WARGA GOTONG ROYONG TUTUP LUBANG MAKAM TERDUGA TERORIS

Warga menolak karena salah satu warganya menjadi korban bom gereja.

JIC, SURABAYA — Warga Putat Jaya, RT 03/ RW 08, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Jawa Timur, menolak pemakaman jenazah pelaku teror yang melakukan pengeboman di tiga gereja di Surabaya. Akibatnya, tujuh liang lahat yang telah digali petugas dari Pemkot Surabaya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Putat Jaya, dikubur kembali warga sekitar secara bergotong royong.

Salah seorang warga, yang sekaligus penjaga depo sekitar TPU Putat Jaya, Bardi (36 tahun) menyatakan alasan warga sekitar menolak pemakaman jenazah terduga teroris. Warga tidak ingin di sekitarnya terdapat makam teroris.

“Alasannya teroris doang. Dan warga sini nggak mau dimakamkan di sini,” ujar pria yang akrab disapa Markoki saat ditemui Republika.co.id di sekitar TPU Putat Jaya, Jumat (18/5).

Markoki mengungkapkan, warga Putat Jaya semakin menolak pemakaman jenazah terduga teroris di TPU Putat Jaya lantaran, salah satu dari korban ledakan merupakan warga Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. Korban yang dimaksud adalah Daniel Agung Putra Kusuma.

Daniel merupakan salah satu korban meninggal dunia pada ledakan di Gereja Santa Maria tak Bercela, Jalan Ngagel, Surabaya. “Terus lagi di sini kan ada warga yang kena bom atau jadi korban bom. Itulah juga mengapa masyarakat menolak teroris itu dimakamkan di sini,” ujar Markoki.

Markoki mengungkapkan, situasi diperparah lantaran petugas dari Pemkot Surabaya yang menggali liang lahat untuk para terduga teroris tersebut tidak meminta izin RT, RW, Lurah, bahkan camat setempat. Mereka langsung menggali kubur tanpa meminta izin dari pihak pejabat setempat.

“Katanya kemarin yang gali itu nggak pamitan sama RT/RW, sama lurah nggak pamitan, sama camat nggak pamitan. Langsung saja ngeduk buat makam teroris. Ada tujuh lubang yang sudah digali tapi ditutup lagi oleh warga bergotong royong,” kata pria kelahiran Madura tersebut.

Ketua RW 8, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Nanang Sugiharto menegaskan, penolakan lantaran warga sekitar keberatan akan keberadaan makam jenazah di TPU Putat Jaya. Meskipun tempat pemakaman tersebut merupakan tempat pemakaman umum, namun dirasanya warga sekitar berhak menolak.

Ditambah, terduga teroris yang dimakamkan bukan merupakan warga asli Putat Jaya. Mereka bahkan ditolak dimakamkan warga tempat tertuga teroris berasal.

“Ya intinya warga saya keberatan (memakamkan jenazah terduga teroris di TPU Putat Jaya). Sedangkan dari pelaku sendiri di daerah tempat tinggalnya kan tidak diterima. Apalagi kami,” ujar Nanang.

Nanang juga menjelaskan, warga sekitar semakin menolak pemakaman jenazah terduga teroris di TPU Putat Jaya, lantaran salah satu korban ledakan merupakan warga sekitar. Jenazah korban ledakan bernama Daniel Agung Putra Kusuma juga dimakamkan di TPU Putat Jaya.

“Salah satu keberatannya karena salah satu korban ledakan bom di tiga gereja itu adalah warga kami atas nama Daniel Putra Kusuma. Kami sebagai warga Putat Jaya, Kecamatan Sawahan sangat keberatan,” kata Nanang.

 

Sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment