TAHAJUD GUS MIFTAH, AIR MATA PSK, DAN COPET HATI

JIC, Jakarta,  — Miftah Maulana Habiburrahman, atau kerap disapa Gus Miftah, mulai meroket namanya ketika rekaman dia sedang bersalawat bersama dengan sejumlah pegawai sebuah kelab malam di Bali ramai dibicarakan di media sosial.

Proses Gus Miftah bisa diterima dan leluasa berdakwah di tengah dunia malam ternyata berliku. Dia sempat mendapat penolakan bahkan juga diancam para bromocorah karena dianggap hendak macam-macam di tempat itu.

Pemimpin Pondok Pesantren Ora Aji Tundan, Kalasan, Yogyakarta itu lantas kembali bernostalgia. Ingatannya diputar kembali ke sekitar 14 tahun lalu.

Kala itu dia mulai menjejakkan kaki di kawasan Pasar Kembang atau Sarkem, Yogyakarta. Daerah tersebut dikenal sebagai lokalisasi para pencari pemuas berahi. Ketika bertandang ke sana, Gus Miftah bukan hendak melampiaskan syahwat. Dia bolak-balik cuma buat rutin beribadah salat malam.

“Di lokalisasi saya datang malam Jumat. Saya ke musala. Saya sebutnya MTS, Musala Tengah Sarkem. Setiap malam Jumat saya tahajud di musala itu,” kata Gus Miftah saat diwawancara dalam acara Good Morning, CNN Indonesia TV, Jumat (14/9).

Rutin beribadah saban malam Jumat di tengah lokalisasi Sarkem rupanya membuat Miftah dicurigai. Suatu hari sejumlah jagoan setempat lantas mencegatnya ketika dalam perjalanan. Dia diintimidasi, tetapi tidak gentar.

Akhirnya sampailah pada malam Jumat pekan ketujuh. Saat dalam perjalanan menuju musala, Gus Miftah mengetahui kalau ternyata dikuntit sejumlah pekerja seks komersial.

“Saya tahajud. Mbak-mbak PSK itu duduk di belakang saya. Bacaan salat yang biasa saya baca sirr (pelan) saya baca jahar (keras). Begitu saya baca Alquran itu, mereka menangis. Di situ saya berkesimpulan, di situ hati mereka juga butuh Allah…, seperti kita,” ujar Gus Miftah.

Lambat laun satu persatu warga Sarkem dia dekati, hingga akhirnya dia berani berdakwah terang-terangan. Bahkan, sejumlah PSK dan preman setempat kini menjadi jemaah pengajian rutinnya di sana.

Saban menggelar pengajian di Sarkem, Gus Miftah mengatakan pantang menjadikannya buat mencari penghasilan. Dia mengaku malah selalu membawakan konsumsi hingga menyediakan perangkat salat seperti mukena dan sajadah, serta Alquran yang dibagikan gratis.

Menurut Gus Miftah lambat laun sejumlah jemaah pengajiannya memutuskan berhenti dari pekerjaan atau aktivitas senang-senang mereka, dan menggeluti agama. Banyak dari mereka menuntut ilmu di pesantren binaannya.

“Kalau persoalan hidayah itu sebenarnya urusan Allah S.W.T. Kewajiban saya cuma menyampaikan kepada mereka sesuai kemampuan saya, sesuai yang saya bisa,” ujar Gus Miftah.

Satu prinsip yang dipegang kuat oleh Gus Miftah dalam berdakwah kepada kalangan dunia malam adalah tidak perlu sungkan atau menghakimi. Bagi dia semua adalah hamba Allah SWT, yang juga haus akan kebutuhan rohani seperti orang lain pada umumnya.

“Sebenarnya saya ini pencopet. Pencopet hati mereka. Saya katakan copet terminal goblok. Yang dicopet cuma dompet. Kalau saya copet hatinya. Kalau sudah hatinya tercopet, jangankan dompet, yang lain pun pasti dikasih,” kata Gus Miftah. (ayp/kid)

sumber : cnnindonesia.com

Write a Reply or Comment

five × two =