SRIWIJAYA: ‘HARTA KARUN PENINGGALAN ERA KERAJAAN’ DIJUAL KE TOKO EMAS, MATA RANTAI SEJARAH PUTUS (2)

DETIK.COM

Berburu si mata setan

JIC, — Salah satu pemburu harta karun, Ringgo mengatakan kebanyakan yang didapat warga biasanya emas dalam bentuk pasir atau butiran. “Ada juga manik-manik. Sama teman-teman di sana, dijuluki mata setan,” katanya kepada BBC Indonesia, Ahad (06/10).

Ringgo menambahkan selain harta karun emas, warga juga menemukan benda-benda bersejarah lainnya. “Ada juga yang temu keramik-keramik. Guci. Kendi,” lanjutnya.

Pencarian ini dilakukan di Kecamatan Cengal, Dusun Seradang. Tapi, kata Ringgo, ada temuan baru lagi di tempat lainnya. “Bukan lagi di Desa Serdang. Ini lokasi baru sekitar satu minggu belakangan di Desa Pelimbangan. Ini penemuan baru, di lokasi PT Samora. Temuannya itu butiran,” tambahnya.

Ringgo sudah sejak 2015 ikut berburu harta karun yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Tapi ia mengklaim belum pernah mendapatkan emas.

“Sudah puluhan kali. Tapi tak dapat-dapat. Istilahnya itu nasib-nasiban,” katanya sambil tertawa.

harta karun SriwijayaHak atas fotoDETIK.COM

Selama berburu harta karun, ia mengatakan di lokasi pencarian sudah ada pembeli emas yang membawa timbangan. Tiap gram emas yang didapat warga dihargai sekitar Rp500 ribu.

“Kadang-kadang toko emas itu belinya langsung ke lapangan. ‘Jadi siapa yang dapat, ayo! Aku mau beli’,” kata Ringgo sambil menirukan suara pembeli emas di lapangan.

Dalam kasus lainnya, Ringgo mengaku temannya mendapatkan sebuah cincin emas berukir ikan. Cincin tersebut sudah dijual sekitar Rp40 juta ke Palembang.

“Emas itu dijual ke Palembang, dilebur lagi,” tambah Ringgo.

Padahal, dia sudah mengingatkan temannya agar menjualnya ke pihak pemerintah karena selain harganya lebih mahal juga bisa didata.

“Tolong jangan dijual, nanti saya datakan orang arkeolog atau BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya), biar mereka yang lebih mahal membeli. Tapi, ya, namanya nggak ada uang, pikirkan perut,” kata Ringgo.

Saat ini lanjut Ringgo, kebanyakan yang didapat masyarakat selain emas adalah guci-guci keramik.

“Oy! Guci banyak. Oleh karena itu masih disimpan oleh warga, karena belum ada harga yang pantas untuk dijual, tapi kalau harganya mahal pasti dijual masyarakat semua itu. Tapi kalau satu guci mau dibeli Rp300-400 ribu belum tentu dijual. Karena mereka itu nyarinya banyak habiskan uang,” katanya.

bbc

Bolehkah harta karun bersejarah dimiliki?

Kepemilikan “harta karun” berdasarkan Undang Undang No. 11/2010 tentang Cagar Budaya diatur dalam sejumlah pasal:

Pasal 23

(1) Setiap orang yang menemukan benda yang diduga Benda Cagar Budaya, bangunan yang diduga Bangunan Cagar Budaya, struktur yang diduga Struktur Cagar Budaya, dan/atau lokasi yang diduga Situs Cagar Budaya wajib melaporkannya kepada instansi yang berwenang di bidang kebudayaan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan/atau instansi terkait paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak ditemukannya.

(2) Temuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak dilaporkan oleh penemunya dapat diambil alih oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.

(3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), instansi yang berwenang di bidang kebudayaan melakukan pengkajian terhadap temuan.

Konsekuensi dari Pasal 23 ini diatur dalam Pasal 102, yaitu setiap orang yang dengan sengaja tidak melaporkan temuan dapat dipidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp500 juta.

Pasal 24

(1) Setiap orang berhak memperoleh kompensasi apabila benda, bangunan, struktur, atau lokasi yang ditemukannya ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

(2) Apabila temuan yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sangat langka jenisnya, unik rancangannya, dan sedikit jumlahnya di Indonesia, dikuasai oleh Negara.

(3) Apabila temuan yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak langka jenisnya, tidak unik rancangannya, dan jumlahnya telah memenuhi kebutuhan negara, dapat dimiliki oleh penemu.

Pasal 26

Ayat (4) Setiap orang dilarang melakukan pencarian Cagar Budaya atau yang diduga Cagar Budaya dengan penggalian, penyelaman, dan/atau pengangkatan di darat dan/atau di air sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kecuali dengan izin Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

Konsekuensi dari Pasal 26 ini kemudian diatur dalam Pasal 103 di mana pelaku yang tak mendapatkan izin dari pemerintah atau pemda diancam pidana penjara antara 3 – 10 tahun dan denda minimal Rp150 juta dan paling banyak Rp1 miliar.

Pasal 66

Ayat (1) Setiap orang dilarang merusak Cagar Budaya, baik seluruh maupun bagian-bagiannya, dari kesatuan, kelompok, dan/atau dari letak asal.

Hukuman bagi orang yang merusak dalam hal ini melebur cagar budaya, bisa kena pidana 1 – 15 tahun penjara dan denda antar Rp500 juta hingga Rp1 miliar.

sumber : bbcindonesia.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

SRIWIJAYA: ‘HARTA KARUN PENINGGALAN ERA KERAJAAN’ DIJUAL KE TOKO EMAS, MATA RANTAI SEJARAH PUTUS

Read Next

ASAL-USUL MAJELIS TAKLIM KITAB KUNING DI JAKARTA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − fourteen =