RIWAYAT JAKARTA ISLAMIC CENTRE : LOKASI PSK TEBAR PESONA YANG BAKAL JADI TEMPAT ISOLASI PASIEN CORONA

JIC – Pada lahan luas berukuran 11 hektar di sudut Jalan Kramat Jaya, Koja Jakarta Utara, berdiri lima bangunan yang berada dalam satu area Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta. Orang awam lebih mengenal kawasan tersebut mengikuti nomenklatur lainnya, Jakarta Islamic Centre.

Jakarta Islamic Centre saat ini menjadi suatu pusat keberagaman aktivitas umat Muslim, khususnya di DKI Jakarta. Masjid Raya Jakarta Islamic Centre, bangunan utama yang menjadi pusat berkumpulnya jemaah, berdiri megah di area ini. Saban Jumat atau pada hari-hari besar umat Muslim seperti Idulfitri dan Iduladha, masjid berkapasitas lebih dari 20.000 orang itu tak pernah sepi jemaah.

Program-program kajian Islam serta acara-acara yang berkaitan dengan inovasi umat Muslim dari berbagai kalangan dan usia juga selalu menjadi rangkaian atraksi tahunan dari  Jakarta Islamic Centre. Di luar dari lima bangunan di area Jakarta Islamic Centre yang jadi pusat kegiatan keagamaan, area outdoor-nya juga menjadi daya tarik tersendiri.

Rindangnya pepohonan dalam area terbuka Jakarta Islamic Centre sering menjadi pemikat warga sekitar Koja untuk berolahraga atau sekadar bersantai di sana. Tak pelak, setiap tahunnya 2 sampai 3 jutaan orang tercatat mengunjungi tempat tersebut, sebagian bahkan berkunjung dari Eropa hingga Afrika.

Bukan ke Jakarta Kalau Tak ke Kramat Tunggak

Di balik semua itu, belum tentu setiap orang yang pernah mengunjungi Jakarta Islamic Centre tahu betapa hitamnya area tersebut di masa lampau. Sebelum jadi pusat keagamaan seperti sekarang, lahan tempat Jakarta Islamic Centre berada adalah pusat kemaksiatan. Ia pernah berjaya puluhan tahun silam sebagai lokalisasi terbesar di Jakarta yang gaungnya terdengar seantero Asia Tenggara. Dahulu, orang-orang menyebut kawasan itu dengan nama Kramat Tunggak.

Paimun Karim, Kepala Sub Divisi Pengkajian Jakarta Islamic Centre yang mempelajari sejarah Jakarta Islamic Centre, menceritakan asal usul kawasan tersebut. Pada tahun 1970-an, Jakarta dipimpin seorang gubernur kontroversial bernama Ali Sadikin. Diceritakan Paimun, kala itu Ali Sadikin bermaksud membuat Jakarta sebagai kota metropolitan.

Namun, para wanita tuna susila penghuni jalan-jalan protokol Ibukota di malam hari nyatanya menjadi kendala untuk menciptakan konsep metropolitan yang Ali Sadikin kehendaki.

Paimun Karim, Kepala Sub Divisi Pengkajian Jakarta Islamic Centre

Tanpa membinasakan geliat prostitusi di jalan-jalan protokol itu, Ali Sadikin kemudian memutuskan memindahkan para wanita tuna susila tersebut ke tempat yang ‘jauh dari peradaban’. Kramat Tunggak di sudut utara Jakarta lantas dijadikan pilihan. Paimun berkelakar, Kramat Tunggak di tahun 70-an tak lebih dari ‘tempat jin buang anak’.

“Dulu tempat jin buang anak, tahun 70-an. Oleh Pak Ali Sadikin dipilih sebagai lokasi, namanya dulu resosialisasi,” kata Paimun saat berbincang di Wisma Jakarta Islamic Centre, Selasa (29/9/2020).

“Kan banyak PSK di jalan-jalan protokol Jakarta, kayak di Senen, Kramat, Pasar Baru, itu semua dipindah ke sini. Ke tempat yang jauh dari masyarakat,” sambungnya.

Pusat kemaksiatan di Kramat Tunggak pun bergeliat di tahun 70-an. Di momen-momen awal, pemerintah DKI Jakarta era Ali Sadikin memindahkan 79 pekerja seks komersial dari jalan-jalan protokol Ibukota ke Kramat Tunggak. Para PSK itu dipindahkan seiring dengan 28 orang lainnya yang tak lain adalah para muncikari.

