TIGA KUNCI KEBERKAHAN

JIC – Abu ‘Ala bin Syikhir menceritakan tentang seseorang dari Kampung Sulaim yang berkata bahwa ia melihat Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT menguji hamba-Nya dengan pemberian. Barang siapa ridha kepada pemberian-Nya, maka Allah SWT akan memberkahinya. Dan barang siapa tidak ridha, maka Allah tidak akan memberkahinya.” (HR Ahmad).

Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya merawat keberkahan. Ikhtiar untuk menakar dan mendidik diri dalam mempertahankan nilai-nilai kebaikan. Keberkahan melekat pada nilai-nilai kebaikan yang konsisten dan terus-menerus mengalami peningkatan. Sedikitnya, ada tiga cara istimewa untuk merawat keberkahan.

Pertama, dekat dengan Allah. Keberkahan menyapa siapa saja yang mengoptimalkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Menguatkan keyakinan secara paripurna hanya untuk-Nya. Melaksanakan secara maksimal segala apa yang diperintahkan oleh-Nya serta menghindari secara maksimal segala apa yang telah dilarang oleh-Nya.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS al-Maidah: 35).

Kedua, istiqamah. Keistiqamahan menjadi jembatan elite dalam memelihara keberkahan. Istiqamah ialah sikap kokoh dalam melakukan pengabdian kepada-Nya. Bersahaja menebarkan dan merealisasikan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan karena-Nya. Allah SWT berfirman, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS ar-Rahman: 60).

Ketiga, sabar. Kesabaran menjadi resep elegan dalam menjaga keberkahan. Sabar berarti berlapang dada menerima segala ketentuan yang diberikan oleh-Nya. Bersahaja melindungi keimanan dan ketakwaan agar senantiasa terpatri hanya untuk-Nya. Kokoh dalam mempertahankan jiwa dan raga pada jalan-Nya.

Dari Shuhaib bin Sinan RA, Rasulullah SAW bersabda, “Alangkah menakjubkannya keadaan setiap orang yang beriman karena semua keadaannya mengantarkan pada kebaikan, dan ini ada pada diri seorang mukmin. Jika ia memperoleh kesenangan, ia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia diterpa kesusahan, ia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR Muslim).

Sungguh, kesabaran menjadi jalan bagi mukmin sejati dalam menghadapi setiap ujian. Ujian yang datang menerpa diyakini sebagai wujud cinta-Nya kepada setiap hamba-Nya yang mengunggulkan keimanan dan ketakwaannya. Ujian menjadikan kita senantiasa mawas diri dan memantaskan diri agar dapat lebih baik dari waktu sebelumnya. Berupaya secara maksimal dalam beribadah untuk menggapai rahmat-Nya.

Imam al-Ghazali menuturkan bahwa keberkahan ialah bertambahnya nilai-nilai kebaikan. Hendaknya setiap dari kita bersahaja menjaga konsistensi nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Mengerahkan segala daya dan upaya dalam menjemput keberkahan karena-Nya. Keberkahan menjadikan kita senantiasa selalu dekat dengan-Nya.

Sungguh, merawat keberkahan merupakan aktivitas elegan yang hendaknya dapat dilakukan setiap saat. Keberkahan menjadi jalan elite untuk menggapai ridha-Nya.

Wallahu a’lam.

Sumber : republika.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

NASIHAT IBNU AL-UTSAIMIN TENTANG ISTIDRAJ

Read Next

HIKMAH DI BALIK KISAH ANTARA NABI SULAIMAN DAN BALQIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − ten =