ULAMA BETAWI DAN PILKADA DKI JAKARTA

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre

JIC – Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) tahun 2017  di DKI Jakarta nanti akan menjadi pilkada yang paling menarik di Indonesia. Terlebih bagi umat Islam Jakarta yang memilih hak suara di pilkada tersebut. Salah satu yang menarik adalah mengenai pandangan, sikap dan pilihan politik para ulama, khususnya ulama Betawi. Karena bagi masyarakat Betawi sekarang ini, secara kultural, ulama masih menjadi pemimpin etnis yang disegani sehingga  pandangan, sikap serta pilihan politik mereka tetap diikuti oleh masyarakat Betawi.

Namun, dikarenakan sejak dari dulu para ulama Betawi  sering berbeda pandangan dan sikap dalam persoalan-persoalan politik, sehingga bisa saja terjadi lagi polarisasi ulama Betawi dengan pengikutnya di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017,  seperti yang  telah terjadi pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2012.

Pada Pilkada  DKI Jakarta tahun 2012 yang lalu, pandangan, sikap dan pilihan politik ulama Betawi yang berbeda sehingga terjadi polarisasi yang sangat kuat sempat menjadi perhatian seorang profesor dari Associate Professor Faculty Of Policy Studies Iwate Prefectural University, Jepang, Prof. Dr. Ken Miichi. Saya sendiri didatanginya pada tahun 2013 untuk diwawancarai terkait penelitiannya ini yang bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hasil penelitiannya telah dipublikasikan di Journal of Current Southeast Asian Affairs yang diterbitkan oleh GIGA German Institute of Global and Area Studies, Institute of Asian Studies and Hamburg University Press pada tahun 2014 dengan judul The Role of Religion and Ethnicity in Jakarta’s 2012 Gubernatorial Election.

Di tulisannya tersebut, Prof. Dr. Ken Miichi menjelaskan secara gamblang tentang polarisasi ulama Betawi pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2012.  Ulama Betawi terpolarisasi menjadi dua kelompok, yaitu pendukung Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli dengan pendukung Joko Widodo (Jokowi) dan Ahok.

Di antara ulama Betawi pendukung Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli adalah K.H. Mahfudz Asirun, K.H. Mundzir Tamam dan K.H. Saifuddin Amsir yang bahkan turut aktif berkampanye untuk Fauzi Bowo. Ketiga ulama Betawi ini bukanlah ulama biasa, mereka adalah gurunya sebagian para ulama dan para ustadz di Jakarta. Kelompok ulama Betawi ini didukung juga oleh Rhoma Irama yang mengkampanyekan agar umat Islam di Jakarta memilih “pemimpin yang seiman”. Kampanye Rhoma Irama ini yang dipakai juga oleh para penceramah di tingkat lokal dikarenakan isu yang tidak benar yang  terus dihembuskan selama kampanye bahwa ibu Jokowi bukan orang Islam dan kampanye Jokowi-Ahok dibiayai oleh Zionis Israel.

 Sedangkan pendukung Jokowi dan Ahok di antaranya adalah Habib Ibrahim Luthfi
Alatas, yang memimpin Majelis Taklim Amaul Husna. Dia sempat mengundang Jokowi ke acara pengajiannya saat musim kampanye dan berdoa untuk Jokowi, meskipun dia tidak pernah menyatakan bahwa  dia benar-benar mendukung Jokowi di depan umum, namun dia merupakan salah seorang ulama yang menjadi penasehat Jokowi. Setelah pilkada, dia membentuk dan mengorganisir Forum Ulama Jakarta Baru (FUJB) yang dimaksudkan untuk membangun rekonsiliasi antara para ulama dan memantau kepemimpinan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Menurut Prof. Dr. Ken Miichi bahwa selain Habib Ibrahim Luthfi Alatas, ulama Betawi berpengaruh  yang menjadi pendukung Jokowi-Ahok adalah K.H. Ahmad Shodri HM, mantan Ketua Forum Ulama dan Habaib Betawi (FUHAB) yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Manajemen Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre).

Berbeda dengan Habib Ibrahim Luthfi Alatas, K.H. Ahmad SHodri HM secara terbuka mendukung Jokowi dan berkampanye untuk Jokowi dengan antusias. Saya sendiri, dari hasil pengamatan saya, menerjemahkan istilah antusias dari Prof. Dr. Ken Miichi ini dengan istilah “pasang badan” untuk Jokowi-Ahok. Selama masa kampanye dan menjelang pencoblosan,  dia mendapat banyak hujatan dari sebagian ulama, ustadz dan para pendukung Fauzi Bowo. Begitu hebatnya hujatan dan tekanan yang dialamatkan kepadanya, sampai  dia pernah berkata,”Seandainya Fauzi Bowo menang, saya akan pindah ke Bandung!”.

Namun hujatan kepada dirinya ini juga tetap berlanjut ketika Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi yang menjadi Presiden RI.  Dengan ringan, K.H. Ahmad Shodri HM menjawab hujatan tersebut,”Biar saja mereka berkata seperti itu, saya tidak pikirin!”. Dia sering berbicara di beberapa kesempatan bahwa ridha manusia itu tidak bisa kita dapatkan semuanya. Politik itu abu-abu, tidak bisa hitam putih. Dia berkata,”Saya sangat jeli melihat persoalan-persoalan politik yang tidak semua orang memiliki kejelian ini. Sikap dan pilihan politik saya tentu mempunyai risiko, pasti ada yang suka dan ada pula yang tidak suka, ada yang menerima dan ada pula yang menolak sampai dendam dengan saya dan menghujat saya. Namun saya berbuat ini untuk Islam dan Jakarta!”

Akhir kalam, Pilkada DKI Jakarta tahun 2017, menurut saya,tentu menjadi berbeda bagi para ulama Betawi yang pernah bersebrangan di Pilkada DKI Jakarta tahun 2012, khususnya jika terkait dengan masalah keimanan dari calon gubernur.  Polarisasinya kemungkinan tidak akan sama seperti Pilkada tahun 2012. Namun, ulama dan masyarakat Betawi harus hati-hati menjadikan etnis dan agama sebagai isu di Pilkada tahun 2017. Sebab, belajar dari Pilkada DKI Jakarta 2012 , seperti hasil penelitian Prof. Dr. Ken Miichi, isu etnis dan agama tidak bekerja atau dampaknya sangat kurang untuk mempengaruhi pilihan  masyarakat DKI Jakarta secara keseluruhan yang sangat majemuk ini.

Write a Reply or Comment

20 + thirteen =