Dalam kurun waktu 20 tahun, jumlah PSK di Kramat Tunggak melonjak pesat hingga menyentuh angka 2.000-an. Padahal, maksud awal pemindahan para PSK ke lahan 11 hektar itu adalah untuk pembinaan.

“Jadi awalnya itu mereka dipindahkan supaya dibina untuk dikembalikan ke masyarakat. Tapi malah jadi berkembang, puncaknya sampai 2.000 orang sekitar tahun 1997-1998,” kata Paimun.

Kramat Tunggak akhirnya berkembang pesat menjadi lokalisasi terbesar di Jakarta yang namanya terdengar sampai ke penjuru Asia Tenggara. Bahkan, kata Paimun, wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Jakarta pada masa itu belum merasa lengkap apabila tak mampir ke Kramat Tunggak. Apalagi, Kramat Tunggak kala itu terkenal dengan para PSK-nya yang asli Indonesia, di mana kebanyakan wanita-wanita asal pesisir Pantai Utara.

“Orang-orang ke sini kalo nggak singgah ke Kramat Tunggak, ibaratnya nggak sampe Jakarta,” kata Paimun.

Di masa-masa kelamnya, Kramat Tunggak tak hanya menjadi tempat pria hidung belang mencari kepuasan dari para PSK. Aksi kejahatan dan kriminalitas lainnya pun muncul seiring berkembangnya lokalisasi tersebut. Peredaran narkoba semakin pesat, pesta minuman keras pecah setiap malam, bahkan pembunuhan pun kerap kali terjadi di tempat itu. Sampai-sampai, lanjut Paimun, warga yang tinggal di dekat Kramat Tunggak sering dicap buruk oleh warga di luar Jakarta Utara.

“Pokoknya apapun yang maksiat ngumpul aja di situ semua,” ucapnya.

Dari Lokalisasi Jadi Tempat Islami

6 Oktober 1997, Jakarta dipimpin seorang gubernur baru bernama Sutiyoso. Selama kepemimpinannya, salah satu hal yang diharapkan warga dari  Sutiyoso adalah mengubah Kramat Tunggak menjadi lebih baik. Paimun bercerita, kala itu desakan umat Muslim sangat kuat lewat masifnya aksi unjuk rasa menuntut penutupan Kramat Tunggak.

Berdasarkan desakan tersebut, ditambah hasrat pribadi menciptakan pusat keagamaan Islam di Jakarta, Sutiyoso akhirnya bertindak. Pelan tapi pasti, Sutiyoso mulai membereskan permasalahan utama di Kramat Tunggak. Para PSK serta muncikari yang hidup di sana diberdayakan untuk menjalani hari esok yang lebih baik.

“Sutiyoso buat kebijakan untuk para wanita tuna susila ini kembali ke kampung masing-masing. Mereka juga mendapatkan pendidikan tata boga, tata busana, dan lain sebagainya,” ucap Paimun.

Tak banyak perlawanan dari para penghuni Kramat Tunggak saat pemerintah kala itu hendak melakukan penataan. Selain karena para PSK dan muncikari sudah mendapat ganti rugi, keberadaan Kramat Tunggak pun tak mendapatkan banyak dukungan dari warga yang tinggal di sekitarnya.

Setelah bisa mengambil hati para penghuni Kramat Tunggak, rencana jangka panjang pembangunan Jakarta Islamic Centre pun dimulai. Singkatnya, pada tahun 2000 lahan 11 hektar di Kramat Tunggak sudah dibebaskan. Pembangunan Masjid Raya Jakarta Islamic Centre kemudian berjalan di tahun 2001.

Di tahun 2002, Masjid Raya Jakarta Islamic Centre dipakai untuk salat Jumat berjamaah pertama kalinya. Lantas, pada 4 Maret 2003 akhirnya diresmikan oleh Sutiyoso. Paimun menyatakan, berdirinya Jakarta Islamic Centre tak bisa terlepas dari gagasan pribadi Sutiyoso.

“Beliau punya sendiri. Ide masjid itu ide Pak Sutiyoso murni,” kata Paimun.

Gagasan itu berawal ketika di sela-sela menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso berangkat umroh ke Mekkah, Arab Saudi. Di sana, Sutiyoso sempat berpikir bahwa kala itu provinsi yang dipimpinnya belum memiliki pusat keagamaan Islam. Berdasarkan pemikiran itu, di suatu waktu Sutiyoso berangkat ke Amerika Serikat untuk bertemu dengan Azyumardi Azra yang saat itu menjabat sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah.

