REDAM KERESAHAN, DATA MASJID RADIKAL DIMINTA DIUNGKAP

Ketua DPR Bambang Soesatyo, di Jakarta, Kamis (1/2). (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)

JIC, Jakarta,  — Data soal 40 masjid terpapar radikalisme harus diungkap agar tak menimbulkan keresahan dan kesalahpahaman di masyarakat. Polri dan Kementerian Agama diminta untuk menanganinya.

Ketua DPR Bambang Soesatyo mendorong Polri dan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam dan Badan Penelitian dan Pengembangan, Pendidikan, dan Pelatihan Kementerian Agama untuk menyelidiki data 40 masjid radikal itu ke Biro Pendidikan Mental Spritual (Dikmental) DKI.

“Agar tidak terjadi salah paham dan keresahan yang mendalam di masyarakat,” ujar dia, dalam siuaran persnya, Kamis (7/6).

Selain itu, ia meminta Badan Infak Sadakah (Bazis) DKI Jakarta memberikan program pembinaan dan sosialisasi kepada seluruh ulama dan pengurus masjid soal pentingnya menanamkan rasa nasionalisme demi mencegah terorisme dan radikalisme dari tempat ibadah.

“Meminta Komisi I DPR mendorong BIN bekerjasama dengan Kemenag untuk segera melakukan pengawasan yang intensif terutama terhadap 40 masjid tersebut, agar dilakukan tindakan pencegahan sesuai dengan UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme,” imbuh politikus yang akrab dipanggil Bamsoet ini.

Sebelumnya, Sandi menyebut ada 40 masjid di Jakarta yang terpapar radikalisme. Masjid-masjid itu menghadirkan penceramah yang menyampaikan dakwah intoleran dan memecah belah umat.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga, Jakarta Selatan, Sabtu (2/6).Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga, Jakarta Selatan, Sabtu (2/6). (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)

Meski sudah mengantongi nama-nama masjid tersebut, Sandi enggan membeberkannya ke publik.

“Kita tidak bisa umbar nama masjidnya. Sudah terpantau, bisa kita berikan pendekatan sendiri. Tugas kita sama-sama memastikan tidak ada radikalisasi,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono menyebut ada kemungkinan Sandi sebenarnya tak memiliki data tersebut. Pasalnya hingga kini Sandi enggan membeberkan nama empat puluh masjid itu.

“Bisa saja [tidak punya data] harusnya tidak boleh dilakukan seorang Sandiaga Uno. Jangan main-main dalam ranah-ranah sensitif,” cetus dia, Rabu (6/6).

Dia menantang Sandi untuk mengungkap data tersebut jika benar ada. Hal ini harus dilakukan guna mencegah semakin liarnya perdebatan di masyarakat.

“Ini sangat blunder, sangat blunder, membuat masyarakat jadi gaduh,” tambahnya.

Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta Ashraf Ali juga meminta Sandi untuk membeberkan nama-nama masjid yang diduga terpapar radikalisme.

Pasalnya, ada sekitar empat ribu masjid di Ibu Kota. Pria yang juga menjabat Dewan Pembina Dewan Masjid Indonesia DKI Jakarta itu meminta Sandi menjelaskan nama masjid, nama penceramah, dan definisi radikalisme yang dimaksud.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius, Jakarta, Rabu (30/5).Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius, Jakarta, Rabu (30/5). (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)

“Kalau memang seperti itu, diperjelas agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda, nanti jadi confuse,” katanya.

Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius meminta Kementerian Agama memberi perhatian terhadap masjid yang terpapar radikalisme.

Menurutnya, radikalisme di masjid di Jakarta sudah terdeteksi sejak tahun 2012.

“Saya dapat informasi penelitian 2012 juga sudah ada itu. Nanti Kementerian Agama kita minta atensi,” ujar Suhardi di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (7/6).

Terpisah, Kepala BIN Jenderal Polisi Budi Gunawan membenarkan ada sejumlah masjid dan pesantren yang terpapar paham radikalisme. Namun ia enggan merinci informasi yang dimililiki oleh BIN.

“Ya memang ada beberapa masjid, pondok pesantren yang terpapar paham radikalisme,” ujar Budi di Gedung DPR, Jakarta.

Lebih dari itu, Budi enggan menanggapi soal penyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uni perihal 40 masjid di Jakarta terpapar radikalisme.

“Mohon maaf kami tidak bisa buka di sini,” tandas dia. (arh)

Sumber : cnnindonesia.com

Write a Reply or Comment

11 + 11 =