PERCAYAKAN KEPADA ULAMA !

Salah satu berita Ibukota di bulan Mei ini yang menjadi perhatian publik adalah tawuran antara warga yang terjadi di beberapa tempat, dari Johar Baru sampai Pasar Rumput. Uniknya, tawuran tersebut seperti sudah direncanakan oleh dua belah pihak yang berseteru karena tawuran bisa terjadi beberapa kali. Jika malam tawuran, paginya akan diulang lagi dengan pelakunya itu-itu juga. Bahkan untuk kasus tawuran antar warga Johar Baru telah terjadi selama puluhan tahun dan bisa dikatakan menjadi agenda tetap bulanan dan mingguan sepanjang tahun 2011 ini . Pemicu tawuran-tawuran terkadang juga sangat sepele dan terkadang tidak jelas.

Salah satu berita Ibukota di bulan Mei ini yang menjadi perhatian publik adalah tawuran antara warga yang terjadi di beberapa tempat, dari Johar Baru sampai Pasar Rumput. Uniknya, tawuran tersebut seperti sudah direncanakan oleh dua belah pihak yang berseteru karena tawuran bisa terjadi beberapa kali. Jika malam tawuran, paginya akan diulang lagi dengan pelakunya itu-itu juga. Bahkan untuk kasus tawuran antar warga Johar Baru telah terjadi selama puluhan tahun dan bisa dikatakan menjadi agenda tetap bulanan dan mingguan sepanjang tahun 2011 ini . Pemicu tawuran-tawuran terkadang juga sangat sepele dan terkadang tidak jelas.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun telah melakukan berbagai upaya untuk menghentikan aksi tawuran. Bahkan telah dibentuk tim khusus untuk mencari tahu apa yang menjadi penyebab dalam aksi tawuran itu? Gubernur DKI Jakrta, Fauzi Bowo, pun telah turun langsung ke lokasi dan sudah membentuk tim yang tidak hanya dari DKI dan Polda tapi juga dari unsur-unsur dari Kodam. Diungkapkan pula oleh gubenur bahwa tim ini nantinya akan meneliti secara komprehensif faktor penyebabnya tawuran yang mungkin saja karena persoalan kepadatan penduduk, kemiskinan dan pengangguran.

Benarkah bahwa persoalan kepadatan penduduk, kemiskinan dan pengangguran di Johar Baru dan di tempat-tempat lainnya menjadi faktor penyebab terjadinya tawuran? Tentu warga Ibukota harus bersabar menunggu hasil kerja dari tim tersebut. Yang pasti di Ibukota, banyak tempat-tempat yang juga menghadapi tiga persoalan tersebut namun belum pernah terjadi tawuran turun-temurun seperti yang terjadi di Johar Baru. Bahkan yang menarik adalah hasil kajian singkat yang dilakukan oleh JIC yang masih perlu disempurnakan dan didalami, yaitu terdapat korelasi antara keberadaan dan kepemimpinan ulama dengan tawuran antara warga Ibukota dimana ulama tersebut berada.

Penjelasan singkat dari kajian ini adalah ,ternyata di tempat-tempat tawuran tersebut keberadaan dan kepemimpinan ulama sangat rendah, untuk tidak mengatakan tidak ada. Pemetaan terhadap sentra ulama non habaib, terutama ulama Betawi, di Ibukota minus Kepulauan Seribu pasca kemerdekaan sampai Orde Baru oleh JIC menunjukkan hal itu. Di sentra-sentra tersebut, nyaris tidak pernah terjadi tawuran antar warga, jika pun ada, hanya kejadian kecil dan tidak sering terjadi, yaitu: Pertama, wilayah Jakarta Timur: KH. Mundzir Tamam di Klender, Prof. Dr. Hj. Tuti Alawiyah di Jatiwarigin, KH. Abu Hanifah di Cibubur, KH. Fakhrurozi Ishak di Jatinegara, KH. Wahfiudin Sakam di Rawamangun, KH. Hifdzillah di Cakung Barat, Syekh KH. Saifuddin Amsir di Kali Malang, KH. Cholil Ridwan di Pasar Rebo, KH. Achmad Shodri di Penggilingan; kedua, wilayah Jakarta Selatan: KH. Rusdi Ali dan Dr. Hj. Suryani Thaher di Kampung Melayu, KH.Bunyamin dan Dr. KH. Abdul Muhith Abdul Fattah di Gondangdia, KH. Shofwan Nidzomi dan Drs. KH. Muhammad Luthfi Zawawi di Pondok Pinang, KH. Kazruni Ishaq di Mampang Prapatan, KH. Zainuddin MZ di Radio Dalam dan Dr. KH. Lutfi Fathullah, MA di Kuningan, Abuya KH. Abdurrahman Nawi di Tebet, KH. Syukron Ma`mun di Kebayoran Baru; ketiga, wilayah Jakarta Pusat: KH. Maulana Kamal Yusuf di Paseban, KH. Yusuf Aman di Senen, dan KH. Syukur Ya`kub di Tanah Abang; keempat, Jakarta Barat: KH. Nur Iskandar SQ di Kebon Jeruk, KH. Mahfudz Asirun di Duri Kosambi, KH. Abdul Mafahir di Rawa Belong, Drs.KH. Syarifuddin Abdul Ghani, MA di Pesalo Basmol dan Kelima, wilayah Jakarta Utara: KH. Mulki di Cilincing, KH. Zulfa Musthofa di Tanjung Priok, KH. Fauzan di Pademangan dan KH. Habibi HR di Koja.

Selain ulama yang menjadi sentra sebagaimana yang disebut di atas, habaib, ulama, ustadz dan ustadzah yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu di kolom ini juga memegang peranan penting untuk mencegah terjadinya tawuran antar warga di wilayahnya. Akhirul kalam, serahkan urusan tawuran kepada ulama melalui MUI dari tingkat provinsi bahkan sampai tingkat kelurahan seperti di Jakarta Utara dan berdayakanlah ulama di tempat-tempat rawan tawuran. Pemerintah juga jangan segan-segan untuk mengucurkan dana kepada mereka untuk menjaga kehidupan sosia. Karena tanpa dana pun, ulama yang saya sebutkan di atas tetap hidup dan tingga di tengah-tengah umat, memimpin umat dan mengenal wilayahnya dengan sangat baik, bekerjanya bahkan nyaris 24 jam tanpa cuti dan pensiun.***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

OPERA VAN DEMOKRASI

Read Next

Ilham Habibie: ICMI Ciptakan Program Akar Rumput

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × five =