QALBU DAN LAILATUL QADAR

Pada peluncuruan dan bedah buku karya KH. Wahfiudin Sakam, muballigh nasional dan trainer spesialis qalbu serta Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC) , yang berjudul QLP, Qalbu Linguistic Programming: Memprogram Qalbu dengan Bahasa di Aula Serba Guna JIC, Selasa, 14 Agustus 2012, dibahas salah satu materi utama dari buku tersebut, yaitu qalbu sebagai pusat berpikir dan berdzikir. Pembahasan ini sangat menarik karena mengkoreksi kekeliruan fatal yang selama ini terjadi dan diamini hampir semua pakar bahwa pusat berpikir itu otak.

Pada peluncuruan dan bedah buku karya KH. Wahfiudin Sakam, muballigh nasional dan trainer spesialis qalbu serta Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC) , yang berjudul QLP, Qalbu Linguistic Programming: Memprogram Qalbu dengan Bahasa di Aula Serba Guna JIC, Selasa, 14 Agustus 2012, dibahas salah satu materi utama dari buku tersebut, yaitu qalbu sebagai pusat berpikir dan berdzikir. Pembahasan ini sangat menarik karena mengkoreksi kekeliruan fatal yang selama ini terjadi dan diamini hampir semua pakar bahwa pusat berpikir itu otak.

Menurut KH. Wahfiudin Sakam di buku tersebut, kekeliruan ini, yaitu otak sebagai pusat berfikir, bermula dari doktrin lama ilmu saraf yang diperkenalkan oleh Santiago Y Cajal pada tahun 1913. Doktrin itu menyatakan, “Pusat jalur saraf pada orang dewasa cenderung menetap, final, dan tidak berubah”. Sebagai Peraih Nobel bidang Fisiologi dan Kedokteran, tentu pendapatnya menjadi dogma dalam ilmu saraf hingga hampir satu abad.

Uraian dari doktrin itu adalah karena struktur otak terbentuk pada masa bayi, maka setelah itu, otak hanya berubah sedikit dan tidak ada neuron baru terbentuk pada otak dewasa. Struktur dan Fungsi otak tidak bisa diubah! Maka apa yang terjadi? Semua buku yang membahas otak memuat ilustrasi yang berlebihan tentang struktur otak, area, fungsi, dan ukurannya, dengan warna tinta yang mencolok, seperti kepastian yang tak berubah.

Jika pun ada perubahan atau tambahan, itu terjadinya hanya partikular, di bagian kecil saja. Terjadi jika seseorang melakukan aktivitas “mempelajari dan mengingat” berupa tambahan bentuk Axon (cabang pengirim dari neuron), Dendrite (cabang penerima dari neuron), Synapse (sambungan antar neuron) serta memperkuat synapse yang sudah ada. Tidak mengubah struktur dan fungsi yang ada!

Akibat diterapkannya doktrin ini, selama berpuluh-puluh tahun, masyarakat menjadi pesimis! Seperti, tidak ada harapan bagi orang yang kena stroke untuk sembuh karena tidak mungkin rehabilitasi bagi otak orang dewasa yang rusak akibat stroke; juga tidak mungkin memperbaiki sinaps yang patologis, penyebab gangguan psikiatrik (OCD, depresi).

Willian James (1842-1910), bapak psikologi eksperimental di AS, pertama kali memperkenalkan kata plastisitas ke dalam ilmu otak. Menurutnya “Materi organik, khususnya jaringan saraf, diberkahi tingkat plastisitas yang luar biasa”. Otak juga memuat manifestasi dari: kepribadian/karakter, pengetahuan, emosi, ingatan, keyakinan.

