Tasawuf dan PERADABAN ISLAM di ASIA TENGGARA

Sebagai pembicara kedua di Seminar Hijrah Peradaban Islam 1432H yang diselenggarakan di Ruang Aula Serba Guna JIC, Rabu, 22 Desember 2010, Dr. Sri Mulyati, MA mempaparkan makalahnya yang berjudul Kontribusi Tasawuf bagi Peradaban Islam di Asia Tenggara.

Sebagai pembicara kedua di Seminar Hijrah Peradaban Islam 1432H yang diselenggarakan di Ruang Aula Serba Guna JIC, Rabu, 22 Desember 2010, Dr. Sri Mulyati, MA mempaparkan makalahnya yang berjudul Kontribusi Tasawuf bagi Peradaban Islam di Asia Tenggara.

Judul ini menjadi penting untuk diangkat meskipun mendapat respon yang kurang baik dari beberapa peserta dengan mempertanyakan di luar forum seminar ini mengenai alasan pentingnya tasawuf diangkat oleh penyelenggara. Penting, karena seperti pendapat Alwi Shahab yang dikutipnya bahwa tasawuf adalah faktor terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Asia Tenggara. Karena ” Islam Pertama” yang diperkenalkan di Jawa, sebagaimana tercatat di dalam babad, adalah Islam dalam corak sufi. Islam dalam corak demikian itulah yang paling mampu memikat lapisan bawah, menengah dan bahkan bangsawan. Oleh tasawuf, idiom-idiom budaya lama (Animisme, Hindu, Budha) yang berkaitan dengan pandangan dunia (worldview) berikut kosmologi, mitologi, dan keyakinan takhayul diubah secara hati-hati. Wadah-wadah lama yang dipakai, isinya diganti. Peninggalan kejeniusan masa silam masih dapat terlihat dalam upacara daur hdiup, upacara desa dan semacamnya. Dalam upacara tersebut, orang biasanya menyediakan makanan, tetapi do`anya bukan untuk para ”dewa-dewa”, namun ditujukan sebagai permohonan kepada Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta, dan makanannya dimakan bersama-sama setelah memanjatkan do`a.

Peran penting tasawuf tidak hanya pada masa lalu saja, Bahkan di abad modern sekarang ini, peranan tasawuf masih sangat penting, bukan hanya pada persoalan pandangan dunia saja, tetapi pada aspek kehidupan seperti ekonomi. Salah satu contohnya, mengutip Radjasa Mu`tasim dan Abdul Munir Mulkhan di dalam buku yang berjudul Bisnis Kaum Sufi: Studi Tarekat dalam Masyarakat Industri bahwa gerakan Tarekat Syadiliyyah di Kudus mampu mendorong dinamika perekonomian di wilayahnya. Sehingga dalam kelompok tareket ini terdapat jaringan ekonomi yang kuat hingga mampu mengangkat taraf hidup ekonomi penganutnya. Diceritakan bahwa hampir semua pengikut tarekat ini memanfaatkan waktu siang untuk melakukan kegiatan ekonomi, sementara pada waktu malam dimanfaatkan untuk menjalani kegiatan tarekat.

Kegemilangan tasawuf tersebut tentu saja tidak terlepas dari peranan dan kontribusi tokoh-tokoh tasawuf. Tokoh-tokoh yang memiliki sifat dan watak yang lebih kompromis dan penuh kasih sayang. Tasawuf memang memiliki kecenderungan yang tumbuh dan berorientasi kosmopolitan, tidak mempersoalkan perbedaan etnis, ras, bahasa, dan letak geografis. Dakwah Islam yang dilakukan kaum sufi berkembang cukup berhasil dan keberhasilan itu terutama ditentukan oleh pergaulan dengan kelompok- masyarakat dari rakyat kecil dan keteladanan yang melambangkan puncak kesalehan dan ketekunan dengan memberikan pelayanan-pelayanan sosial, sumbangan, dan bantuan dalam semangat kebersamaan dan rasa persaudaraan murni. Kaum sufi itu ibarat pakar psikologi yang menjelajahi segenap penjuru negeri demi menyebarkan kepercayaan Islam. Dari kemampuan memahami spirit Islam sehingga dapat berbicara sesuai dengan kapasitas (keyakinan dan budaya) audiensnya itulah, mereka kemudian melakukan modifikasi adat istiadat dan tradisi setempat sedemikian rupa seperti contoh di atas agar tidak bertentangan dengan dasar-dasar Islam. Dengan kearifan dan cara pengajaran dan pendidikan yang persuasif tersebut, tokoh-tokoh tasawuf telah berhasil membumikan kalam Allah sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

Kini, peran penting tasawuf kembali ditunggu untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam, khsususnya di Asia Tenggara , di tengah pandangan negatif sebagian kaum muslimin terhadap tasawauf. Pandangan bahwa tasawuf termasuk tarekat di dalamnya, mengutip dari pendapat Martin van Bruinessen, hanya sekedar sebuah gejala depolitisasi, sebagai pelarian dari tanggungjawab sosial dan politik, lebih berorientasi kepada urusan ukhrawi ketimbang masalah dunia. Kaum sufi dalam perilakuknya hanya menekankan aspek asketis (zuhd) dan orientasi ukhrawi, sedangkan alam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan kaum sufi dengan tarekatnya konon lazim menjauhkan diri dari masyarakat (khalwah, uzlah). Kalau kalangan Islam “tradisional” (Aswaja) dianggap lebih kolot, akomodatif dan apolitik dibandingkan dengan kalangan Islam modernis, kaum sufi dengan tarekatnya dianggap paling kolot di antara yang kolot, dan yang paling menghindar dari sikap politik. Saatnya kaum sufi dengan tarekatnya di Asia Tenggara menepis pandangan negatif ini dengan kerja-kerja nyata, sekali lagi untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam. Wallaahu `alam bishawab.***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Write a Reply or Comment

6 − one =