TIM CHAMBERS: ISLAM MENJAWAB SEMUANYA (4)

JIC, JAKARTA- Teman-teman Tim dari komunitas Islam itu kemudian memberinya beberapa buku tentang Islam untuk dipelajarinya. Ia lalu meluangkan banyak waktunya untuk membaca banyak buku Islam dan mulai mengerti mengapa gadis itu menjauhinya.

Hingga suatu hari, Tim kembali mendatanginya dan menawarkan diri untuk menikahinya. “Saya pikir itu akan menyelesaikan persoalan tentang perbedaan kami, tapi saya ditolak,” kenang dia.

Tim terus membaca banyak buku Islam hingga akhirnya ia memutuskan untuk ikut menjalankan puasa Ramadhan. Sesekali ia bergabung dengan umat Islam di masjid dan mengikuti shalat berjamaah.

“Saya tidak tahu apa yang mereka lafalkan dan hanya berusaha mengikuti gerakan mereka, katanya.

Yusuf mengingat dengan baik, ia berada di London waktu itu dan masih berada di lingkungan yang sama dengan teman- teman lamanya. Saat mereka pergi untuk berpesta dan sejenisnya, Tim memilih tetap tinggal di rumah, melahap buku-buku Islam, dan sesekali pergi ke kamar mandi untuk melakukan wudhu serta ghusl (mandi atau membersihkan diri dari kotoran).

“Meski saya tidak benar-benar mengerti apa ghusl itu,” ungkapnya.

Dari semua yang dibacanya, Tim benar- benar terfokus pada fakta bahwa Islam harus menjadi jalan hidupnya sehingga pagi pada keesokan harinya, masih di bulan Ramadhan, ia mendatangi sebuah masjid untuk mengikrarkan keislamannya.

Setelah mengucapkan syahadat, sekitar 300?400-an jamaah pria memeluk saya secara bergantian, mengucapkan salam dan ucapan selamat pada saya, ujar salah satu pendiri Islamic Education and Research Academy (IERA) itu.

Tim Chambers lalu berganti nama menjadi Yusuf Chambers, menemukan kehidupan yang baru sejak itu. Ia mengaku depresi yang telah lama dirasakannya lenyap, pun keter- gantungannya pada alkohol. Yusuf mengatakan, ia telah menemukan kebenaran akhir yang telah lama dicarinya setelah men- jadikan Islam sebagai keyakinannya.

“Saya berubah, dari tidak memahami apa pun menjadi seseorang dengan keyakinan yang tinggi tentang alasan keberadaannya di dunia, hanya dalam dua pekan. Itu karena hidayah Allah,” kata dia.

Yusuf yakin, tidak ada yang bisa menolongnya keluar dari keadaan membingungkan itu, kecuali hidayah Allah. “Dan saya sangat bersyukur atas hidayah-Nya itu,” kenangnya.

 

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

three + nine =