POLISI JUJUR VERSI GUS DUR ITU BERNAMA JENDERAL HOEGENG (2)

Gus Dur menyebut Jenderal Hoegeng sebagai salah satu polisi jujur di Indonesia. (AFP PHOTO/Sonny TUMBELAKA).

2. Petisi 50 dan Hoegeng Polisi Jujur

JIC,— Hoegeng pada akhirnya diberhentikan oleh Presiden Soeharto sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971. Dia sendiri ditawari oleh pemerintah untuk menjadi Duta Besar (Dubes) di Kerajaan Belgia, namun ditolak.

Pada saat itu, banyak yang menilai bahwa tawaran menjadi dubes adalah cara rezim Soeharto untuk membuat Hoegeng ke luar Indonesia. “Tugas apapun saya akan terima, asal jangan jadi dubes, Pak,” jawab Hoegeng kepada Soeharto dalam buku Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan.

Namun rupanya, kala itu Presiden Soeharto menegaskan bahwa sudah tidak ada jabatan lagi untuk Hoegeng di Indonesia. Hal itu yang kemudian menjadi cikal bakal Hoegeng berhenti jadi kapolri saat itu juga. Dia digantikan oleh Jenderal Pol Moh Hasan yang usianya jauh lebih tua daripada Hoegeng.

Usai selesai karirnya di kepolisian, Hoegeng yang dikenal juga menggemari seni tarik suara beberapa kali tampil mengisi acara musik The Hawaiian Seniors di TVRI. Kala itu, dia tampil bersama istrinya, Meri, dan sejumlah musisi lain. Dia pun kerap menghabiskan waktunya dengan melukis sebagaimana hobinya selama ini.

Seiring berjalannya waktu, Hoegeng bergabung dengan kelompok Petisi 50 pada 1980an. Kelompok ini merupakan insan-insan yang kerap mengkritisi pemerintahan rezim Soeharto, khususnya atas sejumlah masalah politik, ekonomi, dan keamanan.

Diketahui, kelompok ini beranggotakan sejumlah tokoh nasional besar, seperti Jenderal A.H. Nasution, Jenderal (Purn) M. Jasin, Azis Saleh, Ali Sadiki, Hoegeng, serta tokoh-tokoh lain.

Hanya saja, anggota kelompok ini terimbas oleh pemerintahan Soeharto yang kala itu dinilai represif. Mereka dimasukkan pemerintah dalam daftar hitam, sehingga sebagian anggota kelompok ini dicegah untuk berpergian ke luar negeri atau dikucilkan. Bukan hanya itu, mereka pun kerap diawasi oleh aparat intelijen.

Dari sisi lain, mereka yang memiliki hubungan darah dengan anggota Petisi 50 pun dipersulit kehidupannya. Beberapa usaha bisnis mereka sampai gulung tikar.

“Didit diminta membuang nama Hoegeng di belakang nama Didit agar izin usahanya bisa disetujui,” cerita putra Hoegeng, Aditya Soetanto.

Kini, Hoegeng telah tiada. Hanya kisah-kisah dan cerita keteladanannya dapat didengarkan oleh khalayak banyak di masa sekarang ini. Dia meninggal 14 Juli 2004 setelah menderita stroke sekian lama.

Namun keteladanannya tak lekang dimakan waktu hingga membuat seorang Gus Dur melontarkan pujian dalam guyonan, bahwa hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng.

(mjo/osc)

Sumber : cnnindonesia.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

POLISI JUJUR VERSI GUS DUR ITU BERNAMA JENDERAL HOEGENG

Read Next

PPDB ZONASI RW DKI JAKARTA DIBUKA KHUSUS LULUSAN 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + eight =