SEPAK TERJANG ULAMA-ULAMA BETAWI DI TANAH SUCI

masjidil-haram-tahun-1925-_160722085638-699

JIC – Melaksanakan ibadah haji saat ini –dengan pesawat udara– hanya perlu waktu 10 jam. Tidak demikian ketika perjalanan masih menggunakan kapal layar. Perlu waktu berbulan-bulan, mungkin lebih setahun, dengan berbagai risiko selama pelayaran. Dalam suasana demikian, sejak abad ke-18 orang Betawi banyak yang pergi ke kota suci Mekah. Mereka menjalankan ibadah haji. Karena perjalanan yang begitu sulit, setelah menunaikan rukun Islam kelima, banyak yang tidak kembali ke Tanah Air dan bermukim di Makkah.

Mereka yang bermukim di sana menggunakan Al Batawi sebagai nama keluarga. Menjadi kebiasaan para pemukim ketika itu menjadikan nama kota asalnya sebagai nama keluarga. Misalnya, Syekh Abdul Somad al Falimbani dari Palembang, Syekh Arsyad Albanjari dari Banjarmasin, Syekh Basuni Imran al Sambasi dari Sambas, dan Syekh Nawawi al Bantani dari Banten. Masih dengan kapal layar, pada pertengahan abad ke-19 (1834), Syekh Junaid, seorang ulama Betawi, mulai bermukim di Makkah. Ia pun memakai nama al-Betawi. Ia amat termashur karena menjadi imam di Masjidil Haram.

Syekh Junaid al Betawi Jadi Syaikhul Masyaikh Ulama Mahzab Syafi’ie

Syekh Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mahzab Syafi’ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram. Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat syekh kelahiran Pekojan, Jakarta Barat ini. Syekh Junaid mempunyai dua putra dan dua putri. Salah satu putrinya menikah dengan Abdullah al Misri, seorang ulama dari Mesir, yang makamnya terdapat di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Seorang putri lainnya menikah dengan Imam Mujitaba.

Sedangkan kedua putranya Syekh Junaid As’ad dan Arsyad, menjadi pelanjut ayahnya mengajar di Masjidil Haram. Syekh Junaid wafat di Makkah pada 1840 dalam usia 100 tahun. Di antara murid Syekh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syekh Nawawi al Bantani, keturunan pendiri kerajaan Islam Banten, Maulana Hasanuddin (putra Syarif Hidayatullah). Karenanya, setiap haul Syekh Nawawi, selalu dibacakan Al-fatihah untuk arwah Syekh Junaid.

Syekh Nawawi Al-Bantani dan Guru Mujitaba

Imam Mujitaba, yang menetap di Makkah, menikah dengan putri Syekh Junaid. Pasangan ini menurunkan guru Marzuki, tokoh ulama Betawi dari Cipinang Muara, Jakarta Timur. Karena alimnya, guru Mujitaba diberi gelar waliyullah oleh masyarakat Islam di Tanah Suci.

Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, guru Mujitaba satu angkatan dengan mukimin Indonesia lainnya seperti Syekh Nawawi al Bantani dan Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi. Sedangkan putra almarhum guru Marzuki, yang hingga kini memiliki perguruan di Rawabunga, Jakarta Timur, mendapat gelar birulwalidain karena begitu berkhidmatnya kepada kedua orang tuanya.

Guru Marzuki memiliki sejumlah murid yang kemudian menjadi ulama terkemuka di Indonesia, seperti KH Abdullah Syafi’ie dari perguruan Assyafiiyah dan KH Tohir Rohili dari perguruan Tohiriah di Bukitduri Tanjakan, Jakarta Timur. Kedua perguruan Islam (Assyafiiyah dan Tahiriah) itu kini berkembamng pesat sekali. Keduanya memiliki sekolah mulai dari TK sampai perguruan tinggi.

KH Abdullah Sjafi’ie (wafat 3/9-1985) bersama putera-puterinya menangani 63 lembaga pendidikan Islam. Sedangkan masjid Al-Barkah di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan, yang dibangun pada 1933 saat kiai berusia 23 tahun, kini merupakan masjid yang megah. Mushala bekas kandang sapi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal perguruan Asyafiiyah. Kini pengajian Ahad pagi di Masjid Ak-Barkah selalu yang diikuti ribuan jamaah. KH Abdullah Syafi’ie –perguruannya menghasilkan ribuan orang– di antara mereka kini menjadi tokoh agama dan pimpinan majelis taklim di berbagai tempat di Indonesia.

KH Abdullah Syafi’ie adalah figur yang mampu mengkombinasikan dua arus besar pemikiran yang berkembang di lingkungan masyarakat Islam. Dalam diri beliau tercermin betul warna  NU dan Muhammadiyah-an. Toh beliau mampu menjadikan diri sebagai model kombinasi yang menarik itu.

KH Abdullah Syafi’ie Berkeliling Jakarta Naik Sepeda

Kalau KH Abdullah Sjafii pada Pemilu 1955 berkampanye untuk Partai Masyumi. Maka, rekan seangkatannya, KH Tohir Rohili selama dua periode pernah menjadi anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan. Seperti juga KH Abdullah Syafiie, ia mulai berdakwah keliling Jakarta dengan bersepeda. Tiap Ahad pagi, di majelisnya yang juga merupakan kediamannya, diadakan pengajian, yang jamaahnya cukup banyak.

Ulama Betawi, angkatan KH Abdullah Syafii dan KH Tohir Rohili, yakni Mualim Rojiun, KH Nur Ali, Bekasi, sangat ditakuti Belanda karena keberaniannya di front depan Bekas –Karawang– Purwakarta. KH Zayadi dari Klender, Mualim Tabrani, Paseban, dan sejumlah kiai lainnya. Ulama Betawi sesudah angkatan ini adalah KH Syafii Al Hazami, mantan ketua MUI Jakarta Raya, yang memiliki belasan perguruan Islam di Ibu Kota. Kemudian KH Abdurahman Nawi, yang kini memiliki tiga buah pesantren yang kesemuanya bernama Al-Awwabin, di Tebet, Depok I, dan Tugu (Sawawangan Depok). Tiga pesantrennya itu memiliki ribuan santri sejak tingkat TK sampai SLTA.

Sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment