MENEMUKAN ISLAM DI JANTUNG KOTA PARIS (PART I)

karpet dgn corak dan motif yang berbeda

Oleh : Haerullah FE ( Kepala Divisi Bid Sosbud PPPIJ)

JIC – Udara dingin kota Paris yang menyapa kami di pagi hari dengan suhu kurang lebih 9-10 derajat celcius. Dari balik jendela hotel suasana kota Paris masih terlihat sepi. Setelah mandi aku bersama teman-teman JIC bergegas menuju restaurant yang tersedia di loby hotel untuk breakfast.

Dalam hal makanan mungkin orang Prancis tergolong cukup pelit atau mungkin tergolong hemat karena hotel tempat kami menginap hanya menyediakan breakfast berupa hot water, coffee, susu, the wine, telur dan roti dan tidak tersedia menu nasi. Alhasil makanan yang tersedia di hotel itu kami lahap dan membawa sedikit untuk cemilan kami di jalan. Cukuplah hari itu 4 butir telur, 2 roti crousein coklat yang ditaburi kismis, 2 gelas susu putih panas yang masuk ke perut ini untuk membenamkan rasa lapar dan dingin yang mendekap tubuh kami sejak semalam.

Kunjungan kami ke perancis menemui seorang curator museum louvre, beliau bernama dokter Yanik. Seorang ahli dalam study sejarah perkembangan dan peradaban Islam. Sebagai seorang curator museum Dr. Yanik banyak memberi masukan yang penting bagaimana menggelola sebuah museum yang menarik. Menurutnya Museum bukan hanya sekedar memajang barang-barang saja, lebih dari itu museum harus menjadi tempat pengetahuan, ilmu yang bermanfaat bagi ummat manusia.

kunjungan ke paris

Saat sesi ramah tamah beliau mengajak kami memasuki sebuah ruang pertemuan khusus, konon tempat itu pernah digunakan oleh “Napoleon Bonaparte”. Tata letak dan desain ruangnya seperti mengajak kami ke masa abad pertengahan era “renaissance“ pencerahan hadir di barat sana. Meja ovalnya sangat besar dari jenis kayu – kayu yang tumbuh di daratan Eropa. Cermin besar dengan bingkai yang dilapisi emas masih terlihat anggun terpasang di tembok dan di tengahnya patung kepala Napoleon yang di letakan menghadap tempat dimana kami melakukan pertemuan.

Lampu-lampu yang dihiasi ukiran khas Eropa yang menyinari ruangan tersebut semakin menambah nuansa klasik. Jendela besar dengan ornamen ukiran kayu dibiarkan terbuka sehingga pancaran matahari menjadi penghangat. Pertemuan hari itu menjadi hal yang istimewa bagi kami. Seorang teman yang sering berpergian ke Eropa mengatakan kekagumannya. “Ruangannya seperti tempat tidur putri raja dalam film – film Cinderella”, kata Muti Mutagiah.

Museum louvre merupakan salah satu museum terbesar di dunia yang menyimpan berbagai koleksi dari semua negara. Museum yang begitu luas ini tidak cukup untuk dijelajahi dalam waktu sehari saja. Namun karena keterbatasan waktu usai pertemuan dan ramah tamah, Dr.Yanik langsung mengajak kami berkeliling untuk melihat beberapa peninggalan Islam. Dalam museum louvre ini setiap ruang menyimpan benda-benda sejarah yang diberi katalog atau content.

Museum yang sangat menarik, ada satu bagian museum yang diberi nama “di Arts de l Islam” sebuah bagian gedung pameran tersendiri yang khusus disiapkan oleh pemerintah perancis dalam menyimpan berbagai koleksi peradaban Islam .

Bahasa Prancis ini tidak mudah untuk kami mengerti, namun kehadiran Pak Subono, salah satu teman kami yang cukup lama tinggal di sana sangat membantu kami dalam memahami alur cerita yang disampaikan oleh Dr. Yanik.

Diawali dengan sebuah display layar lebar seperti video digital dan colophon, sebuah keterangan di sebalah layar yang….. (Bersambung)

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

LAPAN: DUA KALI MATAHARI AKAN TEPAT DI ATAS KA’BAH

Read Next

ROSHDUL QIBLAT HANYA DAPAT DILAKUKAN DI INDONESIA BARAT DAN TENGAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 + 10 =