WAHAI PRIA, SUDAHKAH JADI AHLI MASJID?

shalat-131014c

JIC – Tafsir Surat An-Nur Ayat 36-38

“Di rumah-rumah yang diizinkan untuk diangkat dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang (36), laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (37). (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas (38).” (QS An-Nur [24]: 36-38)

Allah dan Rasul-Nya sangat mencintai rumah-rumah yang di dalamnya disebut nama-nama-Nya, khususnya masjid. Sebab, rumah-rumah itu dijauhkan dari urusan dunia dan semata dijadikan tempat zikir dan ibadah kepada Allah swt. Apa saja ciri-ciri masjid yang diberkahi oleh Allah? Dan bagaimana pula ciri-ciri orang yang bisa dikatakan sebagai ahli masjid?

Ciri Masjid

Di antara ciri-ciri masjid ialah, pertama, di dalamya diangkat dan disebut nama Allah swt. Jadi ketika sang hamba masuk masjid, ia masuk dalam rangka mengisi jiwanya dengan memperbanyak zikir kepada Allah, bukan untuk berbicara urusan dunia. Sungguh rugi orang yang ketika masuk masjid masih juga disibukkan oleh urusan dunia. Sampai kapan urusan dunia itu terus menggelayuti perasaannya, sehingga ia tidak pernah tenang dalam hidupnya?

Ingat, ketika kita memasuki masjid, sebenarnya itu saat-saat kita berpisah dengan urusan dunia sejenak sehingga cahaya iman dalam jiwa kita semakin kuat. Pertemuan antara cahaya iman dalam jiwa dengan cahaya masjid membuat kita diliputi oleh lapisan cahaya. Ini yang membuat sebagian ulama mengatakan, “Bila penduduk bumi melihat bintang-bintang bercahaya di langit maka sesungguhnya para malaikat melihat masjid-masjid di bumi pun bercahaya”. Benar, masjid-masjid bercahaya karena cahaya iman sang hamba yang selalu mengagungkan Allah di dalamnya. Di masjid itu juga selalu dikumandangkan takbir dan dijadikan tempat ibadah.

Kedua, di dalamnya dikumandangkan tasbih pada setiap pagi dan petang. Masjid sebenarnya dibangun untuk dijadikan tempat bertasbih. Karenanya sebagian ulama ketika hendak memasuki sebuah kampung mereka sengaja datang di luar jam shalat. Lalu yang pertama kali mereka lihat masjid. Bila ternyata masjid itu kosong, tidak ada orang yang bertasbih di dalamnya, mereka langsung meninggalkan kampung tersebut. Itu menunjukkan bahwa di kampung itu tidak ada keberkahan.

Kata “al ghuduw” artinya waktu pagi dan kata “al ashaal” artinya waktu sore. Dalam banyak hadits direkam bahwa Nabi Muhammad saw selalu melakukan zikir di waktu pagi dan sore. Keutamaannya antara lain, siapa yang membaca zikir dan tasbih tersebut di pagi hari akan dilindungi dari segala macam kejahatan, keburukan dan kemaksiatan sampai sore; dan siapa yang membacanya di sore hari akan dilindungi dari semua itu sampai pagi.

Ciri Ahli Masjid

Lalu pada ayat berikutnya Allah swt berfirman, “Laki-laki (orang-orang) yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” Dari ayat ini disebutkan ciri-ciri ahli masjid, yaitu:

>> Mereka tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah.

>> Menegakkan shalat. Artinya, dalam kesibukan berdagang ia tetap menjaga shalatnya dengan menegakkannya di awal waktu berjamaah di masjid. Ini ditegaskan oleh Allah, karena banyak orang mengira bahwa dengan menghentikan rapat atau menutup toko untuk shalat seakan telah kehilangan waktu produktif. Dengan kata lain, seolah mengalami kerugian sekian persen dari penghasilannya. Padahal tidak demikian cara menghitung keuntungan dalam ketaatan kepada Allah.

Sungguh, dalam mentaati Allah ada keberkahan. Itu tidak bisa ditukar dengan angka keuntungan. Boleh jadi, seorang yang tidak shalat dapat keuntungan banyak, tetapi rezekinya tidak berkah sehingga cepat habis untuk kebutuhan-kebutuah yang tidak ada gunanya. Dan boleh jadi pula, orang yang mengutamakan shalat tidak mendapatkan keuntungan yang banyak secara angka, tetapi Allah berikan keberkahan dalam hidupnya sehingga apa saja yang ia butuhkan terpenuhi.

Karakter Bisnis Ahli Masjid

Ada dua  sikap yang dimiliki oleh ahli masjid sehingga mereka tidak dilalaikan oleh perniagaan.

1. Sekalipun mereka sibuk dengan perniagaan dan jual beli, itu semua tidak membuat mereka lalai kepada Allah swt. Mereka masih sempat membaca Al-Qur’an di sela-sela kesibukannya, masih sempat menghentikan rapatnya saat waktu shalat tiba, lidah mereka tetap bertasbih dan berzikir sepanjang melakukan transaksi.

Perniagaan adalah kegiatan yang paling mudah membuat manusia lupa kepada Allah swt. Namun para ahli masjid, pada saat melakukan kegiatan tersebut, selalu dalam kondisi ingat Allah. Dulu para sahabat, ketika mereka di pasar, sering kali saling mengingatkan di antara mereka sambil mengatakan, “Istaghfirillah” (bacalah istighfar kepada Allah), “Sabbihillah” (bertasbihlah kepada Allah), dan sebagainya.

2. Apa pun keuntungan haram yang mengiurkan dalam usaha perniagaan dan jual beli, para ahli masjid tetap ingat panduan Allah swt. Mereka lebih memilih yang halal sekalipun sedikit dan menjauhi yang haram sekalipun banyak dan menggiurkan. Mereka selalu berhati-hati dari cara-cara yang Allah haramkan, meskipun semua orang di sekitarnya telah berlomba-lomba menggunakan cara haram.

Sumber ; ummi-online.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

LUAR BIASA, TERNYATA INILAH ARTI CINTA MENURUT AL QURAN

Read Next

SHAFIYYAH WANITA PERKASA YANG MENDIDIK ANAK DENGAN KETEGASAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 4 =