SEMUA BANDARA ARAB SAUDI DIPRIVATISASI TAHUN 2017

JIC, JEDDAH — Semua bandara di Arab Saudi akan diprivatisasi tahun ini.  Kepala Otoritas Umum untuk Penerbangan Sipil (GACA) Abdul Hakim Al-Tamimi mengatakan, langkah tersebut diambil untuk memperbaiki tingkat layanan untuk penumpang.

Strategi privatisasi GACA bertujuan untuk mentransfer semua bandara Arab Saudi ke perusahaan-perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Saudi Civil Aviation Holding Co. Setelah itu, bandara akan dialihkan kepemilikan perusahaan induk tersebut ke Dana Investasi Publik (PIF).

“Dan untuk mengubah sektor yang ditargetkan menjadi pusat yang menguntungkan untuk menutupi biaya dan menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya,” kata Al-Tamimi dikutip dari Arabnews, Kamis (10/8).

Al-Tamimi menambahkan, privatisasi akan dilakukan melalui tiga metode. Pertama, berkaitan dengan pengalihan bandar udara ke perusahaan, mirip dengan apa yang terjadi di Bandara Internasional Raja Khaled di Riyadh. Kemudian dewan direksi bandara dibentuk untuk memiliki kewenangan dalam pengelolaan perusahaan.

Metode kedua adalah operasi dan pemeliharaan, mirip dengan apa yang terjadi di Bandara Internasional King Abdul Aziz yang baru di Jeddah. GACA akan menanggung pembiayaan untuk mendirikan proyek tersebut dan akan berbagi pendapatan dengan investor.

Kemudian, metode ketiga adalah sistem BTO (build, operate and transfer), seperti yang dilakukan dengan Bandara Pangeran Mohammed bin Abdul Aziz di Madinah, dan dengan bandara Taif, Hail, Qassim dan Yanbu, yang menandatangani kontrak dengan investor. Karyawan akan dipindahkan ke tanggung jawab investor, yang menanggung biaya modal proyek dan membagi pendapatan dengan wewenang.

Kepala GACA mengatakan privatisasi akan selesai secara bertahap dan dalam bentuk kelompok. “GACA akan menjadi regulator dan pengendali sektor penerbangan pada tahap berikutnya, dalam hal menutup proses privatisasi,” ujarnya.

Arab Saudi telah mempekerjakan Goldman Sachs untuk mengelola penjualan saham di Bandara Internasional Raja Khalid, privatisasi besar pertama bandara di Kerajaan Inggris. Laporan tersebut berdasarkan laporan yang disampaikan Reuters, yang juga menyatakan jika Saudi Civil Aviation Holding Co berencana untuk menjual saham di bandara tersebut, tanpa mengungkapkan kerangka waktu untuk penjualan.

Ukuran dan perkiraan nilai saham tidak diketahui secara langsung. Namun, bandara tersebut merupakan bandara terbesar kedua di Arab Saudi setelah Bandara Internasional Abdul Aziz, Jeddah.

Ketua Saudi Civil Aviation Holding Co. Faisal Al-Suqair, mengatakan, konversi bandara ke perusahaan merupakan langkah awal dalam privatisasi bandara. “Bandara ini, setelah dipindahkan ke perusahaan, akan diatur ulang untuk beroperasi secara komersial dan menjadi lebih efisien secara praktis dan finansial sebelum diprivatisasi,” katanya.

Percepatan Layanan Bandara

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menggelar pertemuan dengan pihak Kementerian Haji Arab Saudi. Kedua belah pihak membahas upaya perbaikan layanan haji, utamanya terkait percepatan proses layanan di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah.

Ketua PPIH Arab Saudi Ahmad Dumyathi Basori mengatakan, pertemuan dengan Kementerian Haji membahas persoalan teknis tentang proses administrasi di bandara yang saat ini dirasa memakan waktu. Kementerian Haji menginginkan agar pendorongan jamaah ke hotel bisa dilakukan lebih cepat lagi. Harapan yang sama juga diinginkan oleh PPIH Arab Saudi.

“Intinya kita sepakat untuk bekerja sama mempercepat proses yang ada di bandara. Sehingga, jemaah bisa sampai ke pemondokan dalam waktu yang singkat,” ungkap Dumyathi di Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah.

Menurut Dumyathi, jamaah haji Indonesia keluar melalui tiga pintu Bandara AMAA Madinah. Selain pintu Terminal Haji, jamaah haji Indonesia juga ada yang keluar melalui Terminal Zero dan Bandara Internasional. Hal ini menyebabkan pengaturan terhadap barang bawaan, dan pengarahan ke arah bus, mengalami kelambatan.

Selain itu, sistem keamanan Arab Saudi juga sangat ketat. Maklum, saat ini mereka harus melayani jutaan umat muslim yang datang untuk berhaji.

“Jadi kita bertemu semalam, menyamakan presepsi bahwa kita (PPIH) semua harus memperbaiki layanan, dan mereka (Arab Saudi) juga. Jadi ada titik temu dan kesepakatan bahwa semuanya memperbaiki layanan. Semuanya ingin mempercepat proses yang ada di bandara,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Kementerian Agama menyampaikan apresiasi atas perbaikan layanan yang telah dilakukan Kementerian Haji. “Kita sampaikan apresiasi ini kepada mereka atas upaya mereka yang secara terus menerus melakukan perbaikan pelayanan haji, melalui e-hajj, tata kelola, percepatan proses kedatangan jamaah, keluar dari bandara, dan lain-lain,” tandasnya.

Sumber ; ihram.co.id

Write a Reply or Comment