UAS BANTAH AJUKAN TELUNJUK DUKUNG KANDIDAT PILPRES

Ustaz Abdul Somad silaturahim kepada Mbah Moen (KH Maimoen Zubair) pada Sabtu (9/2) pagi ini.                                                                                                  Foto: Republika/Hasanul Rizqa

“Tidak elok bila silaturahim antar-sesama Muslim dikaitkan dengan politik praktis.”

JIC, JAKARTA – Ajang pemilihan presiden dan wakil presiden pada April 2019 mendatang menimbulkan berbagai dinamika di ruang sosial. Salah satunya, edaran gambar di media sosial yang menampilkan Ustaz Abdul Somad (UAS) sedang duduk di antara dua orang yang mengacungkan jari telunjuknya masing-masing.

UAS juga tampak mengikuti gerakan tersebut sambil menatap mata kamera. Kepada Republika, mubaligh kelahiran Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara, itu memberikan penjelasan. Dalam foto tersebut, pria di sisi kiri UAS adalah Dr H Umar Syadat Hasibuan, sedangkan di sisi kanannya bernama Musa Rajekshah alias Bang Ijek.

Foto itu sendiri diambil pada 13 Mei 2018. Artinya, konteks waktunya terjadi berdekatan dengan pemilihan umum gubernur Sumatra Utara 27 Juni 2018. Seperti diketahui, dalam kontestasi politik itu pasangan Edy Rahmayadi dan Bang Ijek menang, sehingga menjadi gubernur dan wakil gubernur Sumatra Utara periode 2018-2023.

photo
Ustaz Abuk Somad (tengah), DR Umar Gasibuan (kiri), Musa Rajekshah (kanan, berfoto di Pondok Pesantren Darul Muhsinin, Labuan Batu, Sumut pada 13 Mei 2018. Foto ini dalam rangka Pilkada Sumut tapi kini disebarkan di media sosial seolah menjadi dukungan pada salah satu calon di Pilpres 2019. (foto: Ustaz Abdul Somad).
Adapun lokasi pengambilan gambar bertempat di rumah Umar Syadat, tokoh Pondok Pesantren Darul Muhsinin, di Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatra Utara. Saat foto itu diambil, UAS sedang beristirahat sebelum meneruskan ceramah tabligh akbar yang dihelat lembaga pendidikan tersebut.

ADVERTISEMENT

“Klarifikasi itu perlu sehingga orang-orang tahu konteks gambar yang beredar,” kata Ustaz Abdul Somad kepada Republika, Ahad (10/2).

Sebagai informasi, Pilpres 2019 diikuti pasangan kandidat nomor urut 01 (Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin) dan nomor urut 02 (Prabowo Subianto-Sandiaga Uno). Masing-masing pasangan kerap mempertontonkan pose jari tertentu sebagai simbol dukungan.

Hal tersebut misalnya, kandidat 01 mengacungkan satu jari telunjuk atau satu jari jempol. Sementara, kandidat 02 mengacungkan jari telunjuk plus jempol atau salam dua jari.

Sementara DR Umar Hasibuan, semenjak Semarin (Sabtu malam/9/2), sudah menyanyangkan soal berdedarnya foto tersebut. Hal itu memang terkait dengan pilkada Sumut, tidak ada urusannya dengan soal persaingan di Pilpres 2019.

‘’Saya sudah tahu foto itu menyebar. Saya prihatin saja dimainkan atau dipersesikan di media sosial sebagai dukungan kepada calon presiden. Foto itu memang di pesantren kami,’’ kata Umar Syadat Hasibuan.

Sebelumnya, Ustaz Abdul Somad (UAS) menyayangkan adanya tafsir politik terhadap silaturahim yang dilakukannya kepada ulama-ulama sepuh belakangan ini. Mubaligh tersebut menuturkan latar belakang di balik kunjungannya ke kediaman KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) yang berlangsung pagi ini, Sabtu (9/2).

Semua bermula pada Oktober 2017 lalu. Saat itu, UAS diundang salah seorang sahabatnya, Gus Awis, ke acara haul Gus Dim (KH Dimyathi Romly). Sebagai informasi, Kiai Dimyathi Romly merupakan tokoh Nahdliyin dan juga mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Almarhum yang wafat pada 18 Mei 2016 itu berasal dari Jombang, Jawa Timur. Dia dikenal juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso. Adapun Gus Awis merupakan putra dari Kiai Dimyathi. Antara Gus Awis dan UAS sudah terjalin persahabatan terutama sejak sama-sama belajar di Universitas al-Azhar, Mesir.

Oleh karena itu, lanjut UAS, rangkaian kunjungan kali ini atau awal Februrari 2019 tidak lepas dari undangan dari Gus Awis. Pada saat itulah, terbersit keinginan untuk sekaligus bertamu ke rumah ulama-ulama legendaris di Jawa Tengah.

“Nanti sekalian sowan ke Mbak Moen, Gus Mus, Habib Luthfi bin Yahya, dan ulama-ulama sepuh. Janji ini pada 16 bulan lalu. Janji itu baru terwujud hari ini,” kata Ustaz Abdul Somad saat dihubungi Republika, Sabtu (9/2) petang.

Menurut alumnus S-2 Darul Hadits (Maroko) itu, tidak elok bila silaturahim antar-sesama Muslim seketika dikait-kaitkan dengan kepentingan politik praktis. Apalagi, yang dikunjungi adalah alim ulama yang merupakan pengayom seluruh umat Islam di Indonesia, tanpa memandang preferensi politik apa pun.

“Silaturahim ke ulama-ulama merupakan tradisi baik. Maka itulah dilaksanakan UAS di manapun berada,” tegas peraih anugerah Tokoh Perubahan Republika 2017 itu.

 

 

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

thirteen − seven =