RADIO DAKWAH

Jika tidak ada Radio Cendrawasih, mungkin kita tidak akan pernah melihat kitab fiqih Taudhih Al-Adillah karangan mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami. Kitab ini disebut-sebut sebagai masterpiece, sebab sampai hari ini masih menjadi salah satu rujukan umat Islam untuk menjawab persoalan-persoalan fiqih kontemporer.

 

Jika tidak ada Radio Cendrawasih, mungkin kita tidak akan pernah melihat kitab fiqih Taudhih Al-Adillah karangan mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami. Kitab ini disebut-sebut sebagai masterpiece, sebab sampai hari ini masih menjadi salah satu rujukan umat Islam untuk menjawab persoalan-persoalan fiqih kontemporer. Kitab Taudhih Al-Adillah berbeda dengan kitab-kitab fiqih lainnya. Selain ditulis dalam bahasa Indonesia, kitab ini berisi kasus-kasus problem fiqih yang benar-benar terjadi di masyarakat yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan oleh pendengar Radio Cendrawasih di era tahun 60-an dan 70-an serta dijawab secara komprehensif dan mendalam dengan menyertai kitab-kitab fiqih sebagai rujukan dari mazhab Syafi`i. Kitab Taudhih Al-Adillah yang terdiri atas 7 jilid ini, selain dicetak di Indonesia juga pernah dicetak di Malaysia. Karena permintaan yang tetap tinggi, kini kitab tersebut sedang dalam proses penulisan dan cetak ulang daengan kemasan yang menarik.

Memang di era-era tersebut, radio menjadi salah satu media publik yang gratis dan dapat dinikmati masyarakat. Atas dasar ini, radio juga dijadikan media dakwah karena sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan agama. Karena animo yang begitu tinggi, beberapa ulama Betawi terkemuka saat itu turut mendirikan stasion radio dakwah. Di antaranya sadalah Radio Asy-Syafi`iyyah (RAS) yang didirikan oleh KH. Abdullah Syafi`i pada tahun 1967 dan Radio Attahiriyah (FM Muslim) yang didirikan oleh KH. Thohir Rohili.

Dari kedua radio ini, kaum muslimin di Jakarta mendengarkan ceramah agama dari kedua ulama tersebut. Bahkan, melihat kesuksesan radio dakwah yang didirikan dan dipimpin oleh gurunya, dua orang murid Betawinya juga mendirikan radio di tempatnya masing-masing. Keduanya adalah  Abuya KH. Abdurrahman Nawi Pimpinan Pondok Pesantren Al-Awwabin, Depok yang mendirikan sebuah Pemancar atau studio radio dakwah FM dengan nama Radio Islamic Center Al-Awwabin (RIDA) dan KH. A Syanwani  Pendiri Yayasan Pendidikan Islam Ahmad Syanwani (YAPIAS),  Bogor yang mendirikan studio radio dakwah FM dengan nama Radio Dakwah dan Pengembangan Islam Ahsanta yang kini dilanjutkan oleh Anaknya Abi KH. A. Tadjuddin Syanwani yang berlokasi di Tanah Saeal, Bogor. Radio Ahsanta FM, walau jangkauannya masih sangat terbatas, sangat digemari pendengarnya karena memiliki ciri khas, yaitu senantiasa memutarkan rekaman ceramah Almarhum KH. Abdullah Syafi’i setiap hari Jum`at pagi. Hal ini bukan karena sebagai penghormatan kepada guru ayahnya, tetapi memang KH. Abdullah Syafi`i pada masa hidupnya dikenal sebagai singa podium, orator ulung. Siapa pun yang mendengarkan ia berpidato, pasti akan terpancing emosinya. Dan ternyata ketika disiarkan ulang melalui radio, para pendengar Ahsanta FM menyukainya.

Kini. radio dakwah tetap digemari oleh umat Islam di Jakarta, baik yang berada di gelombang AM, seperti Multazam, maupun FM seperti RAS dan FM Muslim yang masih tetap bertahan. Atas dasar ini, Jakarta Islamic Centre (JIC), pada tahun 2010 lalu mulai merintis radio dakwah JIC di gelombang 107.7 FM dan 1152 AM. Selain itu, telah dikembangkan juga radio streaming melalui website www.radio.islamic-center.or.id dengan harapan dapat menembus keterbatasan jangkauan daya pancar gelombang frekuensi FM dan AM.

Pada tahun 2011 ini, dengan adanya keberadaan kepala bidang Infokom, yaitu Drs. H. Syafruddin Majid; eksistensi Radio JIC diidealkan dapat menjadi suara peradaban Islam Jakarta. Program acara Radio JIC dikemas dalam bentuk radio pendidikan yang melingkupi konsepsi 3-H (Head, Heart, Hand) yakni pendidikan yang menggugah intelektual, spiritual atau akhlak dan keterampilan (skill) namun tetap dalam bingkai komunitas masyarakat muslim berbasis kemasjidan. Karena ciri peradaban tidak bisa dipisahkan dengan khazanah karya-karya intelektual, adab atau tingkah laku akhlakul karimah dan bentuk karya fisik manusia.

Oleh karenanya, program-program siaran on air yang ditawarkan radio JIC cukup beragam yang dapat menyentuh ketiga unsur tersebut. Di mulai dengan program Khairul Ummah pada pukul 03.30 – 07.00 WIB, dilanjutkan dengan ragam informasi berita Islam dari Jakarta dan dunia Islam dalam program Spirit of JIC dan Bincang Pagi tentang kemasjidan dan keislaman, Setelah live Kultum Dzuhur dari Masjid JIC, ada program Catatan Ummi yang mengupas beragam topik seputar dunia muslimah. Pada sore pukul 16.00- 17.30 dikemas program The Secret of Wisdom, The Secret of Commandment, The Secret of Mother, The Secret of Us, dan The Secret of Health yang merupakan kajian sore. Setelah Maghrib ada Satu Hati, dilanjutkan dengan Bincang Malam dan Kajian Riyadush Shalihin.

Keberadaan Radio JIC memang menjadi kepanjangan tangan dari program-program kajian yang dilaksanakan oleh Masjid Raya JIC, namun sebagai radio dakwah, tentu saja Radio JIC membutuhkan dukungan dari umat Islam sebagai stake holdernya agar dapat bertahan, berkembang, dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya demi kejayaan peradaban Islam. ***


Oleh: Paimun A. Karim dan Rakhmad Zailani Kiki

Karyawan JIC

Write a Reply or Comment

five × three =