SIBAWAIH, ILMUWAN ASAL PERSIA YANG AHLI GRAMATIKA BAHASA ARAB

JIC – Nama lengkapnya adalah Amru bin Utsman al-Harits Abu Bashar. Sibawaih adalah julukan beliau. Diambil dari bahasa Persia yang terdiri dari 2 pecahan kata, yaitu”sib” artinya buah apel, dan “waih” artinya wangi, jadi Sibawaih artinya wangi buah Apel. Atau ada juga yang mengatakan alasan kenapa beliau mendapat julukan Sibawaih karena kedua pipinya bagaikan buah apel.

Ia dikenal sebagai Imam para ahli Nahwu. Belum ada buku yang disusun sebaik-baik karyanya, baik sebelum maupun sesudah masanya. Sibawaih adalah seorang ahli gramatika yang paling terkenal dalam sejarah bahasa Arab, meskipun sebenarnya ia berasal dari bangsa Persia yang tidak bagus bercakap-cakap dalam bahasa Arab.

Ia merupakan seorang pakar tata bahasa bahasa Arab yang sangat berpengaruh. Karyanya yang berjudul Al-Kitab merupakan kitab tata bahasa bahasa Arab yang pertama kali dibukukan. Dia telah diakui sebagai pakar bahasa Arab yang terbesar dan dianggap sebagai salah satu ahli bahasa terbesar sepanjang masa di antara para ahli bahasa di dunia.

Dia lahir pada tahun 760 M di Hamdan (sekarang Iran) dan meninggal di Shiraz, sekitar tahun 796 M (180 H). Sibawaih merupakan murid dari Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi dan Yunus bin Habib, dua orang ahli bahasa.

Dalam masa hidupnya yang singkat, ia pernah mengadakan perjalanan ke Baghdad dan berdialog dengan al-Kasa’I, dan Khalifah al-Rasyid pun memberinya hadiah sebagai bentuk kekaguman dan penghormatan terhadapnya.

Ia juga pernah pergi ke Khurasan untuk memperdalam ilmu nahwu pada Thalhah bin Thahir. Di sana ia mengalami sakit yang mengantarkannya kepada kematian. Menjelang wafatnya ia melantunkan syair :

Dunia diharapkan tinggal bersamanya

Tetapi yang berharap telah meninggalkannya

Sebelum terwujud cita

Dia tanam bibit-bibit kurma

Agar ia senantiasa ada disampingnya, maka

Bibit kurma akan senantiasa hidup

Sedang orang yang menanamnya mati.

Walaupun ia meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda, tiga puluh dua tahun, selama hayatnya dia telah menghasilkan buku karangan yang besar dan sangat bermanfaat. Karangannya dikenal dengan nama Kitab al-Sibawaih, dikomentari banyak orang bahwasannya buku itu mengalahkan buku yang telah ada sebelumnya, dan memuaskan orang yang datang sesudah masanya. Jika ada orang yang mengatakan al-Kitab maka yang dimaksudkan adalah kitab Sibawaih.

Semua buku nahwu yang dikarang sesudahnya, didasarkan pada buku karangannya. Al-Mubarrid selalu mengatakan kepada orang yang hendak mengkaji semua pendapat ulama sebelum dirinya, hendaklah mengkaji pendapat-pendapat Sibawaih. Tentang bukunya, Sibawaih menyusun dan membaginya menjadi bab-bab. Dia juga mengumpulkan syair para ulama tersebut, yang dia dengara sendiri. Sibawaih bukan sekedar perangkum pendapat mereka, karena dia memiliki kepribadian yang kuat, yang mampu menunjukan keandalannya dalam berargumentasi. Dia membuktikan kebenaran dengan dalil yang kuat.

Tidak ada sedikit pun dasar dan kaidah dalam kitab Sibawaih yang diubah oleh generasi setelahnya. Hal itu menunjukan kepada kita bahwa betapa kaidah bahaa Arab sangat bergantung kepada pemakaian bahasa orang Badui. Karena sebetulnya, Sibawaih, untuk urusan bahasa, selalu merujuk kepada orang Arab Badui yang dikatakan sebagai orang Arab yang paling fasih. Atas dasar ini, kita lihat Sibawaih tidak membangun kaidahnya berdasarkan syair-syair modern saja.

Di antara usaha besar Sibawaih, nahwu mazhab Basrah dan sesudahnya untuk bahasa Arab adalah ia telah meletakan dasar bahasa yang diperkuat oleh struktur kata dan logikanya. Ia menolak kerancuan logika yang muncul karena riwayat-riwayat yang lemah, palsu, dan tidak sejalan dengan logika bahasa.

Di antara pendapatnya ialah hendaknya orang yang bercakap-cakap dengan suatu bahasa hendaknya menggunakan kaidah umum dengan teliti. Bahasa jangan diselewengkan dari kaidah umum yang berlaku, khususnya bahasa Arab yang tumbuh dari berbagai dialek berbagai kabilah, yang satu sama lain jauh berbeda.

Sibawaih selalu mengingatkan kita untuk menghindari kerancuan seperti itu. Jika kebenaran yang rancu, seperti dalam ayat Alquran In Hadzani lasahiraani yang seharusnya diletakan huruf Inna maka Sibawaih berkata, itulah kerancuan yang dijaga, dan tidak dibandingkan dengan yang lain.

Sibawaih hanya ingin menerapkan dengan betul aturan yang berlaku dengan bahasa meskipun kadang menyakitkan sebagian orang. Jika dia mendengar sesuatu yang bertentangan dengan aturan bahasa, dia mengkategorikan orang tersebut, orang lain tidak diperbolehkan menirunya, sehingga kesalahan tidak menyebar dan merusak kaidah bahasa. Begitulah hendaknya. Karena jarang sekali penakwilan yang sesuai dengan kaidah bahasa, walaupun penakwilan itu dipaksakan. Seperti yang terjadi dalam kasus bacaan ayat di atas. In Hadzani lasahiraani.

Adapun nahwu mazhab Kufah, maka dia sangat permisif terhadap segala hal yang dilakukan oleh orang Arab. Mazhab ini memperbolehkan pemakaian bahasa Arab sesuai dengan keinginan mereka, meskipun pemakaiannya menyalahi kaidah umum yang berlaku. Bahkan meletakan dasar kaidah bahasa di atas bahasa yang rancu itu. Tidak syak, bahwa kedudukan Sibawaih sangat penting dan bermanfaat bagi keutuhan bahasa Arab untuk masa yang akan datang.

Sumber : gomuslim.co.id

 

Write a Reply or Comment