PERTANYAAN CANTIK DARI SI “EMANSIPASI WANITA”

ISLAMIC-CENTER.OR.ID — Tak banyak yang tahu bahwa sosok itu pernah bertanya kepada Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar atau yang lebih dikenal dengan Kyai Sholeh Darat tentang suatu hal. Dari balik tabir saat pengajian bulanan di kediamannya, Beliau sempatkan bertanya tentang materi yang baru saja disampaikan, yakni  surat Al Fatihah.

“Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?“

Sebelum menjawab pertanyaan dari Raden Ajeng Kartini, sanga Kyai balik bertanya,

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?“

Kemudian Raden Ajeng mencoba menjelaskan maksud pertanyaannya tadi.

“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama (Al-Fatihah), dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?“

Tergugah dengan pertanyaan itu, Kyai Sholeh Darat kemudian menterjemahkan Al-Qurâ’an dalam bahasa Jawa. Beliau juga menuliskannya dalam sebuah buku berjudul Faidhir Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah hingga surat Ibrahim. Dimana buku tersebut dihadiahkan kepada Raden Ajeng Kartini saat beliau menikah dengan R. M Joyodiningrat, Bupati Rembang pada tanggal 12 November 1903.

Raden Ajeng terkesan saat membaca tafsir Surat Al-Baqarah. Dari situlah tercetus kata-kata beliau dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Tot Licht. Ungkapan itu sebenarnya terjemahan bahasa Belanda dari petikan firman Allah SWT, yaitu Minadz Dzulumaati Ilan Nuur yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 257.

Kemudian oleh Armijn Pane, ungkapan itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang. Padahal bila ditilik dari petikan firman Allah SWT, lebih tepat dimaknai sebagai Dari Kegelapan Menuju Cahaya, yang dapat ditafsirkan sebagai pemikiran yang tak terarah menuju pemikiran yang dilandasi hidayah Iman dan Islam.

Dari sini kita mengetahui bahwa Raden Ajeng Kartini mengalami pencerahan dalam dua fase, yaitu fase pra dan selama-pasca mendapat hidayah.

Dalam fase pertama, yaitu fase pra-hidayah, Raden Ajeng Kartini mendapat pencerahan tentang perlunya mendobrak adat-adat lokal, baik perilaku yang mengistimewakan keturunan ningrat daripada keturunan rakyat biasa maupun yang mengekang hak-hak wanita pada umumnya. Menurut beliau, setiap manusia adalah sederajat dan mereka berhak mendapat perlakuan yang sama.

Sedangkan khusus untuk wanita, mereka memiliki hak misalnya untuk memperoleh pendidikan sekolah, hak untuk melakukan aktivitas keluar rumah, hak untuk memilih calon suami. Namun di lain pihak, Raden Ajeng Kartini juga berusaha untuk menghindar dari pengaruh budaya Barat walaupun juga mengakui bahwa perlu belajar dari Barat karena lebih maju dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dalam fase ini Ibu Kartini juga mengajukan kritik dan saran kepada Pemerintahan Hindia Belanda.

Dalam fase kedua, yaitu selama dan pasca mendapatkan hidayah, beliau mendapat pencerahan tentang agama yang dianutnya, yaitu Islam. Bahwa Islam, jika ajaran-ajarannya diikuti dengan benar sesuai dengan Al-Quran, ternyata membawa kehidupan yang lebih baik dan memiliki citra baik di mata umat agama lain. Raden Ajeng Kartini menulis dalam surat-suratnya, bahwa beliau mengajak segenap perempuan untuk kembali ke jalan Islam. Tidak hanya itu, Raden Ajeng Kartini bertekad berjuang untuk mendapatkan rahmat Allah, agar mampu meyakinkan umat lain memandang agama Islam sebagai agama yang patut dihormati. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]. (SAT-red)

Referensi : dari berbagai sumber.

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

KARTINI TANPA KONDE

Read Next

PERANAN ULAMA BETAWI DI JAKARTA SEBAGAI KOTA DUNIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × one =