PERANAN ULAMA BETAWI DI JAKARTA SEBAGAI KOTA DUNIA

ISLAMIC-CENTER.OR.ID — Kajian tentang ulama Betawi dan peranannya masih bersifat rintisan. Abdul Aziz, salah seorang peneliti Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama dapat disebut sebagai pionir. Melalui penelitiannya yang disponsori oleh LP3ES pada tahun 1996, ia berhasil merekonstruksi genealogi intelektual ulama Betawi dari akhir abad 19 hingga akhir abad 20. Ada enam ulama terkemuka yang berhasil melebarkan pengaruh keulamaan yang menjangkau hampir seluruh bagian Jakarta. Mereka itu adalah KH. Moh. Mansur (Guru Mansur) dari Jembatan Lima, KH. Abdul Majid (Guru Majid) dari Pekojan, KH. Ahmad Khalid (Guru Khalid) dari Gondangdia, KH. Mahmud Ramli (Guru Mahmud) dari Menteng, KH. Ahmad Marzuki (Guru Marzuki) dari Klender dan KH. Abdul Mughni (Guru Mughni) dari Kuningan. Arti penting kajian ini adalah bahwa peranan ulama Betawi tidak saja besar dalam dakwah dan pendidikan, tetapi sekaligus memantapkan identitas kultural Betawi. Penelitian ini juga sekaligus memberikan sumbangan besar bagi jaringan ulama nusantara karena umumnya para ulama Betawi tersebut juga menimba ilmu di tanah suci. Memang peranan ulama Betawi ini Iuput dari liputan para peneliti sebelumnya tentang jaringan ulama nusantara seperti; Zamakhsyari Dhofier, Azyumardi Azra, Abdurrahman Mas’ud, maupun yang terakhir Imawati Hafidz. Meskipun demikian, ulama Betawi memiliki ikatan ideologis dengan ulama nusantara yang lain karena persamaan keyakinan keagamaan yang bersumber pada doktin ahlu sunnah wal jamaah.

Islam madzhab ahlu sunnah wal jamaah diajarkan oleh mereka mulai dari rumah-rumah, majlis taklim hingga madrasah, pesantren dan perguruan tinggi. Hal itu dapat dilihat misalnya dalam setiap majlis taklim yang diselenggarakan oleh kaum ibu memiliki corak yang hampir sama. Pengaruh Alawiyyin dalam ritual dan seremonial juga sangat kuat sebagaimana diterimanya Ratib Hadad sebagai bacaan penting, maulid sebagai upacara utama sepanjang tahun dan haul ulama atau habaib. Pada tataran kehidupan modern, peranan ulama Betawi dalam dunia pendidikan sangat menonjol dalam konservasi keyakinan keagamaan mereka. Di Wilayah DKI Jakarta terdapat 67 Madrasah Aliyah baik negeri maupun swasta. Jumlah MA Negeri yang dikelola oleh Departemen Agama hanya 12 buah. Sebagian besar MA dikelola oleh ulama Betawi berjumlah 38 buah yang tersebar di lima wilayah kota. Sisanya orang Arab mengelola 1 MA, orang Jawa 1 MA, Jawa-Betawi 2 MA, orang Sunda-Banten 1 MA, Ormas Islam Muhammadiyah 1 MA, dan PUI 1 MA dan 8 MA yang tidak jelas siapa yang mengelolanya, tetapi kemungkinan besar juga orang Betawi. Jumlah lembaga pendidikan yang dikelola orang Betawi lebih banyak lagi jika Madrasah Ibtida’iyah dan Tsanawiyah juga dihitung. Tidak sedikit pula yang mengembangkan sekolah umum dan perguruan tinggi.

Institusi majlis taklim, madrasah dan pesantren yang tersebar di seluruh kawasan Betawi mengindikasikan perkembangan peradaban Betawi. Bahkan dalam menatap masa depan beberapa di antara mereka mendirikan sekolah tinggi atau universitas. Untuk menyebut beberapa nama, di Pondok Cede dibangun Universitas Asysyafi’iyyah, di Kampung Melayu terdapat universitas At Thahiriyah dan di Ujung Harapan, Bekasi ada pesantren dan Sekolah Tinggi Attaqwa. Untuk apa pendidikan tinggi tersebut didirikan? Apakah sekedar memenuhi tuntutan kebutuhan akan perlunya gelar kesarjanaan atau dalam rangka “social positioning” masyarakat metropolitan bagi masyarakat Betawi? Bagaimana para ulama membiayai upaya pendidikan dan dakwah yang mereka lakukan. Untuk kepentingan itu Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta di tahun-tahun yang akan datang berupaya menggandeng lembaga-­lembaga pendidikan tinggi tersebut untuk melakukan riset sosial secara bersama-sama dan selanjutnya melakukan analisis sosial untuk pengembangan masyarakat Betawi khususnya dan Jakarta pada umumnya.

 

Ulama dan Jakarta Islamic Centre

Harapan untuk menjadi pusat pengkajian dan pengembangan khazanah intelektual (Islam) Betawi tidak akan pernah berhenti. Pada tahun 2006 dilakukan pengkajian genealogi intelektual ulama Betawi. Dimulai dari meneliti kehidupan ulama Betawi yang dewasa ini masih berkarya, dilanjutkan relasinya dengan sesama ulama dan guru-guru mereka, kelak akan dapat digambarkan jaringan intelektual tersebut. Langkah berikutnya adalah mengumpulkan karya­-karya dan pemikirannya kemudian dikaji isi (analisis teks), pemaknaan dan peranannya dalam membangun dan menguatkan kebudayaan Betawi. Kajian ini telah berhasil mengumpulkan banyak kitab yang ditulis oleh ulama Betawi dan bahkan KH. Muhajirin, Bekasi yang dikenal sebagai ahli ilmu Falak, menulis buku syarah kitab Bulughul Maram sebanyak delapan jilid dalam bahasa Arab. Mualim Syafii Hazami dan ulama lainnya juga memiliki karya-karya yang sangat berharga. Semua itu belum banyak dikenali kecuali oleh kalangan terbatas yakni keluarga dan murid-muridnya. Mengapresiasi karya intelektual Betawi ini yang menjadi “concern” JIC untuk menerbitkan buku-buku karya mereka.

Kajian tentang masyarakat Betawi yang merupakan inti masyarakat Jakarta memiliki signifikansi sebagai berikut: Pertama, memperkuat identitas JIC sebagai lembaga kajian yang menempatkan masyarakat sekitar sebagai subjek dan latar kajian selanjutnya. Kedua, masyarakat Betawi khususnya dapat memberoleh informasi berkaitan dengan transformasi sosial yang terus berlangsung. Ketiga, dengan data dan analisis masyarakat Islam di Jakarta, masyarakat keilmuan dari berbagai perguruan tinggi dan mancanegara dapat memulai kajian tentang Islam kontemporer di Indonesia dengan menjadikan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta sebagai pintu masuk. Insya Allah, melalui kajian-kajian teks, kajian sosial dan kajian aplikatif kita akan dapat menjawab pertanyaan besar Who Are We? Betawi, Jakarta dan Jakarta Islamic Centre itu Prsiapa?

H. Ahmad Syafi’i Mufid

Tags:

Write a Reply or Comment

eleven + two =