SILATURAHIM

 Eid-hug-Photo-Wishes-2xoca7tahvmpuftrnkpt6o

JIC-Silaturahim adalah kata yang sangat familiar dan sering diucapkan, terutama pada saat Hari Raya Idul Fitri. Sering kali, silaturahim hanya dipahami berkumpul, saling mengunjungi, dan bersalaman pada hari raya. Akibatnya, silaturahim diyakini hanya wajib dilakukan setahun sekali, yaitu pada Idul Fitri.

Tentu saja pemahaman semacam ini tidak salah, tetapi tidak benar seratus persen. Lantas, apa itu silaturahim, kapan, serta di mana mesti kita lakukan? Silaturahim berasal dari dua kata, yaitu shilah dan rahim. Shilah berasal dari kata washala yang berarti menyambungkan dan rahim berarti kekerabatan.

Jadi, secara bahasa, silaturahim berarti menyambungkan tali kekerabatan. Mengenai kata rahim yang berarti tali kekerabatan dijelaskan oleh Alquran dalam bentuk jamak, yaitu al-arhaam, seperti yang terdapat pada surah an-Nisa [4] ayat 1.

Alquran tidak menggunakan kata qurba atau qarieb-quraba untuk menunjuk tali kekerabatan, tapi memakai kata rahim. Menyambungkan kekerabatan tidak dipakai frasa shilatul qurba, tapi silaturahim. Tentu ini menjadi hal menarik untuk dikaji.

Jika kita merujuk pada hadis dan fakta empiris, setidaknya terdapat dua alasan penyebutan tali kekerabatan dengan kata rahim, tidak dengan kata qurba. Pertama, menurut salah satu hadis qudsi, kata rahim itu diambil dari salah satu nama Allah, yaitu ar-Rahman.

Allah SWT berfirman, ”Aku adalah Allah. Dan, Aku adalah ar-Rahman (Zat Yang Maha Penyayang). Aku menciptakan rahim dan aku memberikan sebuah nama (rahim) untuknya yang aku ambil dari nama-Ku (ar-Rahman). Barang siapa yang menyambung rahim, Aku akan terus mencurahkan rahmat padanya. Barang siapa yang memutus rahim, Aku akan memutus rahmat darinya.” (HR Abu Dawu dan Tarmidzi).

Karena kata rahim merupakan pecahan dari ar-Rahman, kata tersebut sangat terkait dengan sifat ar-Rahman Allah. Rahman sendiri jika dihubungkan dengan Allah berarti Allah Maha Pemberi Nikmat (rahmat).

Dia membagikan nikmat-Nya kepada semua makhluk tanpa kecuali. Nikmat tersebut hanya diberikan di dunia. Jadi, silaturahim bermakna menyambungkan tali kekerabatan dalam bentuk berbagi nikmat Allah kepada semua makhluk, tanpa membedakan jenis makhluk, suku, bangsa, dan agama.

Kedua, rahim merupakan bagian penting organ tubuh wanita. Ketika ke dalamnya masuk janin, terjadilah hubungan (shilah) antara rahim dan janin. Dalam hubungan tersebut, rahim tidak membutuhkan janin, tapi sebaliknya, janin yang membutuhkan rahim. Namun demikian, walaupun rahim tidak membutuhkan janin, seluruh kebutuhan janin disuplai oleh rahim.

Silaturahim ini dijelaskan dalam sebuah hadis, ”Carilah ketinggian di sisi Allah.” Para sahabat bertanya, “Apakah ketinggian itu wahai Rasulallah?” Beliau bersabda, “Kamu menyambung tali silaturahim dengan orang yang memutuskanmu, kamu memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan kamu santun lagi murah hati kepada orang yang bersikap bodoh kepadamu.” (HR Baihaki).

Inti silaturahim itu berbagi nikmat Allah kepada sesama makhluk. Oleh karena itu, pelaksanaannya tidak dibatasi waktu dan tempat. Silaturahim dapat dilakukan di manapun dan kapan pun. Jadi, kewajiban silaturahim tidak hanya setahun sekali pada Idul Fitri, tapi juga dapat dilakukan sepanjang tahun. Wallahu a’lam bish shawwab.

Sumber ; REPUBLIKA.CO.ID/ Dr H Karman

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

IBU SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER ANAK

Read Next

SIAPAKAH PEMILIK RUMAH DI SURGA PERTAMA DARI UMAT MUHAMMAD SAW?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 2 =