TABAYUN RIDWAN KAMIL DAN USTAZ RAHMAT SOAL MASJID AL SAFAR

Bersama Ustadz Rahmat Baequni (kanan) dan Ketua MUI Jawa Barat Prof Rahmat Syafei (kiri), Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) menjelaskan karya arsitektur Masjid Al Safar                                                                                                               Foto: Republika/Edi Yusuf

Kedua belah pihak melakukan tabayun mengenai maksud dari Arsitek Masjid Al Safar

JIC, BANDUNG—Ada yang berbeda di Bale Asri, Pusdai, Kota Bandung pada Senin (10/6) pagi. Ratusan masyarakat memadati balai untuk bisa melihat diskusi mengenai Masjid Al Safar yang sedang jadi topik hangat.

Adalah Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat yang mengarsiteki masjid itu. Masjid yang terletak di Tol Cipularang ini menjadi pembicaraan karena dikaikan dengan zionis internasional dan iluminati.

Raut wajah Ridwan Kamil berbeda dari biasanya. Tampak sang ibunda dan istri duduk diantara jamaah yang hadir. Ridwan Kamil hadir dengan Ustaz Rahmat Baequni dan Ketua MUI Jawa Barat Rahmat Syafei untuk mengklarifikasi desain masjidnya.

“Dalam Islam, tidak diperkenankan untuk membuat sesuatu tentang makhluk bernyawa, untuk itu, geometri menjadi satu-satunya cara dalam mengkreasikan arsitektur,” kata Ridwan Kamil memulai pemaparannya dalam acara yang digelar di Bale Asri, Pusdai, Kota Bandung, Senin (10/6). Selain kedua belah pihak, Ketua MUI Jawa Barat Prof Rahmat Syafei MUI Jawa barat pun ikut hadir,

Ridwan Kamil mengklarifikasi soal desainnya yang dikaitkan dengan iluminati. Salah satunya adalah mihrab masjid Al Safar yang disebut sebagai segitiga dengan lingkaran ditengahnya.

“Itu (mihrab) trapesium, bukan segitiga. Saya klarifikasi desain saya tidak pakai lingkaran, itu katanya kreasi dari kontraktor,” kata Ridwan Kamil.

Dia menegaskan desain konstruksi masjid adalah dari lipatan yang tidak teratur bukan dominasi segitiga. Dia menyanggah bahwa hal tersebut sengaja dia terapkan dalam karyanya.

“Sekarang saya ungkapkan, kenapa Al Safar? Padahal sekeliling kita ada simbol-simbol segitiga atau apapun,” katanya.

Ridwan Kamil menyebut sebuah rancangan masjid tidak melulu soal kubah diatas dinding yang kotak. Karena desain harus disesuaikan dengan kondisi tempat dimana masjid tersebut dibangun.

Dia membandingkan desain masjidnya dengan beberapa masjid besar. Seperti Masjid Raya Jakarta dan Masjid Al Ukhuwah Bandung. Kedua masjid tersebut juga memiliki dominasi geometri segitiga.

“Pertanyaannya, apakah mereka (arsitek Masjid Raya Jakarta dan Al Ukhuwah) iluminati? Jawabannya Wallahualam, saya juga dari ketidaksengajaan. Kenapa tidak heboh? Apa karena arsiteknya bukan Ridwan Kamil,” katanya.

Dia meminta MUI untuk bisa membahas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dalam mendesain sebuah masjid. Ridwan Kamil juga menegaskan bahwa niatan solat dan diterimanya solat apakah harus dipengaruhi oleh simbol-simbol tertentu.

“Kita melihat apapun bentuk geometri tidak akan melemahkan iman kita, karena niat kita ibadah,” katanya.

Dia berharap tidak ada lagi yang menghakiminya soal desain masjidnya melanggar syariat. Apalagi hingga memfitnah dia sebagai turunan dajjal.

“Karena sekalinya diviralkan, orang yang tidak tahu jadi mem-bully saya, nangis ibu saya. Saya tidak cita-cita jadi Gubernur, saya hanya ingin jadi manfaat bagi orang di dunia,” katanya.

Terakhir, dia meminta untuk masyarakat agar terus bertabayyun. Sebagai sesama umat muslim, Ridwan Kamil meminta agar tidak memperlihatkan kebencian karena adanya perbedaan.

“Ini bulan Syawal, kita baru selesai Ramdahan, akhlak harus naik, kualitasnya harus naik kelas. Tabayun harus menerangkan. Jangan teriak-teriak karena kita sedang mencari ilmu, jangan mudah memprovokasi, saya sedih, sesama mukmin saling mencaci maki,” katanya.

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

12 − five =