RAJAB BULAN YANG AGUNG

JIC – Hari-hari ini kaum Muslimin memasuki bulan Rajab, kemudian Sya’ban dan Ramadhan. Kata Rajab (رجب) berasal dari lafadz ‘rajjaba-yurajjibu-tarjib’, yang berarti mengagungkan.

Rajab disebut mulia atau agung karena adanya penghormatan orang-orang Arab dahulu pada bulan Rajab.

Karena itu, menjadi kebiasaan orang-orang Arab pada masa jahiliyyah, ketika memasuki bulan Rajab, para penjaga Ka’bah membuka pintu Ka’bah sepanjang bulan tersebut. Padahal biasanya pintu Ka’bah dibuka hanya pada setiap hari Senin dan Kamis.

Tentang keagungan bulan Rajab tersebut, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan keberkahan pada bulan Rajab. Seperti  disebutkan dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

Artinya: Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jika memasuki bulan Rajab, beliau berdoa yang maknanya: ‘Ya Allah Berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban serta berkahilah kami pada bulan Ramadhan’. (H.R. Ahmad dan Ath-Thabarani).

Namun hadits ini dianggap dha’if menurut Syaikh Al-Albany.

Pada umumnya juga, terutama di Indonesia, bulan Rajab identik dengan bulan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahui ‘Alaihi Wasallam. Umumnya dikatakan tanggal 27 Rajab. Walaupun beberapa ulama berselisih pendapat kapan tepatnya terjadinya Isra’ Mi’raj tersebut, karena memang tidak disebutkan secara tekstual di dalam hadits.

Demikian pula sejenis perayaan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam, seperti difatwakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa sebenarnya tidak dikenal dari kalangan ulama kaum Muslimin terdahulu.

Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, tidak pernah mengkhususkan malam Isra’ Mi’raj untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena juga tidak diketahuinya tanggal yang pasti dari malam Isra’ Mi’raj tersebut.

Peristiwa Isra’ Mi’raj itu sendiri diambil dari dua buah kata yang penuh arti yaitu Isra’ yang berarti “perjalanan malam” dan Mi’raj yang berarti “naik ke langit”. Perjalanan malam yang dimaksud adalah perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi ke Masjidil Aqsa di Al-Quds, Palestina.

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj inilah umat Islam menerima perintah ibadah shalat fardhu lima waktu sehari semalam.

Maka, dikatakan juga oleh ulama bahwa shalat bagi orang-orang beriman adalah bagai Mi’rajnya, naik ke langit, maknanya ibadah khas kepada Allah. Kiasan ulama tasawuf menyebutkan:

الصَّلاَةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Shalat itu adalah mi’raj bagi orang-orang yang beriman”.

Adapun munculnya perayaan Isra’ Mi’raj memang tidak ada dalil dari Al-Quran maupun Al-Hadits yang menyatakan bahwa Isra’ Mi’raj sebagai salah satu hari besar yang patut diperingati. Juga tidak ada contoh dari Nabi bahwa beliau pernah memperingati atau merayakan Isra’ Mi’raj.

Peringatan Isra’ Mi’raj menurut sebagian kaum Muslimin disebut sebagai masalah muamalah atau masalah non-ibadah mahdhah, yang menurut kaidah fiqih hukum asalnya adalah halal dan boleh sampai ada dalil yang menunjukkan atas keharamannya.

Sebagaimana juga Maulid Nabi, yang awal mula digagas Panglima Perang Shalahuddin Al-Ayyubi (1174-1193 M.) untuk menggugah ruhul jihad kaum Muslimin melalui gerakan cinta Nabi.

Demi melihat banyak kaum Muslimin yang mulai mengendur semangatnya berperang melawan kaum Salibis dan mulai lunturnya kecintaan kepada baginda Nabi, maka Shalahuddin menggagas suatu majelis semacam pengajian bertemakan cinta Nabi. Shalahuddin kemudian mengambil tema kelahiran Nabi (Maulid) sebagai titik awal menggelorakan semangat berjuang itu.

Salah satu kegiatannya adalah mengadakan lomba cinta syair atau karya puisi, yang  dimenangkan oleh seorang ulama dan sastrawan bernama Al-Barzanji. Karya syair itu kemudian dikenal sebagai Al-Barzanji yang generasi berikutnya kemudian membacakan Al-Barzanji itu pada peringatan Maulid Nabi.

Melalui titik awal peringatan Maulid Nabi itulah, kemudian menggelora kembali kaum Muslimin untuk melanjutkan perjuangan mempersatukan langkah, menggalang kekuatan, melawan kaum kuffar. Sampai kemudian tercapailah pembebasan Masjid Al-Aqsha dan wilayah Palestina keseluruhan oleh pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Shalahuddin Al-Ayyubi.

Dalam kaitan ukhuwwah islamiyyah itulah, seiring semakin kedewasaan perjuangan kaum Muslimin, maka saatnya lebih memperbesar persamaan, persaudaraan dan persatuan kesatuan, dengan saling memahami perbedaan, tanpa harus saling bermusuhan.

Yang jelas keagungan bulan Rajab harus membawa perubahan kebaikan pada diri kita semua dalam juang kaum Muslimin.

Sumber : mirajnews.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

SOAL KRITIKAN AMIEN RAIS, JUBIR PRESIDEN: KADANG KOMENTARNYA ENGGAK JELAS

Read Next

PEJABAT TERKEMUKA TURKI: EROPA AKAN MENJADI WILAYAH MUSLIM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + eighteen =