PESAN MORAL HAJI

JIC – Salah satu misi dan tugas utama Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak. Sebagai sarananya, Allah mensyariatkan sejumlah ibadah. Jika diteliti secara saksama, muara dari semua ibadah itu adalah terbentuknya pribadi yang berakhlakul karimah.

Ibadah haji menjadi salah satu contohnya. Meski sepintas tidak berkait dengan akhlak, pada hakikatnya ibadah tahunan ini sangat kental dengan pelajaran dan pembinaan akhlak. Pelajaran akhlak dari ibadah yang akan mencapai puncaknya pada Dzulhijah ini sudah sudah bisa dipetik sejak kita berniat berangkat haji.

Sebelum berangkat, kita diperintahkan menyiapkan bekal dari sumber yang halal. Bukan dari hasil korupsi atau sumber lain yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab haji yang berpeluang diterima oleh Allah adalah haji yang pem biayaannya dari sumber yang halal. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu tayib (baik) dan tidak menerima kecuali yang baik-baik” (HR Muslim).

Orang yang tidak memperhatikan etika dalam mencari bekal haji tidak akan merasakan haji yang mabrur. Rasulullah bersab da tentang orang yang bekal hajinya dari sumber yang haram, “Akan terdengar suara dari atas langit (kelak di akhirat) seraya memanggil mereka, bekal kamu haram, nafkah kamu pun dari yang haram, dan haji kamu pun tidak mabrur” (HR Thobrani).

Hal itu tidak terlalu mengherankan. Sebab aktivitas paling dominan dalam ibadah haji adalah doa. Bagaimana mungkin doa yang dipanjatkan akan terkabul jika bekal yang kita pakai berhaji berasal dari sumber yang haram. Kita tentu ingat dengan sabda Rasulullah tentang seorang yang safar, pakaian nya lusuh dan berdebu kemudian ia berdoa, tapi tidak dikabul kan. Mengapa? Karena pakaian, makanan, dan minumannya diperoleh dengan cara yang haram.

Tentu saja perintah ini tidak hanya berlaku dalam mencari bekal haji. Namun, dalam mencari bekal hidup pun kita dilarang menggunakan cara-cara yang haram. Dan melalui ibadah haji ini, secara tidak langsung kita diberi pesan agar selalu menjunjung tinggi etika dan akhlak dalam mencari nafkah dan bekal hidup.

Nuansa dalam haji juga mengajari kita agar lebih tawadhu dan tidak sombong. Pakaian yang kita gunakan dalam haji adalah pakaian ihram. Warnanya putih persis dengan kain ka fan yang akan kita kenakan di alam kubur. Tidak ada perbedaan dalam hal ini (pakaian) antara yang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa. Semua harus memakai pakaian ihram.

Pelajaran akhlak yang lain dari ibadah mulia ini, kita diperintahkan menjauhi segala bentuk maksiat. Sebab maksiat di tempat yang suci seperti Makkah jauh lebih tinggi bobot dosanya dari tempat lain. Syekh Ibnu Baz berkata: “Bermaksiat di balad haram jauh lebih besar dosanya dan lebih berat hukumannya daripada bermaksiat di tempat lain.” Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Dan siapa yang bermaksud di dalamnya (wilayah haram) melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih” (QS al-Hajj: 25).

Rasulullah juga bersabda: “Siapa yang berhaji dan ia tidak melakukan rafats (bersetubuh dan berkatakata keji) dan tidak melakukan kemaksiatan maka ia kembali (dari hajinya) seperti seorang anak yang baru dilahirkan ibunya” (HR Bukhari dan Muslim). Semoga dengan merenungi ibadah yang mulia ini kita bisa menangkap pesan-pesan moral yang ada di dalamnya. Aamiin.

Sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

10 + 10 =