SALMAN AL FARIZI DALAM PERJALANAN MENCARI KEBENARAN

Salman Al Farizi dalam Perjalanan Mencari Kebenaran

JIC – Saat awal berkembangnya dakwah Rasulullah SAW, kabar tentang datangnya seorang nabi dari negeri Mekah ternyata juga sampai ke perkampungan Yahudi di Madinah. Termasuk didalamnya Bani Quraizah. Ada salah satu pemuda yang sangat tertarik akan kabar datangnya Agama Islam. Ia adalah Salman Al Farizi.

Salman Al Farizi adalah seorang anak bangsawan keturunan persia. Ia adalah pemeluk agama majusi namun karena keingin tahuannya begitu besar dalam mencari kebenaran, maka ia rela meninggalkan kampung halamannya juga meninggalkan agama majusi kemudian ia memeluk agama nasrani. Dalam perjalanan mencari kebenaran, ia berpindah dari satu tokoh nasrani ke tokoh nasrani yang lain. Hingga ia mendengar kabar bahwa telah datang Nabi yang sebagaimana sudah dituliskan di Injil.

“Jika engkau mampu, maka temuilah ia dan lihatlah ciri-ciri kenabian sebagaimana yang dijelasakan dalam agama kita tentang Nabi terakhir.” Kata pemuka agama Nasrani. “Ia berasal dari Mekah, tidak mau memakan harta sedekah, hanya menerima harta jika diberikan sebagai hadiah dan pada tubuhnya ada ciri kenabian yang dapat engkau lihat.”

Salman pun pergi menuju Mekah dengan satu rombongan pedagang, namun sayangnya di tengah jalan ia dikhianati dan dijual pada seorang laki-laki Yahudi dari Bani Quraizhah di Madinah. Dan itulah episode yang Allah persiapkan untuk Salman agar bisa bertemu dengan Rasullulah SAW. Karena saat itu beliau beserta para sahabatnya hendak berhijrah ke Madinah. Setelah kabar kedatangan Nabi di Madinah, Salman tidak menyianyiakan waktunya untuk mencari tahu bagaimana kepribadian Nabi Muhammad SAW dan terbuktilah semua ciri kenabian yang tertera dalam kitab Nasrani yang dulu disampaikan oleh pemuka Nasrani kepada Salman. Lalu segeralah Salman berikrar masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW, namun sayang karena ia seoran budak maka majikannya marah besar mendengar kabar bahwa dirinya telah beriman kepada Rasulullah SAW.

Hari-hari selanjutnya dilewati Salman dengan penuh cacian dan makian bahkan siksaan oleh majikannya. Salman terkadang mengadukan keadaannya kepada Rasulullah SAW. Hingga Rasulullah menyarankan Salman untuk meminta kebebasan kepada Majikannya. Ketika mendengar permintaan atas pembebasan dirinya, maka sang majikan memberi syarat berupa 300 biji bibit kurma lalu menanamnya hingga tumbuh ditambah dengan uang sejumlah 40 auqiyat. Salman bersedia meskipun ia tidak memiliki gambaran dari mana ia akan mendapatkan harta sebanyak itu.

Mendengar penjelasan Salman atas syarat yang diberikan oleh majikannya, maka Rasulullah meminta para sahabat untuk membantu Salman. Setiap sahabat menyumbang bibit kurma. Ada yang menyumbang sepuluh bibit, 20 bibit, 50 bibit hingga terkumpullah bibit sebanyak 300 biji. Melihat hal itu Salman begitu terharu, karena ia bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang budak, namun Rasul dan sahabat begitu peduli padanya. Saat Salman sedang bersiap menanam bibit kurma tersebut Rasul datang menghampirinya untuk membantu ia menanam bibit kurma itu.

“Demi Allah tidak ada bibit kurma yang mati, bahkan tumbuh menjadi subur, gemuk dan menghasilkan banyak buah,” cerita Salman dikemudian hari. Usai menanam kurma, Rasulullah SAW memanggil Salman dan memberika sesuatu seraya berkata, “Ambilah ini, dan juallah kemudian bayarkan tebusanmu kepada majikanmu.” Salman melihat ternyata emas sebesar telur burung yang telah diberikan Rasul padanya.

Awalnya Salman ragu untuk menerimanya, karena ia begitu telah terlalu merepotkan Rasullah. Namun dengan bijak Rasulullah membesarkan hatinya hingga Salman mau menjualnya kemudian membayarkan tebusan sebesar 40 auqiyah kepada majikannya. Ketika majikan Yahudi menerima tebusan tersebut tuntaslah pembebasan diri Salman, hingga kini ia menjadi manusia merdeka. Salman berulang kali mengucapkan rasa syukur kepada Allah yang telah memberi hidayah kepadanya dan memberi kesempatan untuk berkumpul dengan Rasulullah dan para sahabat yang seiman yang begitu dalam rasa persaudaraannya. Akhirnya kini Salman dikenal sebagai seorang pejuang Islam yang setia dan Tangguh. Terlebih idenya tentang strategi dalam perang Khandak. Semoga Allah meridhoi Salman sang pencari kebenaran.

(sumber: islampos/w-islam.com)

Write a Reply or Comment

six + 5 =