Umat Islam Hanya Sebatas Tertarik dengan Keislaman Mualaf

Umat Islam begitu peduli dan perhatian dengan masuknya seseorang ke dalam agama Islam. Namun, kepedulian dan perhatian itu memudar ketika saudara-saudara mereka menginjak tahapan pembinaan. Ketua Umum Persatuan Pembina Imam Tauhid Indonesia (PITI) DKI Jakarta, Syarief Tanudjaja, tidak menafikan proses pengislaman seorang mualaf memiliki daya tarik. Sebab, ada pengalaman rohani yang memunculkan rasa motivasi dan semangat untuk lebih mendalami Islam. Akan tetapi di sisi lain, muncul minimnya kepedulian umat Islam terhadap pembinaan mualaf.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Umat Islam begitu peduli dan perhatian dengan masuknya seseorang ke dalam agama Islam. Namun, kepedulian dan perhatian itu memudar ketika saudara-saudara mereka menginjak tahapan pembinaan.

Mualaf di zaman sekarang memiliki tantangan yang berat

Ketua Umum Persatuan Pembina Imam Tauhid Indonesia (PITI) DKI Jakarta, Syarief Tanudjaja, tidak menafikan proses pengislaman seorang mualaf memiliki daya tarik. Sebab, ada pengalaman rohani yang memunculkan rasa motivasi dan semangat untuk lebih mendalami Islam. Akan tetapi di sisi lain, muncul minimnya kepedulian umat Islam terhadap pembinaan mualaf.

“Ini memang masalah,” kata dia kepada republika.co.id via sambungan telepon, Rabu (22/6).

Kepedulian dan perhatian itu merupakan sifat pemurah seorang. Kepedulian dan perhatian itu biasanya muncul ketika seseorang mengalami dan merasakan suatu peristiwa yang sama. Dalam kasus mualaf, bentuk perhatian itu tidaklah muncul lantaran umat Islam tidak pernah mengalami peristiwa yang sama dengan mualaf. “Umat Islam harus melihat sendiri bagaimana kondisinya. Mungkin akan muncul perhatian dan kepedulian itu,” kata dia.

Karena itu, Menurut Syarief, kehadiran lembaga pembinaan mualaf terpadu bisa membantu umat Islam untuk bersinggungan langsung dengan mualaf. Fungsi ini memang diakui belum dilakukan secara optimal oleh lembaga-lembaga pembinaan mualaf.

Solusi lain, kata dia, umat Islam harus lebih aktif memahami tujuan zakat, infaq dan sadaqah secara rutin. Lewat pemahaman itu, umat Islam bisa mengetahui siapa saja yang menerima bantuan. Selanjutnya, mereka bakal menyadari bahwa ada mualaf yang perlu dibantu. “Persoalan mualaf membutuhkan perjuangan yang kaffah dari berbagai sisi,” kata dia.

Kepala Bagian Pembinaan Mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Anwar Sujana, mengaku heran dengan kecenderungan itu. Menurut dia, sudah jelas dikatakan bahwa mualaf merupakan pihak yang perlu dibantu. Namun, kenyataannya hanya sebagaian dari umat Islam yang peduli terhadap pembinaan mualaf.

“Masalah kepedulian adalah inti dari persoalan mualaf,” kata dia.

Menurut Anwar, sudah menjadi tanggung jawab bersama, umat Islam, ormas Islam, Lembaga Amil dan Zakat serta kementerian agama menyelesaikan persoalan mualaf. Selama ini, persoalan mualaf acapkali dianggap nomor sekian ketimbang masalah lain. “Kita perlu bersatu guna memberikan oksigen baru, energi baru dalam pembinaan mualaf,” kata dia.

Redaktur: Didi Purwadi
Reporter: Agung Sasongko

Write a Reply or Comment