Warning: getimagesize(): Filename cannot be empty in /home/islamicc/public_html/wp-content/plugins/wp-open-graph/output.class.php on line 306

SALAT PAKAI SUTRAH, WAJIBKAH ?

JIC – Kata sutrah secara bahasa berasal dari kata satara-yasturu yang artinya menutupi, menghalangi atau menyembunyikan. Al-Barakati di dalam kitab Qawaid Al-Fiqh menyebutkan bahwa sutrah itu “Segala yang diletakkan di depan orang yang shalat baik berupa tongkat atau lainnya”.

Ad-Dardir dalam Asy-Syarhu Ash-Shaghir menyebutkan tentang yang dimaksud dengan sutrah adalah “Benda yang dijadikan oleh orang yang salat sebagai mencegah orang lewat di depannya”.

Al-Buhuti dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qina’ menegaskan bahwa yang dimaksud dengan sutrah adalah “Benda yang menghalangi baik berupa tembok atau sesuatu lainnya”.

Perkataan Nabi ‘jika salah seorang dari kalian salat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah‘ menunjukkan bahwa orang yang salat ketika itu terkadang salat menghadap sesuatu dan terkadang tidak menghadap pada apa pun.

Karena konteks kalimat seperti ini tidak menunjukkan bahwa semua orang di masa itu selalu salat menghadap sutrah. Bahkan menunjukkan bahwa sebagian orang menghadap ke sutrah dan sebagian lagi tidak menghadap ke sutrah.

Hadits Abu Sa’id Al-Khhudri radhiallahu’anhu, Nabi SAW bersabda: “Jika salah seorang dari kalian salat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. Jika ia enggan dicegah maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan” (H.R. Al-Bukhari)

Para ulama memaknai kata “tanpa menghadap tembok” disini dengan tanpa menghadap sutrah. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata: “Perkataannya ‘tanpa menghadap tembok’; maksudnya adalah tanpa menghadap sutrah. Hal itu dikatakan oleh Asy-Syaafi’i

Meski kalangan yang mengatakan wajib, mengatakan bahwa “tidak menghadap ke tembok” itu bukan berarti tidak menghadap apapun. Bisa jadi menghadap tongkat, batu atau yang lainnya.

Rasulullah SAW pernah salat di lapangan terbuka sedangkan di hadapan beliau tidak terdapat apa-apa” (HR. Ahmad, Al Baihaqi)

Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Aku pernah di menunggangi keledai bersama Al Fadhl (bin Abbas) dan melewati Rasulullah SAW yang sedang salat mengimami orang-orang di lapangan terbuka. Lalu kami turun dan masuk ke dalam shaf, dan beliau tidak berkata apa-apa kepada kami tentang itu.

Lalu, bagaimana hukum sutrah?

Semua ulama sepakat bahwa sutrah bagi orang shalat itu memang disyariatkan. Tetapi ketika berbicara hukumnya, ada sedikit perbedaan, yaitu antara yang mewajibkan dan mengatakan sunnah. Bisa dikatakan ulama dari zaman salaf hampir tidak ada yang mengatakan bahwa hukum sutrah bagi orang shalat adalah wajib.

Jumhur ulama madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa sutrah bagi orang shalat hukumnya adalah sunnah. Meski demikian, mereka berbeda pendapat tentang kesunnahannya.

Hanbali : Imam & Munfarid

Sutrah sunnah hanya bagi imam dan munfarid saja. Ini adalah pendapat mazhab Al-Hanabilah.

Hanafi Maliki : Yang Mau Lewat

Sedangkan menurut para ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyyah, sutrah itu hanya disunnahkan bagi mereka yang dihawatirkan akan ada orang lewat, seperti shalat di jalanan atau di padang pasir.

Syafi’i : Sunnah Mutlak

Menurut Syafi’iyyah dan salah satu pendapat Hanabilah, hukumnya sunnah muthlak tanpa ada batasan.

Kalau diteliti lebih jauh, ternyata yang mewajibkan itu tidak ada seorang pun dari ulama, kecuali hanya ada dua orang saja, yaitu As-Syaukani dan Al-Albani.

ketika kita menyaksikan banyak masjid yang menyediakan kayu-kayu mirip nisan kuburan yang disebut sebagai sutrah, ternyata tokoh yang awal mula mewajibkannya adalah Al-Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya.

Namun harus diakui bahwa kitabnya populer di masa sekarang, yaitu Nailul Authar. Nailul Authar sebenarnya juga bukan kitab fiqih, melainkan kitab hadits. Di beberapa fakultas hadits di beberapa perguruan tinggi Islam, kitab ini memang banyak digunakan.

Lalu tokoh yang kemudian mempopulerkan kewajiban sutrah di masa sekarang ini adalah Syeikh Nashiruddin Al-Albani. Dilihat dari masa hidupnya, Al-Albani bukan ulama yang hidup di masa salafunasshalih, tetapi termasuk tokoh kontemporer yang belajar secara otodikak di perpusatakan.

Dalam kitabnya Ashlu Shifati Shalah An-Nabi, Al-Albani berfatwa : “Sutrah itu harus dipakai oleh imam dan yang shalat sendirian”.

Rata-rata jumhur ulama bisa dikatakan tidak ada yang mewajibkan sutrah dalam shalat. Para fuqaha salaf yang sudah sampai level mujtahid mutlak sepakat tidak mewajibkan. Keempat mazhab yang muktamad seperti mazhab AlHanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan AlHanabilah semuanya sepakat bahwa hukum shalat bersutrah dalam shalat bukan merupakan kewajiban, wajib melainkan hanya sekedar sunnah saja hukumnya.

Bahkan Ibnu Rusyd al-Hafid (w. 595 H) menegaskan bahwa sutrah itu hanya sunnah dan bukan wajib merupakan kesepakatan semua ulama.

“Dan para ulama –seluruhnya- telah berijmak akan istihbabnya (sunnahnya) sutroh untuk diletakan antara orang yang sholat dengan kiblat, baik jika sedang sholat sendirian atau tatkala menjadi imam”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Ibnu Qudamah (w. 620 H), ketika menjelaskan hukum sutrah. Beliau menuliskan sebagai berikut: “Saya tidak mengetahui ada khilaf tentang kesunnahannya (sutrah orang shalat)”.

Maksudnya para ulama dahulu semuanya mengatakan bahwa sutrah hukumnya sunnah. Beliau tidak mengetahui bahwa ada pendapat lain selain sunnah.

Demikian sahabat, kesimpulannya adalah . Shalat pakai sutrah itu bukan kewajiban tetapi hanya sunnah saja hukumnya, sehingga apabila seorang shalat tanpa memakai sutrah hukumnya tetap sah. Yang berfatwa kesunnahan sutrah adalah seluruh ulama 4 mazhab sepanjang 12 abad lamanya.

Bahkan di masa kita ini juga tidak kita temukan sutrah di Masjid Al-Haram Mekkah atau Masjid Nabawi Madinah. Sebab para ulama di Saudi Arabia rata-rata bermazhab Hambali, yang tidak mewajibkan sutrah.

Namun demikian, shalat dengan memakai sutrah itu tidak terlarang dan tetap sunnah. Sehingga tidak mengapa juga kalau shalat pakai sutrah. Asalkan jangan sampai muncul statement bahwa kalau shalat wajib pakai sutrah. Wallahualam Bissawab

Sumber : gomuslim.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MASJID RAYA JIC AJAK MASYARAKAT SHALAT IDUL ADHA 1441 H DENGAN PROTOKOL COVID-19

Read Next

NASKAH KHUTBAH IDUL ADHA 1441 H MASJID RAYA JIC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − four =