TIM CHAMBERS: ISLAM MENJAWAB SEMUANYA (3)

JIC, JAKARTA- Suatu waktu, ia mendatangi gereja dan bertanya kepada pendeta yang saat itu dianggapnya sebagai manusia utusan Tuhan. Siapa sebenarnya Tuhan itu dan mengapa aku berada di dunia saat itu? tanyanya kepada pendeta itu.

Pendeta malah balik bertanya, Apakah kamu pernah mempelajari teologi agama (Kristen)? “Ya, teologi Kristen hanya berisi hal-hal dogmatis yang tidak masuk akal, jawab Tim.

“Kalau begitu, aku tidak tahu harus menjelaskan apa pun. Aku tidak dapat membantumu, tutur pendeta itu.

“Kau lihat gereja di seberang sana? Aku adalah orang yang membuka dan menutupnya, menjaga orang-orang saat mereka datang dan pergi meninggalkan gereja. Itulah pekerjaanku,” pendeta itu menjelaskan.

Tim menyadari bahwa siapa pun dan di mana pun seseorang berada, termasuk di dalam gereja sekalipun, tidak akan ada yang mampu mengubahnya jika Allah tidak memberikan petunjuk.

Meski begitu, ia tak patah arang. Tim terus melakukan pencarian. Hingga suatu waktu, ia mengagumi seorang gadis Muslim asal Malaysia. Tim berupaya mendekatinya karena beranggapan gadis itu akan membantunya secara spiritual dan emosional.

“Saat itu, saya tidak terfokus pada hal- hal tentang Muslim karena menurut saya, itu bukanlah hal yang penting. Saya hanya mendekatinya, sementara ia justru seba-liknya, berusaha menjauh dari saya,” kenangnya.

Suatu hari, di bulan Ramadhan, gadis itu marah karena ucapan Tim dinilai menghina agamanya. Saya hanya merespons perkataannya yang melarang saya datang menemuinya sepanjang bulan Ramadhan.

Tim kemudian mendatangi komunitas Islam di kampusnya dan meminta mereka membantunya mengenal Islam dan mendekati gadis Malaysia yang disukainya itu. Tim justru mendapat anjuran untuk tidak berusaha memacari gadis itu.

“Saya menganggap saran itu tidak adil karena saya mencintainya, tapi kemudian, mereka menjelaskan pada saya bahwa gadis Muslim itu tidak berpacaran dan itu adalah hal yang seharusnya, tutur Yusuf.

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

4 × two =