UMAT TANPA IMAM

Kaum muda yang mati dengan bom bunuh diri, di hotel, masjid atau gereja, sangat yakin dengan janji dan perintah dari pemimpin atau imam mereka. Begitu tingginya keyakinan mereka, seakan-akan sudah di taraf `ainulyaqin bahkan haqqulyaqin. Mereka awalnya adalah kaum muda yang semangat untuk menjalankan ajaran agama, sangat ingin berjihad untuk menggapai surga. Mereka mencari siapa yang pantas untuk dijadikan imam untuk tujuan-tujuan mulia ini, yang menurut mereka memiliki kesanggupan berbagi dan keberanian berkorban harta, nyawa dan kepentingan keluarga seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Ironisnya, menurut mereka, di Indonesia, kesanggupan berbagi dan keberanian berkorban tersebut tidak ada di semua imam-imam ormas Islam yang besar maupun kecil, apalagi di partai politik berlabel Islam. Mereka justru menemukannya pada diri imam-imam teroris dimana menjadi labuhan mereka sampai mati.

Kaum muda yang mati dengan bom bunuh diri, di hotel, masjid atau gereja, sangat yakin dengan janji dan perintah dari pemimpin atau imam mereka. Begitu tingginya keyakinan mereka, seakan-akan sudah di taraf `ainulyaqin bahkan haqqulyaqin. Mereka awalnya adalah kaum muda yang semangat untuk menjalankan ajaran agama, sangat ingin berjihad untuk menggapai surga. Mereka mencari siapa yang pantas untuk dijadikan imam untuk tujuan-tujuan mulia ini, yang menurut mereka memiliki kesanggupan berbagi dan keberanian berkorban harta, nyawa dan kepentingan keluarga seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Ironisnya, menurut mereka, di Indonesia, kesanggupan berbagi dan keberanian berkorban tersebut tidak ada di semua imam-imam ormas Islam yang besar maupun kecil, apalagi di partai politik berlabel Islam. Mereka justru menemukannya pada diri imam-imam teroris dimana menjadi labuhan mereka sampai mati.

Inilah yang sudah diingatkan oleh salah seorang ulama sufi Betawi terkemuka, almarhum KH. Abdurrahim Radjiun melalui khutbah Jum`at pada tanggal 30 Mei 2008 di Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC) yang seakan menjadi wasiat terakhir beliau untuk umat Islam dan menjadi bahan introspeksi bagi para imam, pemimpin umat, sebelum beliau diwafatkan pada hari Senin, 28 Juli 2008. Karena keterbatasan ruang, saya hanya memuat sebagian isi dari teks khutbahnya yang terkait dengan umat yang kehilangan imam yang ia beri judul Krisis Keimaman dan Pembangunan Keadaban Islami .Bagi pembaca yang berkenan untuk mendapatkan teks khutbah ini secara lengkap, dapat menghubungi JIC di 081314165949. Berikut sebagian isi teks khutbah tersebut:

“Kaum muslimin terbang dari satu ranting kehidupan ke ranting peluang lain, saling rebut dan silih kejar rejeki. Tak ada lagi belas kasih sesama untuk saling berbagi. Masing-masing hanya berpikir keselamatan dan kenyamanan sendiri. Mereka tidak terpimpin, karena tidak ada pemimpin di antaranya. Bagi mereka, pemimpin hanyalah orang-orang yang menginjak-injak bahunya menuju pucuk kekuasaan dan kesejahteraan keluarga dan kerabatnya sendiri.

Orang-orang cendikia yang satu-dua lahir dari tengah-tengah mereka, akan berjalan cepat atau bahkan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan kenangan pahit di desa asal, menuju kemajuan yang dijanjikan bagi yang mau menjauh dari tradisi dan akar kehidupannya.

Modernisme, materialisme, individualisme, eksklusivisme dan Islamisme, sudah menjadi perhitungan rasional, bagi kaum mapan yang harus menjaga imaji publik, bahwa mereka adalah orang-orang baik yang taat kepada segala bentuk persoalan normatif, utamanya persoalan-persoalan religi.

Orang-orang pintar yang lahir dari kantung umat, kini telah menjadi kaum industrialis, para produsen ummat sesuai permintaan pasar. Pada gilirannya, hasil perindustrian sumber daya manusia ini, di pasar terbuka hanya menjadi produk murahan yang tidak banyak diminati, dan tetap hidup terbelakang. Mereka, yang kemudian menjadi duafa perkotaan atau santeri pinggiran, kembali beterbangan bagai unggas, tak berpemimpin dan tidak terpimpin. Karena mereka sudah teramat paham bahwa para orang pintar itu hanyalah memimpin angan-angannya sendiri. Bahkan kepemimpinan mereka tidak untuk keluarganya sekalipun.

Para orang pintar itu sudah mustahil tercontoh dan terikuti oleh ummat, karena keluhuran martabat yang dinaiki adalah melalui pundak dan kepala para duafa kota atau santeri pinggir yang mereka lahirkan. Yang lebih menakutkan, bahwa di tangan para orang pintar ini, tergenggam hak veto untuk tetapkan sebuah keputusan final bagi nasib kaum yang dipimpinnya, tanpa memberi kesempatan berargumentasi.

Partai-partai yang terang-terangan berasaskan Islam dengan mempedomani al Quran dan as Sunnah, oleh para pendirinya diharap menjadi muara aspiratif umat dan akan berjuang bersama umat demi kepentingan umat; pada kenyataannya, perjuangan itu hanya menjadi kendaraan bagi individu-individu yang memburu mimpi besar mereka menuju pentas nasional. Pada akhirnya, para pemburu yang umumnya adalah barisan skolar muslim cemerlang yang diuntungkan oleh umat, itu, dihadang oleh dinding sistemik yang sangat kokoh dari Ormas-Orsospol yang jelas-jelas berseberangan dengan nilai-nilai Islami. Maka tak dapat dihindari, mereka telah menabur benih dilema, dengan beralih peran, dari seorang alim sarungan menjadi politisi yang setengah hati. Mereka takut menjadi orang besar di ruang kecil, dan memilih menjadi orang kecil di ruang besar. Walau sesungguhnya, ruang-ruang kecil yang mereka tinggalkan adalah kebesaran hakiki, yang tidak setara dengan ambisi fatamorganik yang mereka kejar. Kini, yang tersisa dari mereka hanyalah tampilan anekdotik yang cukup bagus untuk muncul dalam nightmare.

Dari sinilah terulangnya sejarah getir Uhud, bahwa dalih yang dikemukakan para sahabat ketika memburu ghanimah saat itu, telah memaksa bungkam Rasulullah saw, padahal dalih itu sekadar memenuhi hajat pribadi belaka, yang pada akhirnya hanya mencelakakan diri mereka, sehingga lengah dengan membiarkan seorang Utusan Allah terluka. Pada ruang dan waktu yang berbeda, kini sejumlah besar santeri meninggalkan garis kejuangan dan hengkang dari kantong-kantong yang telah mengasuh dan membesarkan mereka, untuk memburu peluang besar yang tersebar di seluruh areal perpolitikan. Setelah mereka terkurung sistem dan umat yang terpecah, maka dengan mudah lawan-lawan mereka membuat peta kekuatan dan sekaligus kelemahan para skolar yang panik itu.” ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Kerjasama Bank Sinarmas Syariah-ALIF

Read Next

Raja Saudi tak Peka Mekkah Dicap Bak Las Vegas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − 4 =