Pertemuannya dengan Azyumardi tak lain untuk mendiskusikan gagasannya soal membangun pusat keagamaan Islam di Ibukota. Gagasan itu disetujui Azyumardi dan akhirnya dikonsultasikan kepada berbagai pihak, terutama masyarakat, ulama, dan pihak terkait lainnya. Sutiyoso bahkan sempat mengirimkan tim ke Mesir, Iran, Inggris, dan Prancis untuk studi banding terkait pembangunan Jakarta Islamic Centre.

Dengan total biaya pembangunan dan perawatan hingga Rp 700 miliar, Jakarta Islamic Centre akhirnya bisa berdiri hingga saat ini dan menjadi salah satu pusat keagamaan Islam terbesar di Indonesia.

Disiapkan Tangani Corona

Fungsi Jakarta Islamic Centre sebagai pusat keagamaan Islam tak sebatas adanya aktivitas peribadatan dan acara-acara Muslim saja. Dengan adanya lima bangunan (satu masjid, satu bangunan diklat, dan tiga bangunan untuk kepentingan bisnis), Jakarta Islamic Centre kerap kali difungsikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk kepentingan lainnya.

Di masa pandemic Covid-19 ini, Jakarta Islamic Centre turut dilibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait upaya penanganan pasien corona. Kekinian, penginapan Wisma Jakarta Islamic Centre dipilih Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai tempat isolasi pasien Covid-19.

Dijelaskan Paimun, Wisma Jakarta Islamic Centre sedianya rutin digunakan sebagai tempat prajabatan bagi para CPNS sejak jaman Basuki Tjahaja Purnama. Namun, fungsi wisma sebagai penginapan para CPNS DKI Jakarta tersebut belakangan dikesampingkan ketika pandemi melanda sejak awal tahun. Sejak awal pandemi, Wisma Jakarta Islamic Centre sudah tak terpakai lagi hingga akhirnya keputusan memilihnya sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 diteken Anies Baswedan.

Menyusul keputusan tersebut, pihak pengelola Wisma Jakarta Islamic Centre berbenah. Bangunan 11 lantai tempat penginapan itu diperbaiki dan dibersihkan, tak lupa juga disemprot disinfektan.

Dari total 155 kamar yang ada dari lantai 3 sampai lantai 8, 56 kamar di antaranya sudah siap menampung warga Jakarta yang terpapar Covid-19. Sementara itu, kamar-kamar lainnya belum siap dijadikan tempat isolasi karena masih dalam kondisi rusak. Seiring dengan dipakainya Wisma Jakarta Islamic Centre sebagai tempat isolasi pasien Covid-19, kamar-kamar yang masih rusak diupayakan untuk diperbaiki.

“Banyak yang rusak. Karena kan ini pernah dipakai untuk prajabatan CPNS. Tapi kita berharap nanti sekalian jalan kita perbaiki sama-sama. Jika memungkinkan, kita susun untuk dipakai semuanya,” jelas Paimun.

Paimun menambahkan bahwa saat ini pihaknya sudah membereskan kamar-kamar yang akan ditempati tersebut. Selain itu, ada beberapa bagian di wisma tersebut yang harus dibenahi, terutama terkait interiornya.

“Karena ini kawasan seperti hotel, kita tadi lihat ada lantai karpet yang harus ditutup, karena kan nggak boleh ada karpet di bawah,” kata Paimun.

“Kemudian bahan-bahan yang sifatnya nyimpan virus kan harus dibersihkan, ada kursi-kursi kain juga akan kita perbaiki, jadi masih butuh beberapa proses untuk perbaikan,” sambungnya.

Paimun pun berharap keterlibatan Jakarta Islamic Centre dalam upaya penanganan Covid-19 dapat menjadi manfaat bagi orang banyak.

“Kita berharap bisa mendukung, men-support keinginan Pak Gubernur menjadikan pengentasan Covid-19 ini bisa dengan baik, bisa diselesaikan, dan kita bisa sama-sama berharap nanti di DKI bisa hilang Covid-19 ini,” tutup Paimun.

Sumber : jakarta.tribunnews.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

JAKARTA ISLAMIC CENTER, DARI LOKALISASI MENJADI PUSAT AGAMA ISLAM TERBESAR DI IBU KOTA

Read Next

DKI-PERBOLEHKAN-ISOLASI-MANDIRI-DI-RUMAH-INI-16-SYARATNYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + 8 =