Dari penelitian yang terbaru, otak dapat berubah (neuroplastisitas), yaitu: pertama, menumbuhkan neuron baru, mengganti fungsi dan tugas neuron tertentu dengan neuron lain; kedua, membentuk penghubung baru, mengaktifkan penghubung lama yang sudah tertidur, memotong penghubung yang patologis; ketiga, membentuk sirkuit baru, mengubah dan menghentikan sirkuit yang terganggu; keempat, mengembangkan, memperbaiki, mengalihkan fungsi area.

Penelitian yang terbaru tersebut juga menyatakan bahwa perubahan otak dapat dipicu oleh Pengalaman Sensorik Eksternal, seperti: melihat, mendengar, membaui, pengecapan, rabaan/sentuhan; dan oleh Aktivitas Mental Internal, misal: berfikir bermain piano.

Kesimpulannya, Pengalaman Sensorik Eksternal dan Aktivitas Mental Internal ternyata dapat mengubah korteks motorik otak!

Walau otak bisa berubah, tetap saja otak hanya sebagai reseptor (penerima) atau kontroler (pengontrol). Namun, fungsi sebagai reseptor atau kontroler hanya pada penerimaan dari luar berupa Pengalaman Sensorik Eksternal. Lalu, siapa atau apa yang melakukan Aktivitas Mental Internal sehingga dapat merubah otak? Jawabannya: Qalbu!

Qalbulah yang melakukan Aktivitas Mental Internal. Qalbu adalah pusat kesadaran, perasaan, kecerdasan, keyakinan dan kemauan. Maka dengan qalbulah sebenarnya manusia berpikir, dan qalbu adalah inti dari kemanusiaan!

Jika qalbu adalah pusat kecerdasan, bagaimana cara qalbu bekerja? Lalu, apa saja yang mempengaruhi qalbu dalam bekerja? Untuk jawaban dari pertanyaan pertama tentang cara qalbu bekerja adalah: Pertama, adanya stimulus yang diserap oleh panca indra; kedua, panca indra mengirim sinyal kepada otak sebagai saraf sensorik, otak pun menerjemahkan stimulus tersebut; ketiga, kemudian otak mengirimkan hasil terjemahannya tersebut kepada qalbu atau jiwa. Qalbulah yang akhirnya memahami stimulus yang diberikan; keempat, selanjutnya qalbu mengirimkan perintah kepada otak untuk melakukan sesuatu; kelima, otak dengan saraf motoriknya memerintahkan organ tubuh tertentu untuk melakukan sesuatu.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi qalbu disebut stimulus, yaitu: Suara, gerak, cahaya, aroma, temperatur, makanan, tidur, seks. Selain ini tentu masih ada lagi, tapi di buku ini, saya hanya membahas delapan ini saja.

Lalu, apa kaitan qalbu dengan Lailatul Qadar? Sayyid Qutb di dalam kitabnya Fi Zilalil Quran menyatakan bahwa malam Lailatul Qadar bermandikan cahaya Allah, cahaya malaikat, dan cahaya ruh sampai terbit cahaya fajar. Dikarenakan Lailatul Qadar adalah cahaya dan bukan benda fisik yang bisa dipegang, maka ia hanya bisa ditangkap oleh qalbu yang bersih dan bercahaya. Jadi, wajarlah jika bertahun-tahun kita ber`itikaf di sepuluh terakhir Ramadhan untuk mendapatkan Lailatul Qadar, tetapi ia belum pernah menghampiri kita karena mungkin qalbu kita yang belum berfungsi maksimal, kurang bersih dan minim cahaya, karena kita keliru telah menjadikan pusat pikir dan dzikir adalah otak, bukan qalbu.

Akhirulkalam, Anda dapat memiliki buku QLP, Qalbu Linguistic Programming: Memprogram Qalbu dengan Bahasa dengan menghubungi nomor HP 081314165949 dan pada kesempatan ini Keluarga Besar JIC mengucapkan Selamat `Idul Fithri, 1 Syawal 1433H, semoga kita semua menjadi orang-orang yang bertaqwa. Aamiin. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Write a Reply or Comment

four × 3 =