POLEMIK BENDERA DIBAKAR, ANTARA SIMBOL HTI DAN PANJI RASUL

Dua pandangan soal bendera dan panji rasulullah, Al-Liwa dan Ar-Rayyah, kembali berpolemik akibat aksi pembakaran bendera oleh Banser di Kabupaten Garut. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

JIC, Jakarta,  — Pembakaran bendera hitam bertuliskan aksara arab oleh anggota Banser di Kabupaten Garut akhir pekan lalu telah menjelma menjadi polemik dan disorot masyarakat luas. Pihak yang bersangkutan sudah menjelaskan motif pembakaran. Namun, pihak yang lain tidak terima begitu saja.

Ketua GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, selaku pimpinan Bantuan Ansor Serbaguna (Banser), menyampaikan benda yang dibakar anggotanya adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pembakaran juga dilakukan, katanya, untuk menghormati kalimat tauhid yang tertera pada lembaran kain hitam tersebut.

Yaqut mengatakan tindakan itu sama dengan ketika menemukan mushaf Alquran tercecer yakni dibakar untuk menjaga kehormatannya dari pada ditemukan di tempat yang tidak semestinya.

“Jika bukan bendera yang ada tulisan tauhidnya, bisa jadi, sama mereka tidak dibakar, tetapi langsung buang saja ke comberan,” kata Yaqut, Senin (22/10).

Meski begitu, akibat polemik yang terjadi, Yaqut meminta agar jajarannya untuk tidak melakukan tindakan provokatif. Ke depan, sambungnya, ketika ada diduga atribut berbau HTI yang telah dilarang keberadaannya agar diserahkan saja ke polisi untuk diamankan.

Di lain pihak, eks juru bicara HTI Ismail Yusanto tidak sepakat dengan pernyataan Yaqut soal pembakaran bendera tersebut. Menurutnya, benda yang dibakar adalah panji Ar-Rayah, bukan bendera organisasinya yang telah dinyatakan terlarang oleh pemerintah. Dia mengatakan itu adalah bendera ar-Rayah yang digunakan Nabi Muhammad SAW.

“Bahkan Kemendagri sudah mengklarifikasi bahwa itu bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia,” kata Ismail.

Soal panji Rasullulah tersebut, Ismail merujuk pada hadits yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi. Menurutnya, di sana disebutkan bahwa Ar-Rayah berwarna hitam dan Al-Liwa berwarna putih. Pengetahuan tentang Ar-Rayyah didapatkan dari Hadis riwayat Tirmidzi yang mengutip Al Barra bin Azib, sementara Al-Liwa mengutip Hadis riwayat Tirmidzi yang diriwayatkan Ibnu Abbas

“Tertulis padanya, Lailahaillallah Muhammad Rasulullah. Ini kalimat yang mulia. Kalimat ini ajaran agama Islam. Kalimat yang membuat kita ini menjadi muslim berkat kalimat itu. Kita menjadi mulia karena kalimat itu,” ujar Ismail.

Sebelumnya, pada wawancara 2 Desember 2017 silam, Ismail menyatakan alasan massa HTI kerap membawa Al-Liwa dan Ar-Rayyah adalah sebagai simbol.

“Karena memang bagian dari usaha organisasi untuk mengenalkan persatuan semua Islam di seluruh dunia,” ujarnya kala itu.

Polemik Bendera yang Dibakar, Bendera HTI atau Panji RasulAl Liwa (kanan) dan Ar-Rayyah (kiri) berada di belakang Ismail Yusanto saat memberikan keterangan pers pada 8 Mei 2017. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Pandangan Syariah

Sementara itu, pandangan berbeda diutarakan Ra’is Syuriah Nahdlatul Ulama Nadirsyah Hosen. Dia pernah menuangkan pandangannya dalam Nadirhosen.net.

Pengajar Fakultas Hukum Monash University, Australia itu menyebut bendera yang digunakan HTI berbeda dengan bendera Liwa dan Rayah Nabi Muhammad pada masa silam.

“Jaman Rasul, tulisan al-Qur’an belum ada titik, dan khatnya masih pra Islam yaitu khat kufi,” mengutip nadirhosen.net.

Penggunaan Al-Liwa dan Ar-Rayyah sendiri, menurut Gus Nadir, dhaif atau lemah jika ditilik dari hadits yang dijadikan rujukan. Dia memberi contoh hadits riwayat Abu Syeikh dan Thabrani.

Pria yang akrab disapa Gus Nadir itu mengatakan riwayat Thabrani dhaif karena ada rawi atau orang yang meriwayatkan hadits berbohong. Menurut Nadir sosok itu adalah Ahmad bin Risydin. Bahkan, kata Gus Nadir, Imam Dzahabi menyebut Ahmad bin Risydin sebagai pemalsu hadits. Sementara itu, hadits riwayat Abu Syeikh dari Abu Hurairah dhaif lantaran rawi bernama Muhammad bin Abi Humaid dinilai mungkar oleh Imam Bukhari.

Gus Nadir lalu menyebut riwayat Abu Syeikh dari Ibnu Abbas memiliki sandaran yang lemah bagi sebuah hadits. Gus Nadir mengatakan hal tersebut merujuk dari penuturan Ibnu Hajar.

“Saya hanya mengutip pendapat Ibnu Hajar yang otoritasnya dalam ilmu Hadits sangat diakui dalam dunia Islam. Kalau ada ulama yang menyatakan hadits Abu Syeikh ini sahih, ya silakan saja. Saya lebih percaya dengan Ibnu Hajar daripada dengan ulama HTI,” tulis putra dari mantan anggota Komisi Fatwa MUI, KH Ibrahim Hosen tersebut.

Gus Nadir menegaskan sejumlah hadits yang menjelaskan warna bendera Rasul dan isi tulisannya itu pun tidak berkualitas sahih.

Dia mengatakan ada riwayat hadits yang menyebut bendera berwarna putih. Ada yang menyebut hitam dan putih. Pula, ada yang menyebut merah dan kuning.

Selain itu, Gus Nadir juga mengatakan ada riwayat yang menyatakan bendera yang digunakan Rasul tidak bertuliskan apa-apa, alias kosong. Sementara riwayat hadits lain menyebut ada kalimat tauhid.

“Riwayat seputar ini banyak sekali, dan para ulama sudah memberikan penilaian. Secara umum tidak berkualitas sahih,” ujar Gus Nadir.

Dalam sejarah Islam, lanjutnya, akan ditemukan fakta yang berbeda. Dia mengatakan ada yang menyebut Dinasti Umayyah menggunakan bendera warna hijau. Sementara Dinasti Abbasiyah menggunakan warna hitam, dan pernah juga menggunakan warna putih.

“Tidak ada perintah Rasulullah untuk kita mengangkat bendera semacam itu; tidak ada kesepakatan mengenai warnanya, dan apa ada tulisan atau kosong saja, dan tidak ada kesepakatan dalam praktek khilafah jaman dulu, serta para ahli Hadis seperti Ibnu Hajar menganggap riwayatnya tidak sahih,” kata Gus Nadir.

 

sumber : cnnindonesia.com

Write a Reply or Comment

20 − 13 =