Reposisi Ulama

Almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid  semasa hidupunya pernah menyatakan bahwa pesantren-pesantren di Indonesia sedang mengalami krisis dalam menghasilkan ulama yang berkualitas. Pendapat yang sama juga dilontarkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin bahwa Muhammadiyah saat ini juga  mengalami krisis ulama. Almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid  semasa hidupunya pernah menyatakan bahwa pesantren-pesantren di Indonesia sedang mengalami krisis dalam menghasilkan ulama yang berkualitas. Pendapat yang sama juga dilontarkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin bahwa Muhammadiyah saat ini juga  mengalami krisis ulama.

Pernyataan kedua tokoh nasional di atas bukan tanpa alasan, melainkan dengan data yang akurat. Bahkan secara kasat mata dapat dilihat, baik  di tingkat nasional maupun lokal, ulama di Indonesia yang berkualitas dapat dihitung dengan jari. Padahal, umat Islam di Indonesia merupakan mayoritas bahkan di dunia sehingga dibutuhkan banyak ulama yang berkualitas yang dapat melayani umat dengan proporsi yang ideal. Selain krisis ulama yang berkualitas, ulama yang ada juga menghadapi banyak persoalan dalam menjalankan perannya. Terutama persoalan yang datang dari luar, yaitu menghegemoninya peradaban Barat di tengah-tengah umat. Liberalisme dan sekulerisme adalah dua dari produk peradaban Barat yang sangat terasa mempengaruhi cara berpikir dan cara pandang  sebagian besar umat tentang ulamanya. Sikap ulama selama ini dianggap mengekang kebebasan berpikir atau  ulama hanya berperan pada persoalan-persoalan normatif dan fiqhiyyah, sedangkan mereka yang alim di bidang ekonomi, sains dan teknologi tidak disebut sebagai ulama adalah beberapa buktinya. Jika seperti ini keadaanya, maka apakah perlu dilakukan reposisi peran ulama?   

Seminar yang diadakan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC) pada hari Rabu, 8 Desember 2010 di Hotel Gren Alia Ckini, 8 Desember 2010 dengan judul Reposisi Peran Ulama di Tengah Hegemoni Peradaban Barat mencoba memberikan jawaban dari pertanyaan di atas dari  tiga nara sumber yang dihadirkan, yaitu: Dr. KH. Hidayat Nurwahid, MA, Prof.Dr.Komarudin Hidayat, MA, dan Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, MA. Adapun sebagai moderatornya adalah Dr. KH. Hamdan Rasyid, MA.

Dr. KH. Hidayat Nurwahid, MA mengawali seminar ini dengan  menyatakan bahwa Islam hadir ditengah peradaban maju yang sangat hegemonik, yaitu peradaban Yunani, Mesir, Persia, dan Cina. Pada perjalanannya, Islam sangat ramah dan pandai dalam berkomunikasi dan bersosialisasi kepada peradaban-peradaban maju dunia yang sudah hadir sebelumnya. Sehingga jika dilakukan reposisi ulama, maka yang dilakukan sebenarnya adalah reaktualisasi ajaran dan keramahan Islam sebagai pewaris jaran para nabi. Bentuk reposisi peran ulama bukan hanya pada ajaran (isme), melainkan pada apek sosial, budaya, ekonomi dan seluruh aspek kehidupan lainnya secara menyeluruh (syamiil).  Karena kata ulama di dalam Al-Qurt`an adalah marfu (pelaku atau subyek), demikian pula peran ulama bagi umatnya, maka ulama harus aktif sebagai pelaku yang inspiratif di tengah hegemoni peradaban lain.  Selain itu, tidak ada dikotomi dalam Islam antara ulama sains dan ulama agama. Pembahasan tentang resposisi peran ulama semestinya sudah selesai. Peran Rasulullah saw sebelum hijrah lebih dominan kepada Nabiyyan `Abdan, sedangkan fase Madinah lebih dominan kepada Nabiyyan Malikan. Sekulerisme memberikan pemisahan putus antaraa diskursus ”agama” dengan ”negara”. Sehingga jika kita mengakui itu, berarti kita telah termakan oleh dogma sekuler tersebut. Hegemoni peradaban Barta tidak selalu bermakna negatif. Rasulullah saw. bersabda, ”Ambilah hikmah darimana pun dia keluar. Karena orang beriman lebih pantas untuk mengambilnya.” Sebagaimana Rasulullah saw. memerintahkan Khalid Abdullah al-Kinani untuk mengambil ilmu-ilmu masyarakat Yunani. Ulama saat ini ditantang dan dituntut untuk dapat mengartikulasikan peradaban-peradaban positif selain Islam untuk kemajuan Islam.

Sedangkan Prof. Dr. Komarudin Hidayat, MA menyatakan bahwa dunia barat saat ini sangat fobia terhadap ajaran Islam. Sekulerisme identik dengan menghargai hak orang lain, namun terhadap Islam mereka terkesan melakukan standar ganda. Era globalisasi informasi menjadikan Islam mudah dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat dunia, termasuk Barat. Fenomena Institusi IAIN berubah menjadi UIN adalah suatu perkembangan positif, bukan pendangkalan ajaran agama. UIN adalah simbol Islamisasi ilmu pengetahuan di Indonesaia, sebagai upaya untuk menyambukan kembali peradaban Islam yang terputus. Sama seperti Hidayat Nurwahid, ia menyatakan bahwa tidak ada dikotomi sama sekali dalam Al-Qur`an antara ulama sains dan ulama agama. Semua orang yang pandai (alim) dikatakan sebagai ulama dalam Al-Qur`an. Namun sayangnya, saat ini terjadi pengkotakan ilmu pengetahuan. Hegemoni peradaban dalam sejarah umat manusia lebih disebabkan oleh faktor perebutan kekuasaan dan harta (duniawi), bukan pertimbangan agama (ukhrawi). Barat saat ini diartikan dengan Amerika.  Berbeda ketika dahulu,  Barat  lebih diartikan dengan Inggris. Dalam studi agama, Yahudi, Nasrani dan Islam disebut dengan barat. Islam di Maghrib, Islam di India, Islam di Pakistan, Islam di Turki, Islam di Pakistan, Islam di Asia Tenggara, masing-masing mempunyai ciri khas yang berbeda.

Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat kemudian melengkapi dengan  menyatakan bahwa bukan Al-Qur`an yang harus dikritisi, tetapi penafsiran para ulama terdahulu lah yang harusnya dikritisi, khususnya dalam masalah-masalah yang sudah tidak sinkron dan relevan lagi dengan zaman sekarang ini.  ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki
Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Write a Reply or Comment

19 − twelve =