PERADABAN ISLAM NUSANTARA

Seminar Hijrah Peradaban Islam 1432H yang sempat tertunda pelaksanaannya, akhirnya terlaksana juga di Ruang Aula Serba Guna JIC, Rabu, 22 Desember 2010. Para pembicara, yaitu Prof. Dr. Azyumardi Azra, Dr. Sri Mulyati, MA, dr. H. Fachrudin bin H. Fathullah Harun (mewakili YADIM, Malaysia ), dengan pembahas Dr. Adian Husaini, memberikan banyak informasi yang sangat berharga kepada peserta mengenai peluang yang sangat besar bagi peradaban Islam nusantara, meminjam istilah Azyumardi Azra, untuk tampil memimpin peradaban-peradaban lain di muka bumi ini di tengah kemerosotan peradaban barat . Untuk membagi hasil seminar ini, akan dipaparkan secara berseri melalui kolom ini materi-materi yang disampaikan oleh para pembicara tersebut.

Seminar Hijrah Peradaban Islam 1432H yang sempat tertunda pelaksanaannya, akhirnya terlaksana juga di Ruang Aula Serba Guna JIC, Rabu, 22 Desember 2010. Para pembicara, yaitu Prof. Dr. Azyumardi Azra, Dr. Sri Mulyati, MA, dr. H. Fachrudin bin H. Fathullah Harun (mewakili YADIM, Malaysia ), dengan pembahas Dr. Adian Husaini, memberikan banyak informasi yang sangat berharga kepada peserta mengenai peluang yang sangat besar bagi peradaban Islam nusantara, meminjam istilah Azyumardi Azra, untuk tampil memimpin peradaban-peradaban lain di muka bumi ini di tengah kemerosotan peradaban barat . Untuk membagi hasil seminar ini, akan dipaparkan secara berseri melalui kolom ini materi-materi yang disampaikan oleh para pembicara tersebut.

Sebagai pembicara pertama, Prof. Dr. Azyumardi Azra menyoroti tentang ‘kemerosotan peradaban Barat’ (the decline of Western civilization) yang bukan sesuatu yang baru. Yang menarik, menurutnya, tesis tentang kemerosotan peradaban Barat justru yang mengemukakan pertama kali bukan berasal dari kalangan umat Islam, tetapi dari kalangan Barat sendiri, seperti yang dikemukakan oleh sejarawan terkemuka Oswald Spengler. Spengler pada usia 38 tahun telah menerbitkan karya dua jilid The Decline of the West; jilid pertama diterbitkan pada 1918 dan jilid kedua pada 1922. Dalam bukunya ini, menurut Azyumardi Azra, dia melacak asal usul dan perjalanan peradaban Barat dalam perspektif memudarnya peradaban klasik Eropa. Dia berargumen lebih lanjut, bahwa kemunduran peradaban Barat bahkan sudah bermula sejak abad 20. Dan yang terkini, kemunduran peradaban Barat bukan hanya terjadi di Eropa saja, tetapi juga di Amerika.

Namun menurut Azyumardi Azra, Kemunduran peradaban Barat—baik di Eropa maupun Amerika—dengan demikian tidak otomatis membuat bangkit dan berjayanya peradaban Islam, baik di Nusantara, tegasnya Indonesia, maupun di tempat-tempat lain seperti Timur Tengah. Harus diakui, Dunia Islam umumnya masih menghadapi banyak masalah sejak dari konflik politik yang berkepanjangan di antara negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Asia Selatan khususnya sampai kepada keterbelakangan ekonomi, sosial, budaya, sains-teknologi, pendidikan dan seterusnya. Kaum Muslimin di kawasan Asia Tenggara pun masih menghadapi banyak masalah yang hampir sama; konflik dan kekerasan masih berketerusan di Thailand Selatan dan Filipina Selatan, misalnya. Hanya Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam yang relatif stabil secara politik dan mampu mencapai pertumbuhan ekonomi dan pengembangan SDM secara cukup signifikan. Tetapi—sekali lagi—masih banyak pula pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan di negara-negara ini, khususnya di Indonesia yang merupakan negara Muslim terbesar di muka bumi ini sehingga memungkinkan merebut peluang bagi kebangkitan dan kemajuan peradaban Islam; dan bahkan menjadi lokomotif bagi kemajuan peradaban Islam di muka bumi.

Masih menurut Azyumardi Azra, banyak harapan yang ditumpahkan para ahli luar baik di kalangan Muslim sendiri maupun di kalangan Barat, seperti almarhum Fazlur Rahman, John Esposito, tentang kemunculan kebangkitan Islam dari Nusantara Indonesia. Dengan warisan (heritage) yang luarbiasa kaya—seperti demografi yang besar (88,2 persen dari total penduduk), ormas-ormas Islam yang independen, lembaga-lembaga pendidikan, dan keragaman budaya Muslim yang dilengkapi dinamika intelektual yang vibrant dan progresif sejak awal abad 20 hingga sekarang ini, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar jelas memiliki potensi yang sangat memungkinkan untuk mewujudkan harapan tersebut. Tetapi, aktualisasi potensi itu sangat tergantung pada kemampuan kaum Muslimin sendiri untuk terus lebih meningkatkan kualitas berbagai kelembagaannya yang merupakan warisan (heritage) yang hampir tidak tertandingi negara-negara Muslim lainnya. Pada saat yang sama, kaum Muslimin Indonesia mestilah secara khusus juga meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam al-‘ulum al-diniyyah, tetapi juga dalam ilmu-ilmu yang sering disebut sebagai al-‘ulum al-duniawiyyah. Karena hanya dengan cara itu dapat lahir generasi muda Muslim yang memiliki keunggulan dalam membangun peradaban Islam Nusantara lebih maju lagi, yang pada gilirannya merupakan kontribusi besar pula kepada peradaban dunia dan kemanusiaan secara keseluruhan. (Bersambung) ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Write a Reply or Comment

thirteen − 5 =