudah ada di medsos, bukan didesain oleh kita, juga tidak ada pertikaian dengan ormas terkait,” lanjutnya.

Selanjutnya, ia mengatakan pihaknya mendorong agar adanya jalur dua arah, yakni berupa perdamaian dan perundingan dengan ormas pelapor. Sementara itu, ia mengatakan sebelumnya sudah ada komunikasi sebentar antara dirinya selaku sesepuh NU. Namun, memang belum ada keseriusan membahas soal kasus meme tersebut.

“Hal-hal yang sifatnya terkait silaturahmi belum,” tambahnya.

Wakil Ketua Advokasi Cinta Tanah Air (ACTA), Novel Bamukmin, mengatakan KH Sulaiman hanya diperiksa sebagai saksi. Ditegaskan Novel, Kiai Sulaiman hanya menyebarkan meme yang diduga ormas itu tidak menerimanya, karena tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

“Tadi sudah diperiksa, hanya klarifikasi saja dan permasalahan hanya miskomunikasi saja. Penghinaan tidak ada, beliau hanya share di grup yang sama-sama satu grup WA MUI,” kata Novel, melalui pesan singkat elektronik.

Novel mengatakan, sebelumnya sudah ada komunikasi antara KH Sulaiman dengan tokok ketua NU DKI. Hanya saja, menurutnya, pelapor diduga memiliki kepentingan politik. Karena meme itu, kata dia, hanya masalah internal mereka saja dalam satu grup WhatsApp.

“Diduga ada kepentingan politik karena pelapor dari salah satu partai pendukung penista agama,” lanjutnya. Senada dengan KH Sulaiman, Novel mengatakan pihaknya tengah mencoba mediasi, agar kasus tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

 Sumber: Republika.co.id

Write a Reply or Comment