SENARAI ULAMA-ULAMA BETAWI TEMPO DULU (Part I)

JIC – Satu golongan ulama, yang mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran, peletakan dasar-dasar, dan pembentukan budaya Islam di Betawi adalah ulama Betawi. Mereka terdiri dari orang-orang Betawi yang pergi ke Mekah beberapa lama untuk menuntut ilmu dan pulang sebagai haji. Mereka merupakan saluran yang efektif untuk selalu terus memberikan pengajaran agama baik kepada muslim di Betawi maupun para pendatang dengan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantarnya.

Pada abad ke-19 itu Mekah merupakan jantung kehidupan keagamaan di Hindia Belanda. Terbukti dengan semakin mengalirnya orang-orang untuk belajar di negeri tersebut, terutama dari Betawi tak terhitung jumlahnya. Menurut Snouck Hurgronje, di perempat ketiga abad ke-19 M sesepuh para ulama Jawi di Mekah adalah Junaed berasal dari Betawi. Lebih dari 50 tahun Junaed menetap di Mekah dan ia mengajar para mukminin dari Betawi (dan daerah lainnya di Indonesia), dengan bahasa Melayu sebagai pengantar baik di rumah maupun di Masjidil Haram. Di samping itu masih banyak ulama lain dari Hindia Belanda yang memberikan pelajaran di Mekah, misalnya Sumbawa, Banten, dan Betawi.

Meskipun tidak ditemukan data otentik, namun kenyataan membuktikan bahwa banyak pelajar Betawi yang menuntut ilmu ke Mekah dan kota-kota lain di Timur Tengah. Menurut Buya Hamka, ulama-ulama Betawi di sana menjadi kelas menengah yang berpengaruh. Dalam perjanjian antara Raja Ali (putera Raja Husein), penguasa Mekah, dengan Raja Ibnu Sa’ud yang berhasil merebut Mekah tahun 1925 disebutkan beberapa persyaratan, salah satunya adalah supaya beberapa orang besar dan ternama yang menjalin hubungan erat dengan penguasa Mekah diberi kebebasan. Diantaranya memiliki nama yang diujung namanya disebut Betawi, misalnya Syaikh Abdullah Betawi, Syaikh Ahmad Betawi, dan Syaikh Sa’id Betawi. Keturunan orang Betawi di kemudian hari masih dalam perlindungan Kerajaan Saudi Arabia, baik di Mekah maupun Jeddah.

Di antara beberapa ulama-ulama Betawi yang cukup berpengaruh, baik di Betawi maupun di Mekah, yaitu Syeikh Junaid Al Batawi, Guru Marzuki, Dato Biru, dan Imam Mujtaba. Pada jaman Belanda dan Jepang, sebenarnya banyak ulama Betawi yang kiprah keulamaannya cukup menonjol masa itu, namun sayang sekali tidak banyak yang berhasil didokumentasikan. Beberapa yang berhasil diketahui kiprah da Melaksanakan ibadah haji saat ini — dengan pesawat udara — hanya perlu waktu 10 jam. Tidak demikian ketika perjalanan masih menggunakan kapal layar. Perlu waktu berbulan-bulan, mungkin lebih setahun, dengan berbagai resiko selama pelayaran. Dalam suasana demikian, sejak abad ke-18 orang Betawi banyak yang pergi ke kota suci Mekah. Mereka menjalankan ibadah haji. Karena perjalanan yang begitu sulit, setelah menunaikan rukun Islam ke-5, banyak yang tidak kembali ke tanah air dan bermukim di Mekah.

Mereka yang bermukim di sana menggunakan Al Batawi sebagai nama keluarega. Menjadi kebiasaan para pemukim ketika itu menjadikan nama kota asalnya sebagai nama keluarga. Misalnya, Syech Abdul Somad al Falimbani dari Palembang, Syech Arsyad Albanjari dari Banjarmasin, Syech Basuni Imran al Sambasi dari Sambas, dan Syech Nawawi al Bantani dari Banten.

Masih dengan kapal layar, pada pertengahan abad ke-19 (1834), Syech Junaid, seorang ulama Betawi, mulai bermukim di Mekah. Ia pun memakai nama al-Betawi. Ia amat termashur karena menjadi imam di Masjidil Haram. Syech Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi’ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram. Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syech kelahiran Pekojan, Jakarta Barat, ini.

Sumber: Muslimedianews.com

Write a Reply or Comment

20 − eight =